31.4 C
Manado
Rabu, 4 Agustus 2021

4000 Hektar Sawah di Bumi Tumatenden Rawan Hilang, KTNA Minut Dorong Pembukaan Lahan Baru

 

MANADOPOST.ID—Menyusutnya lahan pertanian di Minahasa Utara (Minut) mendapat perhatian serius banyak kalangan. Sejumlah hal rekomendasi diberikan demi menyelamatkan ribuan hektar persawahan di Tanah Tonsea.

Kepala Dinas Pertanian Minut Wangke Karundeng mengungkapkan total lahan persawahan yang digunakan masyarakat untuk bertani di Minut berkisar 4000 hektar. Diakuinya, lahan sawah yang makin menyusut diakibatkan meningkatnya jumlah pemukiman dan pembangunan yang marak dilakukan.

Dikatakannya, ada empat kecamatan dengan jumlah lahan persawahan paling luas. Di antaranya, Talawaan, Dimembe, Kauditan dan Kema. “Hampir semua kecamatan itu ada lahan sawah tapi memang yang paling mengkhawatirkan itu diwilayah Kecamatan Airmadidi dan Kalawat,” bebernya.

Beragam upaya telah dilakukan. Termasuk program cetak sawah baru. Karenanya pihaknya kini intens melakukan  survei lapangan. Dia pun berharap Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) bisa segera disahkan. Ada sekira 2500 hektar lahan yang menjadi objek aturan tersebut.

“Ini kami baru pulang survei lapangan. Mengidentifikasi lahan-lahan baru yang potensial. Makanya memang kami samgat mendukung perda untuk mengamankan lahan-lahan sawah ini sebagaimana amanat UU. Karena memang itu bisa memudahkan untuk mendapat bantuan,” ungkapnya.

Arly Dondokambey

Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Minut Arly Dondokambey mengungkapkan, persoalan serupa terjadi di semua provinsi dan kabupaten/kota, termasuk di Minut. Dia mengakui fenomena tersebut sangat mengancam sektor pertanian.

“Yang pasti petani yang paling dirugikan. Juga masyarakat luas yang wajib terpenuhi kebutuhan pangannya. Kami usul segera dibuat perda yang betul-betul berpihak kepada masyarakat dalam hal ini petani bagaimana supaya adanya ketersediaan lokasi tata ruang,” tuturnya.

Dondokambey pun berharap Pemkab Minut dapat ambil bagian menciptakan lahan sawah baru. “Yang tadinya bukan lahan sawah tetapi bisa jadi sawah baru. Itu harapan kami, adanya optimasi lahan baru yang cukup banyak di Minut,” tegasnya.

Sebelumnya, Ranperda LP2B diseriusi Bapemperda DPRD Minut dengan melakukan survei lapangan. Kecamatan Airmadidi dan Kalawat menjadi sasaran. Ketua Bapemperda DPRD Minut Wellem Katuuk mengatakan, lahan pertanian di Minut memang semakin sempit. “Berdasarkan perhitungan sementara, saat ini lahan pertanian di Kecamatan Airmadidi terus menyusut. Kekhawatiran kita, lahan pertanian ini suatu saat dapat beralih fungsi untuk kepentingan lain,” ungkap Ketua PKPI Minut tersebut.

Olehnya, ranperda tersebut menjadi sangat dibutuhkan. Ranperda LP2B disusun dalam upaya melindungi lahan pertanian dan pangan di wilayah tanah Tonsea Minut. Nantinya, Perda LP2B diharapkan dapat mempertahankan keberadan lahan pertanian yang masih ada. Dia memastikan ranperda yang sedang disusun tidak berbenturan dengan perda ataupun kepentingan daerah lainnya.

“Ranperda ini tidak hanya menjadi regulasi tapi juga dapat mempertahankan lahan pertanian di Minut,” tukasnya. (jen)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru