24.4 C
Manado
Jumat, 1 Juli 2022

Banner Mobile (Anymind)

Baju Diantar ke Rumah Dinas Wali Kota Bitung, Hasil Konfrontir Kejaksaan Tetap Beda Keterangan

- Advertisement -

BITUNG, MANADOPOST.JAWAPOS.COM – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Bitung berhasil mengkonfrontir pernyataan saksi yang berbeda dalam pemeriksaan, Senin (15/3) kemarin. Hal ini terkait dugaan kasus korupsi di Dinas Penanaman Modal dan PTSP Bitung. Terlebih khusus, soal pengadaan makloon baju Korpri untuk Ketua TP PKK Bitung.

Namun, dari hasil konfrontir tersebut tetap terjadi perbedaan keterangan. Terutama antara saksi Khouni Lomban-Rawung, istri wali kota Bitung dengan dua saksi lainnya. Hal itu diungkapkan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bitung Frenkie Son SH MM MH, melalui Kasi Pidsus Andreas Atmaji.

“Saksi-saksi datang sekira pukul 11.00 lebih atas nama ibu Titi selaku mantan bendahara, Pingkan dulunya salah satu kabid (di Dinas Penanaman Modal dan PTSP Bitung, Red), dan ibu wali kota,” ujarnya kepada wartawan saat diwawancarai di depan Kantor Kejari Bitung.

Menurut Atmaji, sebenarnya empat orang yang akan diperiksa, termasuk tersangka AGT alias Handri. Tapi yang bersangkutan menolak hadir.

- Advertisement -

“Sebenarnya empat orang tapi tersangka tidak hadir. Yang bersangkutan menolak untuk hadir karena sudah melakukan praperadilan,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, semua saksi masih konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Jadi perbedaan keterangan tetap terjadi.

“Ibu Titi dan Pingkan tetap pada keterangannya. Yang mana Ibu Titi memberikan uang Rp 500 ribu untuk makloon yang diterima ibu Pingkan. Kemudian ibu Pingkan pergi ke tukang jahit memesankan baju. Kemudian baju itu diantarkan ke rumah dinas jabatan yang diterima Oma Adin,” jelasnya.

Dari hasil klarifikasi, lanjut dia, Oma Adin ternyata kerabat dari Wali Kota Bitung Maximiliaan Jonas Lomban.

“Tapi setelah konfrontir kepada ibu wali, ibu wali merasa tidak pernah menerima baju atau memesan. Artinya tetap pada keterangannya sebelumnya,” katanya.

Namun, Atmaji mengatakan, dari hasil itu pihaknya bisa berkesimpulan bahwa penyerahan uang dan proses pemesanan benar adanya.

“Dan baju itu benar diantarkan ke rumah jabatan wali kota. Hanya ibu wali membantah,” paparnya.

Terkait ada saksi yang memberikan keterangan palsu, dia menjelaskan, nantinya akan dibuktikan di pengadilan.

“Soal saksi palsu kita coba di persidangan. Kesaksian palsu harus diuji. Jadi harus dihubungkan. Kalo menyimpang sendiri (keterangannya) berarti baru saksi palsu. Setiap orang bebas memberikan keterangan. Dan kita akan uji di persidangan,” terangnya.

Dia juga mengatakan, ada kemungkinan perubahan keterangan atau kesaksian saat di pengadilan.

“Potensi ada. Tapi soal palsu atau tidak, finalnya di persidangan. Barang kali karena sudah disumpah di depan persidangan berubah keterangannya. Lebih asyik lagi. Mungkin ada hal-hal lain yang diungkap di persidangan,” katanya.

Terkait kemungkinan akan diperiksa Oma Adin, dia menerangkan, menunggu perkembangan selanjutnya termasuk seberapa urgen.

“Nanti perkembangan kita lihat. Urgensinya sejauh mana Oma Adin ini kita ambil keterangan. Karena sebenarnya dari saksi dua saja memang benar adanya. Sederhana tidak perlu repot-repot. Uang betul dikeluarkan, baju benar diadakan, dan memang betul diserahkan. Meski tidak diserahkan ke tangan yang bersangkutan, tapi patut diduga. Dan itu kita akan buktikan di persidangan,” urainya.

Atmaji menambahkan, progres kasus sudah 80 persen. Namun karena ada praperdilan akan tertunda sedikit. “Karena ada praperadilan terulur sedikit waktunya,” katanya. (can)

 

BITUNG, MANADOPOST.JAWAPOS.COM – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Bitung berhasil mengkonfrontir pernyataan saksi yang berbeda dalam pemeriksaan, Senin (15/3) kemarin. Hal ini terkait dugaan kasus korupsi di Dinas Penanaman Modal dan PTSP Bitung. Terlebih khusus, soal pengadaan makloon baju Korpri untuk Ketua TP PKK Bitung.

Namun, dari hasil konfrontir tersebut tetap terjadi perbedaan keterangan. Terutama antara saksi Khouni Lomban-Rawung, istri wali kota Bitung dengan dua saksi lainnya. Hal itu diungkapkan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bitung Frenkie Son SH MM MH, melalui Kasi Pidsus Andreas Atmaji.

“Saksi-saksi datang sekira pukul 11.00 lebih atas nama ibu Titi selaku mantan bendahara, Pingkan dulunya salah satu kabid (di Dinas Penanaman Modal dan PTSP Bitung, Red), dan ibu wali kota,” ujarnya kepada wartawan saat diwawancarai di depan Kantor Kejari Bitung.

Menurut Atmaji, sebenarnya empat orang yang akan diperiksa, termasuk tersangka AGT alias Handri. Tapi yang bersangkutan menolak hadir.

“Sebenarnya empat orang tapi tersangka tidak hadir. Yang bersangkutan menolak untuk hadir karena sudah melakukan praperadilan,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, semua saksi masih konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Jadi perbedaan keterangan tetap terjadi.

“Ibu Titi dan Pingkan tetap pada keterangannya. Yang mana Ibu Titi memberikan uang Rp 500 ribu untuk makloon yang diterima ibu Pingkan. Kemudian ibu Pingkan pergi ke tukang jahit memesankan baju. Kemudian baju itu diantarkan ke rumah dinas jabatan yang diterima Oma Adin,” jelasnya.

Dari hasil klarifikasi, lanjut dia, Oma Adin ternyata kerabat dari Wali Kota Bitung Maximiliaan Jonas Lomban.

“Tapi setelah konfrontir kepada ibu wali, ibu wali merasa tidak pernah menerima baju atau memesan. Artinya tetap pada keterangannya sebelumnya,” katanya.

Namun, Atmaji mengatakan, dari hasil itu pihaknya bisa berkesimpulan bahwa penyerahan uang dan proses pemesanan benar adanya.

“Dan baju itu benar diantarkan ke rumah jabatan wali kota. Hanya ibu wali membantah,” paparnya.

Terkait ada saksi yang memberikan keterangan palsu, dia menjelaskan, nantinya akan dibuktikan di pengadilan.

“Soal saksi palsu kita coba di persidangan. Kesaksian palsu harus diuji. Jadi harus dihubungkan. Kalo menyimpang sendiri (keterangannya) berarti baru saksi palsu. Setiap orang bebas memberikan keterangan. Dan kita akan uji di persidangan,” terangnya.

Dia juga mengatakan, ada kemungkinan perubahan keterangan atau kesaksian saat di pengadilan.

“Potensi ada. Tapi soal palsu atau tidak, finalnya di persidangan. Barang kali karena sudah disumpah di depan persidangan berubah keterangannya. Lebih asyik lagi. Mungkin ada hal-hal lain yang diungkap di persidangan,” katanya.

Terkait kemungkinan akan diperiksa Oma Adin, dia menerangkan, menunggu perkembangan selanjutnya termasuk seberapa urgen.

“Nanti perkembangan kita lihat. Urgensinya sejauh mana Oma Adin ini kita ambil keterangan. Karena sebenarnya dari saksi dua saja memang benar adanya. Sederhana tidak perlu repot-repot. Uang betul dikeluarkan, baju benar diadakan, dan memang betul diserahkan. Meski tidak diserahkan ke tangan yang bersangkutan, tapi patut diduga. Dan itu kita akan buktikan di persidangan,” urainya.

Atmaji menambahkan, progres kasus sudah 80 persen. Namun karena ada praperdilan akan tertunda sedikit. “Karena ada praperadilan terulur sedikit waktunya,” katanya. (can)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/