26C
Manado
Senin, 1 Maret 2021

Petani Menjerit, Pupuk Langka

MANADOPOST.ID-Keluhan tentang kelangkaan pupuk bersubsidi terus berdatangan. Seperti disampaikan Eunike Tangkulung di grup RR-RD Call Center.

Dituliskannya, sekarang ini semua serba sulit, pandemi Covid-19 tidak tahu kapan akan berakhir dan pemerintah menganjurkan untuk masyarakat mengolah lahan pertanian agar tidak kekurangan bahan pangan.

Tapi ternyata tidak demikian karena untuk mendapatkan pupuk saat ini sangat sulit, sedangkan tanaman sudah waktunya untuk dilakukan.

“Pemupukan agar tanaman tersebut tumbuh subur dan memberikan hasil yang banyak. Khususnya tanaman padi sudah waktunya untuk pemupukan tapi tidak ada pupuk. Dan kalaupun ada harganya sangat mahal.

Bagaimana pemerintah menanggapi akan hal ini, kalau tanaman padi tidak diberi pupuk tentu hasilnya tidak akan memadai sesuai harapan kami petani,” keluhnya di grup resmi Pemkab Minahasa tersebut.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Minahasa Margaretha Ratulangi membantah akan adanya kelangkaan. Dia menjelaskan bahwa pupuk bersubsidi bukan mengalami kelangkaan, namun stoknya terbatas. “Karena yang berhak membeli pupuk bersubsidi ini hanya petani yang masuk sebagai anggota kelompok tani,” katanya.

Selain itu sebagai anggota kelompok tani, petani tersebut harus terdaftar dalam penerimaan jatah sebagai pembelian pupuk bersubsidi melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). “Untuk setiap petani yang berhak mendapatkan alokasi pembelian pupuk bersubsidi hanya di batasi untuk 2 hektar dalam dua kali musim tanam,” jelas dia.

Ratulangi menambahkan bahwa untuk tahun 2021, alokasi stok pupuk bersubsidi mengalami pengurangan jatah dari tahun 2020 yang berada pada sekitar 9000 ton dan pada tahun ini hanya sekitar 4.000 ton.

Lanjut kata dia, adapun untuk Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk bersubsidi pada tahun 2021 mengalami kenaikan harga dari tahun sebelumnya. Untuk jenis pupuk Urea dijual dengan harga Dua ribu dua ratus lima rupiah per kilogram atau Seratus dua belas ribu lima ratus rupiah per karung. Jenis ZA Seribu tujuan ratus rupiah per kilogram atau Delapan puluh lima ribu rupiah per karung.

“Jenis SP 36 dijual dengan harga Dua ribu empat ratus rupiah per kilogram atau Seratus dua puluh ribu per kilogram. Jenis NPK Phonska di jual dengan harga Dua ribu tiga ratus rupiah per kilogram atau Seratus lima belas ribu rupiah per karung, dan untuk jenis Petroganik dijual dengan harga Delapan ratus rupiah per kilogram atau Tiga dua ribu rupiah per karung,” tutup Ratulangi.(*)

Artikel Terbaru

Penyebar Foto ETLE Bisa Digugat

CS-WL Gercep Sinkronkan Program Kerja

JG Siapkan Pergeseran Anggaran