22.4 C
Manado
Jumat, 19 Agustus 2022

Ditangkap di Jawa Barat, Ini Pengakuan Hamza Ali Terduga Penyebar SARA Minahasa

MANADOPOST.ID–Terduga pelaku ujaran kebencian di media sosial (Medsos) Facebook, dengan nama akun Hamzah Ali, yang kemudian diketahui pemiliknya bernama lengkap RM.H Ardiansyah Soerodinodjo MM (41), berhasil dibekuk Tim Buser Satuan Reskrim Polres Minahasa, Rabu (22/7).

Kapolres Minahasa AKBP M Denny I Situmorang SIK, melalui Kepala Sub Bagian Humas AKP Ferdy Pelengkahu, didampingi Kepala Satuan Reskrim AKP Sugeng Wahyudi Santoso SH SIK, dalam konferensi pers, Kamis (23/7) kemarin mengatakan, terduga pelaku berhasil diamankan setelah sejak 10 Juni 2020 dinyatakan Daftar Pencarian Orang (DPO), setelah dilaporkan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ke Polres Minahasa, usai pelaku melakukan postingan dengan akun Hamzah Ali di Facebook, pada 8 Mei 2020.

“Sejak ditetapkan dalam DPO, tersangka kerap berpindah-pindah tempat, sampai pada akhirnya oleh hasil penyamaran yang dilakukan Tim Buser Polres Minahasa, diketahuilah tersangka berada disuatu tempat. Tersangka lalu diamankan saat berada di penginapan Istana Bunga, daerah Kabupaten Cimahi Provinsi Jawa Barat, bersama isterinya,” terang Pelengkahu.

Tersangka sendiri dikenakan Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45A ayat 2 Undang-undang nomor 11 tahun 2008, yang sudah diubah dengan UU nomor 19 tahun 2016, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55, 56 KUHP, dengan ancaman maksimal 6 tahun penjara.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“DPO ini disangkakan dalam perkara tindak pidana, dimana setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA, dimana tersangka diancam 6 tahun penjara,” terang Pelengkahu.

Ada Pasal yang dikenakan yakni 55 dan 56 KUHP, karena terduga pelaku melakukan tidak sendiri, melainkan dibantu oleh dua orang terduga pelaku lainnya, yang masih didalami penyidik Reskrim Polres Minahasa.

“Masih ada terduga pelaku lain. Akan kami sampaikan selanjutnya,” pungkasnya.

Sementara, terduga pelaku Hamzah Ali, kepada wartawan ketika diwawancarai mengatakan bahwa dirinya dihasut oleh orang lain untuk membuat postingan ujaran kebencian di Medsos menggunakan akun Facebook nya.

“Ada video yang dikirim ke saya. Saya disuruh dan diarahkan oleh dua oknum ini, yang keduanya berdomisili di Minahasa,” kata dia.

Lanjut, dirinya mengungkapkan menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya. “Saya menyesal karena dihasut. Saya merasa dibodohi karena mengikuti hasutan mereka. Saya tidak tau soal sejarah Minahasa yang saya posting itu, kemudian dua oknum si penghasut ini mencarikan sejarah itu yang saya juga tidak tau kebenarannya, dikirim ke saya lalu disuruh saya posting,” ungkapnya.

Dia pun memohon maaf keoada seluruh masyarakat Minahasa atas perbuatannya. “Saya benar-benar menyesal. Saya memohon maaf kepada seluruh masyarakat Minahasa, pemerintah serta pihak kepolisian,” kuncinya.

Diketahui pelaku memposting kata-kata yang berisikan provokasi sehingga turut memperpanjang masalah sengketa tanah rombe.

Adapun barang bukti yang ditahan bersama terduga pelaku yakni, 2 buah handphone, satu KTP elektronik milik pelaku, satu lembar screenshot postingan di Facebook akun milik Hamzah Ali.(cw-01/gel)

MANADOPOST.ID–Terduga pelaku ujaran kebencian di media sosial (Medsos) Facebook, dengan nama akun Hamzah Ali, yang kemudian diketahui pemiliknya bernama lengkap RM.H Ardiansyah Soerodinodjo MM (41), berhasil dibekuk Tim Buser Satuan Reskrim Polres Minahasa, Rabu (22/7).

Kapolres Minahasa AKBP M Denny I Situmorang SIK, melalui Kepala Sub Bagian Humas AKP Ferdy Pelengkahu, didampingi Kepala Satuan Reskrim AKP Sugeng Wahyudi Santoso SH SIK, dalam konferensi pers, Kamis (23/7) kemarin mengatakan, terduga pelaku berhasil diamankan setelah sejak 10 Juni 2020 dinyatakan Daftar Pencarian Orang (DPO), setelah dilaporkan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ke Polres Minahasa, usai pelaku melakukan postingan dengan akun Hamzah Ali di Facebook, pada 8 Mei 2020.

“Sejak ditetapkan dalam DPO, tersangka kerap berpindah-pindah tempat, sampai pada akhirnya oleh hasil penyamaran yang dilakukan Tim Buser Polres Minahasa, diketahuilah tersangka berada disuatu tempat. Tersangka lalu diamankan saat berada di penginapan Istana Bunga, daerah Kabupaten Cimahi Provinsi Jawa Barat, bersama isterinya,” terang Pelengkahu.

Tersangka sendiri dikenakan Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45A ayat 2 Undang-undang nomor 11 tahun 2008, yang sudah diubah dengan UU nomor 19 tahun 2016, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55, 56 KUHP, dengan ancaman maksimal 6 tahun penjara.

“DPO ini disangkakan dalam perkara tindak pidana, dimana setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA, dimana tersangka diancam 6 tahun penjara,” terang Pelengkahu.

Ada Pasal yang dikenakan yakni 55 dan 56 KUHP, karena terduga pelaku melakukan tidak sendiri, melainkan dibantu oleh dua orang terduga pelaku lainnya, yang masih didalami penyidik Reskrim Polres Minahasa.

“Masih ada terduga pelaku lain. Akan kami sampaikan selanjutnya,” pungkasnya.

Sementara, terduga pelaku Hamzah Ali, kepada wartawan ketika diwawancarai mengatakan bahwa dirinya dihasut oleh orang lain untuk membuat postingan ujaran kebencian di Medsos menggunakan akun Facebook nya.

“Ada video yang dikirim ke saya. Saya disuruh dan diarahkan oleh dua oknum ini, yang keduanya berdomisili di Minahasa,” kata dia.

Lanjut, dirinya mengungkapkan menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya. “Saya menyesal karena dihasut. Saya merasa dibodohi karena mengikuti hasutan mereka. Saya tidak tau soal sejarah Minahasa yang saya posting itu, kemudian dua oknum si penghasut ini mencarikan sejarah itu yang saya juga tidak tau kebenarannya, dikirim ke saya lalu disuruh saya posting,” ungkapnya.

Dia pun memohon maaf keoada seluruh masyarakat Minahasa atas perbuatannya. “Saya benar-benar menyesal. Saya memohon maaf kepada seluruh masyarakat Minahasa, pemerintah serta pihak kepolisian,” kuncinya.

Diketahui pelaku memposting kata-kata yang berisikan provokasi sehingga turut memperpanjang masalah sengketa tanah rombe.

Adapun barang bukti yang ditahan bersama terduga pelaku yakni, 2 buah handphone, satu KTP elektronik milik pelaku, satu lembar screenshot postingan di Facebook akun milik Hamzah Ali.(cw-01/gel)

Most Read

Artikel Terbaru

/