alexametrics
25.4 C
Manado
Sabtu, 21 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Mengolah Limbah Rumah Tangga Menjadi Ekoenzim

Oleh:
Prof Dr dr Grace Debbie Kandou MKes dan Tim

SAMPAH padat perkotaan atau Municipal Solid Waste (MSW) merupakan salah satu hasil aktivitas manusia. Setiap orang di negara tropis menghasilkan 0,3 – 1,0 kg/hari sampah. Pertambahan penduduk diperkirakan akan meningkat dan akan terkonsentrasi di daerah perkotaan. Hal ini dikarenakan kawasan perkotaan merupakan tempat yang sangat menarik bagi masyarakat untuk mengembangkan kehidupan sosial ekonomi.

Akibat dari semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya di perkotaan maka akan meningkatkan jumlah buangan/limbah yang dihasilkan. Khusus untuk sampah atau limbah padat rumah tangga, peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia diperkirakan akan bertambah 5 kali lipat pada tahun 2020 (Mungkasa, 2004).

Limbah domestik yang menumpuk, baik itu limbah cair maupun limbah padat menjadi permasalahan lingkungan karena secara kuantitas maupun tingkat bahayanya mengganggu kesehatan manusia, mencemari lingkungan, dan mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya. Hingga saat ini, penanganan dan pengelolaan sampah masih belum optimal.

Baru 68,5% sampah di daerah perkotaan yang diangkut petugas, 11% sampah di timbun/dibakar, 6,15% sampah dibuat kompos, dan 14,35% sampah dibuang ke sungai/sembarangan. Sementara untuk di daerah pedesaan, sebanyak 19% sampah diangkut oleh petugas, 54% sampah ditimbun/dibakar, 7% sampah dibuat kompos, dan 20% dibuang ke sungai/sembarangan (Nisandi, 2007).

Jika pengelolaan sampah tersebut tetap tidak ditangani dengan baik akan dapat menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan gangguan kesehatan missalnya, penanganan sampah yang tidak baik dapat menyebabkan timbunan sampah yang dapat menjadi sumber kebakaran dan bahaya kesehatan yang serius bagi anak-anak yang bermain di dekatnya. Kumpulan sampah menjadi tempat pembiakan lalat, dan lalat ini mendorong penularan infeksi, dapat menimbulkan penyakit yang terkait dengan tikus, seperti pes, leptospirosis, salmonellosis, tikus endemik, demam (Purnama, 2016).

Tahun 2003, seorang doktor dari Thailand menerima penghargaan dari FAO (lembaga PBB yang mengurus soal pangan) Regional Thailand untuk penemuannya yang bernama eco-enzyme. Dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya ekoenzim. Penemuan ini merupakan suatu upaya yang dilakukan Dr. Rosukon Poompanvong bagi lingkungan dengan membantu para petani setempat untuk memperoleh hasil panen yang lebih baik sekaligus ramah lingkungan.

Ekoenzim memiliki manfaat yang berlipat ganda. Dengan memanfaatkan sampah organik sebagai bahan bakunya, kemudian dicampur dengan gula aren dan air, proses fermentasinya menghasilkan gas 03 (ozon) dan hasil akhirnya adalah cairan pembersih serta pupuk yang ramah lingkungan (Suswanto, Dewi, & Wilany, 2018).

Pertumbuhan penduduk Kota Manado setiap tahun mengalami peningkatan, dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 1,1% (BPS Kota Manado, 2011). Bertambahnya penduduk berarti meningkat pula tingkat kepadatan penduduk di Kota Manado, sementara itu luasan lahan permukiman semakin menyempit sebagai konsekuensi meningkatnya jumlah penduduk.

Bertambahnya penduduk juga menyebabkan produksi sampah dan air limbah meningkat, dimana bila sarana dan prasarana sanitasi belum tersedia secara memadai yang akan berdampak buruk terhadap kesehatan lingkungan seperti meningkatnya angka kesakitan dan bahkan angka kematian bayi (POKJA Sanitasi Kota Manado, 2015).

Ekoenzim adalah cairan alami serba guna, yang merupakan hasil fermentasi dari Gula (gula merah atau fruktose), sisa buah/sayuran (kulit buah, potongan sayuran, sisa buah gigitan kelelawar, dll), dan air (air keran, air hujan, air buangan AC, dll) dengan perbandingan 1:3:10. Lama pembuatan ekoenzim adalah 3 bulan di wilayah tropis, dan 6 bulan di wilayah sub-tropis, karena Indonesia termasuk dalam wilayah tropis maka pembuatan ekoenzim menjadi lebih cepat.

Hasil akhirnya adalah cairan berwarna kecoklatan dengan aroma asam segar. Warna Ekoenzim bervariasi dari coklat muda hingga coklat tua, bergantung pada jenis sisa buah / sayuran dan jenis gula yang digunakan (Eco Enzyme Nusantara, 2020).

Alasan mengapa ekoenzim perlu diperkenalkan kepada masyarakat antara lain 70% sampah yang terbuang di TPA adalah sampah organik termasuk sampah di Kota Manado. Sampah organik di TPA menimbulkan bau tidak sedap di lingkungan, mengurangi tingkat daurulang plastik, serta memberi resiko terjadinya ledakan TPA. Pembusukan sampah organik juga menghasilkan gas metana. Dengan membuat Ekoenzim, kita telah mengolah sebagian besar sampah kita dan mengurangi beban TPA.

Kemudian Produk yang kita gunakan di rumah sebagian besar mengandung bahan kimia sintetis yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Kemasan dari produk-produk tersebut juga mencemari lingkungan, karena hanya sebagian kecil yang didaur ulang. Ekoenzim adalah alternatif alami dari bahan kimia sintetis berbahaya di rumah. Dengan membuat Ekoenzim, kita mengurangi produksi limbah kimia sintetis dan sampah plastik sisa kemasan produk rumah tangga pabrikan. Dengan membuat Ekoenzim, kita telah berpartisipasi mengurangi beban Bumi sekaligus menerapkan gaya hidup minim kimia sintetis (Eco Enzyme Nusantara, 2020).

Langkah pembuatan ekoenzim yaitu : 1) Bersihkan wadah dari sisa sabun atau bahan kimia, 2) Ukur volume wadah, 3) Masukkan air bersih sebanyak 60% volume wadah, 4) Masukkan gula sesuai takaran, yaitu 10% dari berat air, 5) Masukkan potongan sisa buah dan sayuran, yaitu 30% dari berat air, lalu aduk rata, 6) Wadah ditutup rapat, 7) Berikan label tanggal pembuatan dan tanggal panen, 8) Selama 1 minggu pertama, buka tutup wadah untuk membuang gas, 9) Aduk di hari ke-7, 10) Aduk di hari ke-30 (kecuali jika ada Mama Enzyme) (Eco Enzyme Nusantara, 2020).

Manfaat ekoenzim antara lain bisa digunakan sebagai karbol dan pembersih alami, sabun cair alami, penjernih udara alami, pembersih rumah tangga alami dan hand sanitizer alami. Ekoenzim juga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas udara, air, dan tanah. Manfaat kesehatan Ekoenzim yaitu mampu melawan parasit dan kuman yang menyebabkan infeksi dalam jantung, keputihan, radang otak, radang paru-paru, peradangan sendi, Infeksi kulit dan lain lain (Eco Enzyme Nusantara, 2020).

Mari bersama kita mulai memanfaatkan limbah rumah tangga yang ada di sekitar kita dalam rangka mengurangi pencemaran lingkungan yang terjadi dan membantu menjaga kelestarian Bumi untuk anak dan cucu kita di masa depan.(*)

Oleh:
Prof Dr dr Grace Debbie Kandou MKes dan Tim

SAMPAH padat perkotaan atau Municipal Solid Waste (MSW) merupakan salah satu hasil aktivitas manusia. Setiap orang di negara tropis menghasilkan 0,3 – 1,0 kg/hari sampah. Pertambahan penduduk diperkirakan akan meningkat dan akan terkonsentrasi di daerah perkotaan. Hal ini dikarenakan kawasan perkotaan merupakan tempat yang sangat menarik bagi masyarakat untuk mengembangkan kehidupan sosial ekonomi.

Akibat dari semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya di perkotaan maka akan meningkatkan jumlah buangan/limbah yang dihasilkan. Khusus untuk sampah atau limbah padat rumah tangga, peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan di Indonesia diperkirakan akan bertambah 5 kali lipat pada tahun 2020 (Mungkasa, 2004).

Limbah domestik yang menumpuk, baik itu limbah cair maupun limbah padat menjadi permasalahan lingkungan karena secara kuantitas maupun tingkat bahayanya mengganggu kesehatan manusia, mencemari lingkungan, dan mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya. Hingga saat ini, penanganan dan pengelolaan sampah masih belum optimal.

Baru 68,5% sampah di daerah perkotaan yang diangkut petugas, 11% sampah di timbun/dibakar, 6,15% sampah dibuat kompos, dan 14,35% sampah dibuang ke sungai/sembarangan. Sementara untuk di daerah pedesaan, sebanyak 19% sampah diangkut oleh petugas, 54% sampah ditimbun/dibakar, 7% sampah dibuat kompos, dan 20% dibuang ke sungai/sembarangan (Nisandi, 2007).

Jika pengelolaan sampah tersebut tetap tidak ditangani dengan baik akan dapat menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan gangguan kesehatan missalnya, penanganan sampah yang tidak baik dapat menyebabkan timbunan sampah yang dapat menjadi sumber kebakaran dan bahaya kesehatan yang serius bagi anak-anak yang bermain di dekatnya. Kumpulan sampah menjadi tempat pembiakan lalat, dan lalat ini mendorong penularan infeksi, dapat menimbulkan penyakit yang terkait dengan tikus, seperti pes, leptospirosis, salmonellosis, tikus endemik, demam (Purnama, 2016).

Tahun 2003, seorang doktor dari Thailand menerima penghargaan dari FAO (lembaga PBB yang mengurus soal pangan) Regional Thailand untuk penemuannya yang bernama eco-enzyme. Dalam bahasa Indonesia kita menyebutnya ekoenzim. Penemuan ini merupakan suatu upaya yang dilakukan Dr. Rosukon Poompanvong bagi lingkungan dengan membantu para petani setempat untuk memperoleh hasil panen yang lebih baik sekaligus ramah lingkungan.

Ekoenzim memiliki manfaat yang berlipat ganda. Dengan memanfaatkan sampah organik sebagai bahan bakunya, kemudian dicampur dengan gula aren dan air, proses fermentasinya menghasilkan gas 03 (ozon) dan hasil akhirnya adalah cairan pembersih serta pupuk yang ramah lingkungan (Suswanto, Dewi, & Wilany, 2018).

Pertumbuhan penduduk Kota Manado setiap tahun mengalami peningkatan, dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 1,1% (BPS Kota Manado, 2011). Bertambahnya penduduk berarti meningkat pula tingkat kepadatan penduduk di Kota Manado, sementara itu luasan lahan permukiman semakin menyempit sebagai konsekuensi meningkatnya jumlah penduduk.

Bertambahnya penduduk juga menyebabkan produksi sampah dan air limbah meningkat, dimana bila sarana dan prasarana sanitasi belum tersedia secara memadai yang akan berdampak buruk terhadap kesehatan lingkungan seperti meningkatnya angka kesakitan dan bahkan angka kematian bayi (POKJA Sanitasi Kota Manado, 2015).

Ekoenzim adalah cairan alami serba guna, yang merupakan hasil fermentasi dari Gula (gula merah atau fruktose), sisa buah/sayuran (kulit buah, potongan sayuran, sisa buah gigitan kelelawar, dll), dan air (air keran, air hujan, air buangan AC, dll) dengan perbandingan 1:3:10. Lama pembuatan ekoenzim adalah 3 bulan di wilayah tropis, dan 6 bulan di wilayah sub-tropis, karena Indonesia termasuk dalam wilayah tropis maka pembuatan ekoenzim menjadi lebih cepat.

Hasil akhirnya adalah cairan berwarna kecoklatan dengan aroma asam segar. Warna Ekoenzim bervariasi dari coklat muda hingga coklat tua, bergantung pada jenis sisa buah / sayuran dan jenis gula yang digunakan (Eco Enzyme Nusantara, 2020).

Alasan mengapa ekoenzim perlu diperkenalkan kepada masyarakat antara lain 70% sampah yang terbuang di TPA adalah sampah organik termasuk sampah di Kota Manado. Sampah organik di TPA menimbulkan bau tidak sedap di lingkungan, mengurangi tingkat daurulang plastik, serta memberi resiko terjadinya ledakan TPA. Pembusukan sampah organik juga menghasilkan gas metana. Dengan membuat Ekoenzim, kita telah mengolah sebagian besar sampah kita dan mengurangi beban TPA.

Kemudian Produk yang kita gunakan di rumah sebagian besar mengandung bahan kimia sintetis yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Kemasan dari produk-produk tersebut juga mencemari lingkungan, karena hanya sebagian kecil yang didaur ulang. Ekoenzim adalah alternatif alami dari bahan kimia sintetis berbahaya di rumah. Dengan membuat Ekoenzim, kita mengurangi produksi limbah kimia sintetis dan sampah plastik sisa kemasan produk rumah tangga pabrikan. Dengan membuat Ekoenzim, kita telah berpartisipasi mengurangi beban Bumi sekaligus menerapkan gaya hidup minim kimia sintetis (Eco Enzyme Nusantara, 2020).

Langkah pembuatan ekoenzim yaitu : 1) Bersihkan wadah dari sisa sabun atau bahan kimia, 2) Ukur volume wadah, 3) Masukkan air bersih sebanyak 60% volume wadah, 4) Masukkan gula sesuai takaran, yaitu 10% dari berat air, 5) Masukkan potongan sisa buah dan sayuran, yaitu 30% dari berat air, lalu aduk rata, 6) Wadah ditutup rapat, 7) Berikan label tanggal pembuatan dan tanggal panen, 8) Selama 1 minggu pertama, buka tutup wadah untuk membuang gas, 9) Aduk di hari ke-7, 10) Aduk di hari ke-30 (kecuali jika ada Mama Enzyme) (Eco Enzyme Nusantara, 2020).

Manfaat ekoenzim antara lain bisa digunakan sebagai karbol dan pembersih alami, sabun cair alami, penjernih udara alami, pembersih rumah tangga alami dan hand sanitizer alami. Ekoenzim juga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas udara, air, dan tanah. Manfaat kesehatan Ekoenzim yaitu mampu melawan parasit dan kuman yang menyebabkan infeksi dalam jantung, keputihan, radang otak, radang paru-paru, peradangan sendi, Infeksi kulit dan lain lain (Eco Enzyme Nusantara, 2020).

Mari bersama kita mulai memanfaatkan limbah rumah tangga yang ada di sekitar kita dalam rangka mengurangi pencemaran lingkungan yang terjadi dan membantu menjaga kelestarian Bumi untuk anak dan cucu kita di masa depan.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/