30.4 C
Manado
Jumat, 1 Juli 2022

Tenang, Positif Covid, Ibu Masih Bisa Menyusui Anak, Ini Penjelasan Dokter

MANADOPOST.ID–Ibu menyusui tetap bisa memberikan ASI meski sedang berstatus positif Covid-19. Maka ibu menyusui tak usah khawatir saat menyusui bayinya jika terinfeksi Covid-19.

Ketua Satgas ASI PP IDAI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A menjelaskan upaya dukungan yang aman menyusui di masa pandemi Covid-19.

Dia menegaskan regulasi perlindungan hak anak untuk mendapat ASI di Indonesia, yaitu Undang-undang No.34 tahun 2009 tentang Kesehatan. Data IDAI menyebut, 42 persen anak yang meninggal dan 447 anak di bawah 1 tahun dalam 17 bulan terakhir meninggal akibat terpapar Covid-19.

Menurut Elizabeth, ibu dengan Covid-19 bisa tetap menyusui. Caranya, ibu menyusui dengan protokol kesehatan seperti memakai masker saat menyusui dan merawat bayi, mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah memegang bayi, dan membersihkan dan mendisifeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan bayi.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Ibu dengan Covid-19 harus mendapatkan dukungan untuk menyusui dengan aman. IMD (Inisiasi Menyusu Dini) dan menyusui eksklusif membantu tumbuh kembang bayi secara optimal, melakukan IMD dengan kontak kulit dengan kulit saat ibu dan bayi dalam keadaan stabil. Jika ibu tidak kuat menyusui langsung, maka dapat memberikan ASI perah dengan protokol kesehatan Covid-19 saat memerah ASI,” ujarnya secara daring, Kamis (12/8).

Terdapat pula scientific brief pada 23 Juni 2020, dari 46 Ibu terpapar covid-19, didapatkan bayinya positif 13 orang, tapi 36 bayi negatif.

Kemudian kita lihat bagaimana dengan ASInya, bagaimana penularan dari ASI, ternyata hanya 3 ASI ibu tersebut terdapat virus dan 43 ASI ibu negatif virus. Dari 3 ASI Ibu yang positif tersebut ditemukan dua bayi negatif Covid-19, yaitu satu bayi ASI langsung dan satu bayi ASI perah.

Dengan demikian, kata dr. Elizabeth, tidak cukup data adanya transmisi Covid-19 melalui menyusui ASI. Kepatuhan terhadap pencegahan infeksi sangat penting untuk menghindari penularan dari ibu ke bayi.

Berdasarkan bukti-bukti penelitian yang ada, rekomendasi WHO untuk IMD dan tetap menyusui tetap berlaku pada Ibu dengan suspek dan terkonfirmasi Covid-19.

Dalam rangka pekan menyusui sedunia tahun 2021 bertema global ‘protect berastfeeding: a shared responsibility’, Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kartini Rustandi mengatakan ASI mengandung zat-zat yang diperlukan, terlebih kolustrum.

The Lancet Breastfeeding Series, 2016 menyatakan memberi ASI eksklusif dapat menurunkan angka kematian bayi akibat infeksi sebesar 88 persen. ASI mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Kartini menambahkan, menyusui menjadi tantangan berat bagi seorang ibu jika keluarga, lingkungan, dan tempat kerja kurang pemahaman mengenai pentingnya ASI.

“Sementara untuk ibu, menyusui menurunkan risiko ibu dari kanker payudara dan rahim,” ujar Kartini dalam webinar ‘Menyusui Saat Pandemi: Dukungan untuk Ibu, Perlindungan untuk Keluarga’, Kamis (12/8).

Pakar Kesehatan dari Pusat Inovasi Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Dinar Saurmauli Lubis, memaparkan langkah menuju keberhasilan menyusui. Misalnya terdapat kebijakan tertulis tentang pemberian ASI yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua staf fasilitas kesehatan, petugas kesehatan terlatih dalam hal pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menolong menyusui.

“Menyusui dilakukan dari bayi lahir hingga umur 2 tahun, tidak memberi makanan atau minuman apapun selama ASI kepada bayi baru lahir, kecuali indikasi medis. Selain itu, tidak memberikan dot atau empeng untuk bayi yang disusui,” tutur Dinar.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Ibu menyusui tetap bisa memberikan ASI meski sedang berstatus positif Covid-19. Maka ibu menyusui tak usah khawatir saat menyusui bayinya jika terinfeksi Covid-19.

Ketua Satgas ASI PP IDAI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A menjelaskan upaya dukungan yang aman menyusui di masa pandemi Covid-19.

Dia menegaskan regulasi perlindungan hak anak untuk mendapat ASI di Indonesia, yaitu Undang-undang No.34 tahun 2009 tentang Kesehatan. Data IDAI menyebut, 42 persen anak yang meninggal dan 447 anak di bawah 1 tahun dalam 17 bulan terakhir meninggal akibat terpapar Covid-19.

Menurut Elizabeth, ibu dengan Covid-19 bisa tetap menyusui. Caranya, ibu menyusui dengan protokol kesehatan seperti memakai masker saat menyusui dan merawat bayi, mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah memegang bayi, dan membersihkan dan mendisifeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan bayi.

“Ibu dengan Covid-19 harus mendapatkan dukungan untuk menyusui dengan aman. IMD (Inisiasi Menyusu Dini) dan menyusui eksklusif membantu tumbuh kembang bayi secara optimal, melakukan IMD dengan kontak kulit dengan kulit saat ibu dan bayi dalam keadaan stabil. Jika ibu tidak kuat menyusui langsung, maka dapat memberikan ASI perah dengan protokol kesehatan Covid-19 saat memerah ASI,” ujarnya secara daring, Kamis (12/8).

Terdapat pula scientific brief pada 23 Juni 2020, dari 46 Ibu terpapar covid-19, didapatkan bayinya positif 13 orang, tapi 36 bayi negatif.

Kemudian kita lihat bagaimana dengan ASInya, bagaimana penularan dari ASI, ternyata hanya 3 ASI ibu tersebut terdapat virus dan 43 ASI ibu negatif virus. Dari 3 ASI Ibu yang positif tersebut ditemukan dua bayi negatif Covid-19, yaitu satu bayi ASI langsung dan satu bayi ASI perah.

Dengan demikian, kata dr. Elizabeth, tidak cukup data adanya transmisi Covid-19 melalui menyusui ASI. Kepatuhan terhadap pencegahan infeksi sangat penting untuk menghindari penularan dari ibu ke bayi.

Berdasarkan bukti-bukti penelitian yang ada, rekomendasi WHO untuk IMD dan tetap menyusui tetap berlaku pada Ibu dengan suspek dan terkonfirmasi Covid-19.

Dalam rangka pekan menyusui sedunia tahun 2021 bertema global ‘protect berastfeeding: a shared responsibility’, Plt Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kartini Rustandi mengatakan ASI mengandung zat-zat yang diperlukan, terlebih kolustrum.

The Lancet Breastfeeding Series, 2016 menyatakan memberi ASI eksklusif dapat menurunkan angka kematian bayi akibat infeksi sebesar 88 persen. ASI mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Kartini menambahkan, menyusui menjadi tantangan berat bagi seorang ibu jika keluarga, lingkungan, dan tempat kerja kurang pemahaman mengenai pentingnya ASI.

“Sementara untuk ibu, menyusui menurunkan risiko ibu dari kanker payudara dan rahim,” ujar Kartini dalam webinar ‘Menyusui Saat Pandemi: Dukungan untuk Ibu, Perlindungan untuk Keluarga’, Kamis (12/8).

Pakar Kesehatan dari Pusat Inovasi Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Dinar Saurmauli Lubis, memaparkan langkah menuju keberhasilan menyusui. Misalnya terdapat kebijakan tertulis tentang pemberian ASI yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua staf fasilitas kesehatan, petugas kesehatan terlatih dalam hal pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menolong menyusui.

“Menyusui dilakukan dari bayi lahir hingga umur 2 tahun, tidak memberi makanan atau minuman apapun selama ASI kepada bayi baru lahir, kecuali indikasi medis. Selain itu, tidak memberikan dot atau empeng untuk bayi yang disusui,” tutur Dinar.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/