26C
Manado
Senin, 1 Maret 2021

Jelang Kuncikan, Penjual Cap Tikus Disidak

MANADOPOST.ID—Tradisi kuncikan masih digelar sebagian besar masyarakat Minsel. Namun di tengah pandemi Covid-19, kuncikan juga dilakukan pembatasan.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Minsel Danny Kaawoan mengatakan, tradisi kuncikan sebaiknya dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan (prokes).

“Karena masih di tengah Pandemi Covid-19 alangkah baiknya kita merayakan kuncikan dengan tidak menggelar acara atau pesta yang dapat menyebabkan kerumunan orang. Karena kita tidak ingin masyarakat Minsel tertular dengan virus mematikan ini. Jadi mari kita jaga bersama dengan tetap nenaati protokol kesehatan,” katanya saat dihubungi, Sabtu (23/1).

Terpisah, Kapolres Minsel AKBP Norman Sitindaon menegaskan pihaknya tidak akan menerbitkan izin keramaian pada perayaan kuncikan guna menjamin kepatuhan terhadap Prokes pencegahan Covid-19.

“Acara pesta, pawai, konvoi, pesiar, diminta untuk tidak dilakukan pada perayaan kuncikan. Tidak ada izin keramaian,” katanya.

Meski perayaan kuncikan sudah menjadi tradisi setiap tahun, Sitindaon mengharapkan segenap lapisan masyarakat Minsel untuk saat ini menahan diri demi keselamatan bersama.

“Kami meminta dukungan segenap lapisan masyarakat untuk sama-sama mematuhi prokes. Perayaan kuncikan bisa dilakukan secara sederhana di rumah saja, beribadah bersama keluarga, jangan ada pesta, pawai, konvoi, arak-arakan dan kegiatan sejenisnya yang bisa menyebabkan kerumunan,” tukasnya.

Sementara itu, upaya menekan kerumunan juga dilakukan Satuan Narkoba Polres Minsel. Disampaikan Kasat Narkoba AKP Denny Tampenawas, salah satu bentuk menekan kerumunan di saat kuncikan juga adalah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pesta minuman keras (miras).

“Untuk itu kita juga sambangi para pedagang Cap Tikus yang ada di kios-kios Desa Wanga Amongena, Kecamatan Motoling Timur. Kita sampaikan himbauan terkait dampak negatif penjualan maupun konsumsi minuman keras terhadap kondisi kesehatan tubuh serta potensi terganggunya stabilitas kamtibmas dan potensi kerumunan,” kata Tampenawas.

Apalagi di momen kuncikan tahun, tambahnya, akan menyebabkan terjadinya kerumunan orang dan berpotensi pelanggaran Prokes Covid-19. Selain itu, oknum masyarakat penjual Cap Tikus bisa diancam dengan hukuman pidana sebagaimana dimaksud dalam undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan, Perda Sulut nomor 4 tahun 2014 tentang pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol dan Perda Minsel nomor 7 tahun 2009 tentang retribusi dan perijinan minuman beralkohol.

“Kepada para pemilik kios kita perintahkan untuk segera menyimpan semua miras Cap Tikus dan berjanji untuk tidak akan menjual lagi kepada masyarakat langsung. Apabila ditemukan, maka bersedia diproses sesuai dengan hukum yg berlaku, selanjutnya masing-masing penjual atau pemilik kios diberikan maklumat Kapolres Minsel tentang larangan untuk menjual minuman berlakohol tanpa izin,” pungkas AKP Denny Tampenawas.(**)

Artikel Terbaru