25.4 C
Manado
Rabu, 29 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

REKOR DUNIA! Pesta Makan Minahasa Habis Puluhan Miliar

- Advertisement -

MANADOPOST.ID— Pesta demokrasi di Kabupaten Minahasa untuk menentukan Hukum Tua (Kumtua) di 98 desa bakal digelar Selasa esok (31/5).

Sudah menjadi kebiasaan, sejak pencalonan hingga hari H pemilihan, para kandidat Kumtua menjamu pendukungnya dengan makanan dan minuman. Walaupun pada aturan telah melarang menggelar pesta pora yang di sponsori setiap calon.

Tahun ini, total ada sekira 338 calon Kumtua ikut serta. Terinformasi budget untuk ‘pesta makan’ itu, berkisar 50 hingga 100 juta rupiah per calon. Ini bisa mencatat rekor dunia, sebab puluhan miliar dipastikan habis dipakai pada pesta makan dan minum di setiap acara yang digelar para calon.

Seperti penuturan salah satu warga di Kecamatan Tombulu yang mengaku, pesta di rumah calon Hukum Tua sering dilaksanakan karena sudah menjadi budaya. “Yah, acara pesta wajib dong. Karena ini pesta rakyat dan sejak dulu kalau ada pemilihan Hukum Tua, biasanya setiap hari akan ada acara makan minum di rumah calon,” ujar warga Desa Kembes Dua yang masuk pada Pilhut tahun ini.

- Advertisement -

Dia pun menyebut, euforia yang terjadi saat perhelatan Pilhut selalu ditunggu masyarakat. “Memang banyak terjadi gesekan antar warga. Namun ini yang menarik. Selama masih batas wajar, saya rasa yang menarik adalah saling panas antara calon dari kubu sebelah dan kubu sebelah. Tapi, usai Pilhut, pasti sukacita kebersamaan kembali terjalin,” sebutnya.

Dari pantauan Manado Post, sejak beberapa bulan lalu, para calon Hukum Tua di 98 desa nampak mulai memanfaatkan acara syukuran para pendukungnya. Tetapi, adapula yang tetap menggelar pesta di kediamannya.

Sedangkan dari penuturan salah satu calon Hukum Tua di Minahasa, selama perhelatan tahapan dirinya bersyukur banyak bantuan yang diberikan para pendukung.

“Kami jujur tak banyak habis untuk anggaran pribadi. Karena puji Tuhan banyak mendapat bantuan dari masyarakat yang cinta pada saya. Kalau total dengan bantuan yang didapat, kira-kira Rp100 juta anggaran, mulai dari tahapan,” ungkapnya.

Sementara itu, Akademisi Universitas Sam Ratulangi Gustaf Undap menilai adanya dugaan unsur kecurangan yang terindikasi dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Sehingga proses pemilihan Kumtuan rasanya tidak jujur dan adil.

“Karena ada beberapa desa yang pemilihan akan melakukan pencairan BLT (bantuan langsung tunai) lewat dana desa,” ujarnya.

Desa yang ada pemilihan, memungkinkan H-1 terjadinya money politik tingkat tinggi,  yang berdampak pada resistensi kehidupan masyarakat yang tidak stabil lewat pertentangan-pertentangan, saling mengejek dan jadi bahan diskusi.

“Pertentangan pun bisa terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat,” terangnya.

Oleh karena itu, dirinya menyarankan Pemkab Minahasa untuk menjaga eksistensi kehidupan masyarakat yang stabil, maka jangan dulu ada penyaluran BLT ataupun kegiatan semacam itu yang bisa menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat.

“Nantilah program itu diberikan sesudah dilakukan pemilihan. Kami sebagai akademisi dan juga warga Minahasa berharap agar proses pemilihan hukum tua berjalan baik, jujur dan adil,” tutupnya. (lerby/ando)

MANADOPOST.ID— Pesta demokrasi di Kabupaten Minahasa untuk menentukan Hukum Tua (Kumtua) di 98 desa bakal digelar Selasa esok (31/5).

Sudah menjadi kebiasaan, sejak pencalonan hingga hari H pemilihan, para kandidat Kumtua menjamu pendukungnya dengan makanan dan minuman. Walaupun pada aturan telah melarang menggelar pesta pora yang di sponsori setiap calon.

Tahun ini, total ada sekira 338 calon Kumtua ikut serta. Terinformasi budget untuk ‘pesta makan’ itu, berkisar 50 hingga 100 juta rupiah per calon. Ini bisa mencatat rekor dunia, sebab puluhan miliar dipastikan habis dipakai pada pesta makan dan minum di setiap acara yang digelar para calon.

Seperti penuturan salah satu warga di Kecamatan Tombulu yang mengaku, pesta di rumah calon Hukum Tua sering dilaksanakan karena sudah menjadi budaya. “Yah, acara pesta wajib dong. Karena ini pesta rakyat dan sejak dulu kalau ada pemilihan Hukum Tua, biasanya setiap hari akan ada acara makan minum di rumah calon,” ujar warga Desa Kembes Dua yang masuk pada Pilhut tahun ini.

Dia pun menyebut, euforia yang terjadi saat perhelatan Pilhut selalu ditunggu masyarakat. “Memang banyak terjadi gesekan antar warga. Namun ini yang menarik. Selama masih batas wajar, saya rasa yang menarik adalah saling panas antara calon dari kubu sebelah dan kubu sebelah. Tapi, usai Pilhut, pasti sukacita kebersamaan kembali terjalin,” sebutnya.

Dari pantauan Manado Post, sejak beberapa bulan lalu, para calon Hukum Tua di 98 desa nampak mulai memanfaatkan acara syukuran para pendukungnya. Tetapi, adapula yang tetap menggelar pesta di kediamannya.

Sedangkan dari penuturan salah satu calon Hukum Tua di Minahasa, selama perhelatan tahapan dirinya bersyukur banyak bantuan yang diberikan para pendukung.

“Kami jujur tak banyak habis untuk anggaran pribadi. Karena puji Tuhan banyak mendapat bantuan dari masyarakat yang cinta pada saya. Kalau total dengan bantuan yang didapat, kira-kira Rp100 juta anggaran, mulai dari tahapan,” ungkapnya.

Sementara itu, Akademisi Universitas Sam Ratulangi Gustaf Undap menilai adanya dugaan unsur kecurangan yang terindikasi dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Sehingga proses pemilihan Kumtuan rasanya tidak jujur dan adil.

“Karena ada beberapa desa yang pemilihan akan melakukan pencairan BLT (bantuan langsung tunai) lewat dana desa,” ujarnya.

Desa yang ada pemilihan, memungkinkan H-1 terjadinya money politik tingkat tinggi,  yang berdampak pada resistensi kehidupan masyarakat yang tidak stabil lewat pertentangan-pertentangan, saling mengejek dan jadi bahan diskusi.

“Pertentangan pun bisa terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat,” terangnya.

Oleh karena itu, dirinya menyarankan Pemkab Minahasa untuk menjaga eksistensi kehidupan masyarakat yang stabil, maka jangan dulu ada penyaluran BLT ataupun kegiatan semacam itu yang bisa menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat.

“Nantilah program itu diberikan sesudah dilakukan pemilihan. Kami sebagai akademisi dan juga warga Minahasa berharap agar proses pemilihan hukum tua berjalan baik, jujur dan adil,” tutupnya. (lerby/ando)

Most Read

Artikel Terbaru

/