26.4 C
Manado
Selasa, 5 Juli 2022

Pendeta Bongkar Makam Istri di Bitung, Hotman Paris Ikut Komentar, Ini Respon Pihak Terkait

MANADOPOST.ID – Viralnya konflik pemakaman jenazah Covid-19 di Bitung, yang terjadi beberapa pekan lalu menjadi atensi dari para pemangku kepentingan di Kota Cakalang.

Sebab kasus yang melibatkan oknum pendeta tersebut, viral dan menjadi trending di media sosial, hingga menyedot perhatian warganet Indonesia, termasuk pengacara kondang Hotman Paris.

Hal ini pun membuat para pemangku kepentingan di Bitung baik pemerintah daerah hingga unsur TNI dan Polri langsung melakukan koordinasi lintas sektoral, Rabu (29/9), di Tribun Kantor Wali Kota Bitung.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Bitung Pitter Lumingkewas mengatakan, memang viralnya bentrokan antara keluarga dan petugas pemakaman menjadi atensi dari Wali Kota.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Sehingga pasca kejadian kami langsung turun dan berdiskusi dengan keluarga serta meminta maaf jika terjadi kesalahpahaman. Dan kejadian itu pun jelas menjadi bahan evaluasi untuk kita para pemangku kepentingan,” ujarnya.

Selain itu, Lumingkewas berharap agar seluruh stakehokder terkait dapat menyosialisasikan aturan dalam melakukan pemakaman jenazah Covid.

“Dimana pemakaman jenazah Covid ada yang di makamkan di pekuburan umum dan di pekuburan keluarga harus sesuai dengan SK Walikota, dimana harus di kuburkan di pekuburan yang memenuhi syarat berjarak kurang lebih 500 meter dari pemukiman,” terang dia.

Lanjutnya, sesuai Permenkes, jenazah Covid jelas tidak boleh singgah di rumah. Keluarga boleh mendampingi namun harus menjaga jarak.

Sementara Kabag Ops Polres Bitung Kompol Jendri S Lewan menambahkan, pasca kejadian pihaknya juga sudah menghubungi oknum pendeta serta meminta penjelasan mengenai kasus tersebut.

“Selain itu memang dalam pantauan proses pemakaman yang terjadi tidak berjalan dengan baik sehingga memicu reaksi dari keluarga,” beber dia.

Ia pun berharap ke depan jika akan melakukan pemakaman Covid, jenazah bisa lewat depan rumah agar keluarga merasa puas dan senang dengan ketentuan menerapkan protokol kesehatan.

Terpantau, rapat koordinasi tersebut menghasilkan empat point kesepakatan, dimana kedalaman kubur wajib 1,5 meter, pemakaman bisa dilakukan di pekuburan umum atau keluarga namun sesuai prosedur Covid yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari pemukiman warga.

Kemudian jenazah bisa singgah di rumah namun tidak diturunkan dari ambulance dan waktunya kurang lebih 15 menit sebelum dikuburkan.

MANADOPOST.ID – Viralnya konflik pemakaman jenazah Covid-19 di Bitung, yang terjadi beberapa pekan lalu menjadi atensi dari para pemangku kepentingan di Kota Cakalang.

Sebab kasus yang melibatkan oknum pendeta tersebut, viral dan menjadi trending di media sosial, hingga menyedot perhatian warganet Indonesia, termasuk pengacara kondang Hotman Paris.

Hal ini pun membuat para pemangku kepentingan di Bitung baik pemerintah daerah hingga unsur TNI dan Polri langsung melakukan koordinasi lintas sektoral, Rabu (29/9), di Tribun Kantor Wali Kota Bitung.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Bitung Pitter Lumingkewas mengatakan, memang viralnya bentrokan antara keluarga dan petugas pemakaman menjadi atensi dari Wali Kota.

“Sehingga pasca kejadian kami langsung turun dan berdiskusi dengan keluarga serta meminta maaf jika terjadi kesalahpahaman. Dan kejadian itu pun jelas menjadi bahan evaluasi untuk kita para pemangku kepentingan,” ujarnya.

Selain itu, Lumingkewas berharap agar seluruh stakehokder terkait dapat menyosialisasikan aturan dalam melakukan pemakaman jenazah Covid.

“Dimana pemakaman jenazah Covid ada yang di makamkan di pekuburan umum dan di pekuburan keluarga harus sesuai dengan SK Walikota, dimana harus di kuburkan di pekuburan yang memenuhi syarat berjarak kurang lebih 500 meter dari pemukiman,” terang dia.

Lanjutnya, sesuai Permenkes, jenazah Covid jelas tidak boleh singgah di rumah. Keluarga boleh mendampingi namun harus menjaga jarak.

Sementara Kabag Ops Polres Bitung Kompol Jendri S Lewan menambahkan, pasca kejadian pihaknya juga sudah menghubungi oknum pendeta serta meminta penjelasan mengenai kasus tersebut.

“Selain itu memang dalam pantauan proses pemakaman yang terjadi tidak berjalan dengan baik sehingga memicu reaksi dari keluarga,” beber dia.

Ia pun berharap ke depan jika akan melakukan pemakaman Covid, jenazah bisa lewat depan rumah agar keluarga merasa puas dan senang dengan ketentuan menerapkan protokol kesehatan.

Terpantau, rapat koordinasi tersebut menghasilkan empat point kesepakatan, dimana kedalaman kubur wajib 1,5 meter, pemakaman bisa dilakukan di pekuburan umum atau keluarga namun sesuai prosedur Covid yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari pemukiman warga.

Kemudian jenazah bisa singgah di rumah namun tidak diturunkan dari ambulance dan waktunya kurang lebih 15 menit sebelum dikuburkan.

Most Read

Artikel Terbaru

/