32.4 C
Manado
Rabu, 17 Agustus 2022

Belajar dari YouTube, Kini Liny Tambajong Bisa Panen Strawberry California di Kebun Rumah

MANADOPOST.ID – Gairah orang untuk bertanam memang lagi heboh-hebohnya sejak pagebluk korona. Durasi waktu yang lebih banyak dihabiskan di rumah menjadi salah satu pemicu utama. Banyak orang yang akhirnya gemar dengan kegiatan rumahan seperti tanam-menanam. Termasuk, Liny Tambajong.

Sejak awal April 2020, Liny mulai menyemai bibit sayur. Bibit ia beli secara online. Kadang dapat dari temannya. “Saya tidak ada basic bertani. Makanya semua proses, dari menyemai dan bertanam hanya nonton di YouTube,” beber Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Manado ini.

Luas kebun milik Liny seadanya. Hanya 225 meter persegi. “Saya memakai sistem vertical garden dan bedengan tanah. Tanamannya banyak sekali dengan jenis berbeda-beda. Semua ditanam secara bergantian. Rata-rata 45 hari setelah tanam sudah bisa dipanen,” jelas perempuan 55 tahun ini.

Total tanaman yang sudah ditanam Liny kurang lebih 30 jenis. Namun dari puluhan tanaman tersebut, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah strawberry. Beberapa pekan lalu, ia memanen perdana buah yang kerap tumbuh di daerah dingin itu. Awalnya ia coba menyemai bibit, langsung dari buahnya dan juga dari kemasan. Sayangnya gagal. Tak patah semangat, Liny akhirnya membeli bibit jenis strawberry California di Bandung.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Saya tanam bibitnya di sepanjang talang air dengan media tanam tanah dicampur kompos. Nanti rutin pakai pupuk tiap Sabtu. Ditunggu sampai nampak buahnya melalui sulur-sulur di setiap pohon,” sebutnya. Usahanya tak sia-sia. Di rumahnya di daerah Teling Atas, strawberry bisa tumbuh subur. “Sekarang lebih diperbanyak lagi,” imbuh dia.

Selain rutin dirawat, kunci sukses bertanam ala Liny datang dari pupuk organik cair (POC) dari produksi sendiri. Ia memakai olahan dari sisa-sisa bahan organik dapur. Seperti sayuran bekas, kulit buah dicampur dengan air cucian beras dan sisa pembersihan ikan. “Karena sayuran saya semua organik, jadi tidak pernah disemprot dengan insektisida. Jadi bebas dari unsur kimia,” bebernya.

Setelah beberapa bulan melakoni hobi berkebun, siapa sangka ini menjadi ‘ladang’ bisnis baru baginya. Hasil panen bisa ia jual. Ada pula yang langsung dibawa ke dapur. Diolah lagi menjadi makanan dan dijual. “Saya juga menjual compost growing bag secara online. Semuanya terisi dengan sampah organik dapur, sisa sayuran dan kumpulan daun kering dari hasil menyapu halaman. Kompos organik ini penting dalam campuran tanah,” ungkap Liny.

Namun untuk bisa punya ragam sayuran di kebun seperti milik Liny, harus siap juga menghadapi tantangan. Mulai dari serangan hama sampai waktu untuk merawat tanaman. “Tiap hari bangun pagi saya kontrol tanamannya. Ya sekalian bisa ikut berjemur matahari pagi. Tapi, pasti akan ada kebanggaan tersendiri saat melihat hasil tanaman sendiri,” tukasnya. (tkg)

MANADOPOST.ID – Gairah orang untuk bertanam memang lagi heboh-hebohnya sejak pagebluk korona. Durasi waktu yang lebih banyak dihabiskan di rumah menjadi salah satu pemicu utama. Banyak orang yang akhirnya gemar dengan kegiatan rumahan seperti tanam-menanam. Termasuk, Liny Tambajong.

Sejak awal April 2020, Liny mulai menyemai bibit sayur. Bibit ia beli secara online. Kadang dapat dari temannya. “Saya tidak ada basic bertani. Makanya semua proses, dari menyemai dan bertanam hanya nonton di YouTube,” beber Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Manado ini.

Luas kebun milik Liny seadanya. Hanya 225 meter persegi. “Saya memakai sistem vertical garden dan bedengan tanah. Tanamannya banyak sekali dengan jenis berbeda-beda. Semua ditanam secara bergantian. Rata-rata 45 hari setelah tanam sudah bisa dipanen,” jelas perempuan 55 tahun ini.

Total tanaman yang sudah ditanam Liny kurang lebih 30 jenis. Namun dari puluhan tanaman tersebut, salah satu yang paling mencuri perhatian adalah strawberry. Beberapa pekan lalu, ia memanen perdana buah yang kerap tumbuh di daerah dingin itu. Awalnya ia coba menyemai bibit, langsung dari buahnya dan juga dari kemasan. Sayangnya gagal. Tak patah semangat, Liny akhirnya membeli bibit jenis strawberry California di Bandung.

“Saya tanam bibitnya di sepanjang talang air dengan media tanam tanah dicampur kompos. Nanti rutin pakai pupuk tiap Sabtu. Ditunggu sampai nampak buahnya melalui sulur-sulur di setiap pohon,” sebutnya. Usahanya tak sia-sia. Di rumahnya di daerah Teling Atas, strawberry bisa tumbuh subur. “Sekarang lebih diperbanyak lagi,” imbuh dia.

Selain rutin dirawat, kunci sukses bertanam ala Liny datang dari pupuk organik cair (POC) dari produksi sendiri. Ia memakai olahan dari sisa-sisa bahan organik dapur. Seperti sayuran bekas, kulit buah dicampur dengan air cucian beras dan sisa pembersihan ikan. “Karena sayuran saya semua organik, jadi tidak pernah disemprot dengan insektisida. Jadi bebas dari unsur kimia,” bebernya.

Setelah beberapa bulan melakoni hobi berkebun, siapa sangka ini menjadi ‘ladang’ bisnis baru baginya. Hasil panen bisa ia jual. Ada pula yang langsung dibawa ke dapur. Diolah lagi menjadi makanan dan dijual. “Saya juga menjual compost growing bag secara online. Semuanya terisi dengan sampah organik dapur, sisa sayuran dan kumpulan daun kering dari hasil menyapu halaman. Kompos organik ini penting dalam campuran tanah,” ungkap Liny.

Namun untuk bisa punya ragam sayuran di kebun seperti milik Liny, harus siap juga menghadapi tantangan. Mulai dari serangan hama sampai waktu untuk merawat tanaman. “Tiap hari bangun pagi saya kontrol tanamannya. Ya sekalian bisa ikut berjemur matahari pagi. Tapi, pasti akan ada kebanggaan tersendiri saat melihat hasil tanaman sendiri,” tukasnya. (tkg)

Most Read

Artikel Terbaru

/