alexametrics
29.4 C
Manado
Senin, 6 Desember 2021
spot_img

Bahas ICARE, Petani di Minut Desak Ketersediaan Teknologi

 


MANADOPOST.ID—
Pelaksanaan program Integrated Coorporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE) di Minahasa Utara (Minut), dimatangkan Kementerian Pertanian (Kementan) RI. Rabu (24/11), pertemuan dilakukan bersama perwakilan para petani di Kecamatan Kalawat. Berbagai aspirasi disampaikan.

Agus Muharam, Peneliti Utama Badan Litbang Pertanian Kementan RI mengungkapkan, pihaknya mensosialisasikan program kepada para petani yang menjadi target pelaksanaan ICARE. Diungkapkan, Sulawesi Utara (Sulut) menjadi satu dari sembilan provinsi yang terpilih. Tak kurang 1.000 hektar lahan disasar. “Nah, dari semua kabupaten/kota yang ada di Sulut, Minut menjadi lokasi pelaksanaan program ICARE. Tepatnya di lima kecamatan yang akan kami jadikan sebagai kawasan komoditi jagung dan kelapa,” terangnya.

Lanjut dia, kunjungan tersebut merupakan yang kedua. Sebelumnya pihaknya telah turun langsung melihat lokasi rencana pelaksanaan ICARE. Kata dia, program ini cakupannya dari hulu ke hilir. “Makanya kita membangun kemitraan dengan pihak swasta sebagai pembeli. Ini cukup potensial untuk skala komersial,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulut Ismail Maskromo mengungkapkan, berdasarkan pengamatan pihaknya para petani di Minut telah siap menatap program yang akan mulai berjalan Juli 2022 sampai Juni 2027 nanti. Olehnya, BPTP Sulut memastikan para petani siap menerapkan teknologi pertanian agar bisa membentuk korporasi petani. “Kami mengumpulkan ide-ide maupun mendengar keluhan petani yang menjadi sasaran program. Kita memberikan yang cocok atau yang diminta serta memastikan kesiapan petani untuk menerima program ini,” tutur dia didampingi Kadis Pertanian Minut Wangke Karundeng selaku fasilitator pertemuan tersebut.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Minut Arly Dondokambey menyebut program tersebut membentuk petani menjadi pengusaha. Bahkan menjadikan petani tradisonal menjadi petani modern. Pihaknya pun menyambut baik respon dari perwakilan Kementan RI yang menyanggupi 90 persen kebutuhan fasilitas petani. “Karena memang dengan ketersediaan fasilitas seperti mesin pengering, petani jagung bisa makin produktif. Pembiayaan dan pengerjaan bisa lebih efektif dan efisien,” tukasnya. (jen)

spot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru