22.4 C
Manado
Monday, 3 October 2022

Bunga, Kepentingan Masyarakat dan Gaung Kota Pariwisata di Mata Dunia

 

MANADOPOST.ID–Pelaksanaan Tomohon International Flower Festival (TIFF), dengan Tournament of Flower (ToF) sebagai main iven nya. Kembali menggaungkan Tomohon sebagai destinasi pariwisata dunia. Sebanyak 22 kendaraan hias ambil bagian. Tercatat ada lima negara yang ambil bagian. Masing-masing Jepang, Korsel, Amerika Serikat, Singapura dan Belanda. Secara keseluruhan, gelaran TIFF yang tahun ini membilang pelaksanaan ke-10 cukup sukses. Namun demikian, dari kacamata Wali Kota Tomohon pertama Jefferson Soleman Montesqiue Rumajar (JSMR). Hakekat pelaksanaan TIFF, tak lain adalah mengangkat derajat masyarakat, utamanya lagi para petani bunga. Wajar, potensi hortikultura, khususnya lagi florikultura jadi tumpuan sebagian masyarakat di Kita Sejuk.

“Ide awal tercetusnya pelaksanaan TIFF dan ToF sebagai agenda utamanya. Merupakan buah pemikiran untuk mengembangkan potensi yang ada di Kota Tomohon. Saya dan teman-teman Pemkot pun melakukan kajian dasar, dimana potensi utama masyarakat Kota Tomohon sesuai dengan kondisi alam nya. Yakni hortikultura atau florikultura, dikaitkan dengan parawisata. Bagaimana kita berpikir,  potensi petani bunga dan parawisata dijadikan leading sector mendongkrak taraf hidup masyarakat. Hingga TIFF ini mampu dan terus dilaksanakan dan kemudian menjadi Iven andalan masyarakat Tomohon,” ungkap JSMR, lewat keterangan persnya ke Manado Post.

Dijelaskannya lagi, bertolak dari ikhtiar di atas, mulai tahun 2006, dirinya bersama tim kala itu,  membuat  kajian-kajian. Bahkan blue print untuk tagline Kota Bunga dan TIFF.

Baca Juga:  Sundah Ajak Warga Tomohon Gelorakan Semangat Nasionalisme
1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Berbagai seminar dan diskusi dilaksanakan. Saya ingat tim yang ikut membantu saya waktu itu pak Anton Supit, ibu Karen Tambayong dan Alm Dr Budi Marwoto. Kami melakukan pendalaman agar Kota Bunga dan TFF Tomohon Flower Festival, penyebutan kala itu dapat terwujud. Tak tanggung-tanggung,  kami ikut serta pada Pameran Bunga Internasional di Belanda Tahun 2006,” beber JSMR.

Dari situ, Pemkot Tomohon kata Epe, sapaan akrabnya segera membuat Perda tentang Kota Bunga dan ToF. Yang sekali lagi tujuannya, adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Tomohon terutama para petani bunga.

“Dan semua pihak yang terlibat dalam industri florikultura, baik itu perangkai bunga atau dekorator, pembuat taman hingga berdampak kepada seluruh elemen yang berkecimpung di sektor pariwisata. Ada keniscayaan, jika sektor tourism ini juga akan berkembang. Dan pastinya, jika semua yang kita impikan ini terwujud, tiap pelaksanaan TIFF melewati guidance yang tepat juga,” terang Epe.

Epe melanjutkan, dalam pelaksanaan TIFF, sudah selayaknya eksekutif melakukan kajian, evaluasi dan perbaikan. Apa-apa saja yang perlu diperhatikan, didorong dan diperbaiki. Sekali lagi, alasannya tak lain, petani bunga dan pelaku usaha sektor terkait harus terdampak.

Baca Juga:  PNS Jangan Asal Kerja! Ini Syarat Pencairan TPP Sesuai Perwako Tomohon Nomor 28 Tahun 2021

“Jadi ada poin, indikator atau sasaran konkrit yang harus dicapai. Bukan sekedar melaksanakan kegiatan ini reguler tiap tahun. Dan penting juga diingatkan, ditanamkan dan diimplementasikan kebudayaan cinta akan bunga. Jadikan sebagai bagian hidup masyarakat,” sebut pria kelahiran 20 Januari 1966 ini.

LUAR BIASA: Pelaksanaan TIFF Tahun 2008, tampak hamparan karpet bunga kala itu. Dari sumber informasi menyebut, sekira 7 juta tangkai bunga diserap dalam pelaksanaan kegiatan waktu itu. Dok istimewa.

Diakuinya, secara umum pelaksanaan TIFF 2022 sudah berlangsung dengan baik. Namun, pria murah senyum ini berpesan, untuk kedepannya ada baiknya pemerintah bersama panitia.  Mengemas persiapan yang lebih komprehensif dan lebih profesional. Biar outcome yang didapat pasca pelaksanaan kegiatan, betul-betul dinikmati masyarakat.

“Jadi jangan hanya mengemas agenda kegiatan kepanitiaan yang biasa-biasa aja seperti selama ini. Kedepannya harus lebih profesional, kegiatan-kegiatan diserahkan saja kepada EO yang profesional dan berkualitas. Biar iven ini menjadi kegiatan yang mendunia, bukan sekedar namanya saja yang internasional. Melainkan kegiatannya juga bersifat internasional. Tapi, sekali lagi saya mengapresiasi kegiatan TIFF 2022,” ujar Wali Kota Tomohon Periode 2005-2010 ini.

“Pemerintah Kota Tomohon sudah bekerja maksimal. Saya pun menghormati keseriusan dari pak Wali Kota dan Wakil Wali Kota atas segala usaha dan atensinya. Tak lupa juga kepada panitia yang sudah bekerja keras di bawah kepemimpinan Ibu Vonny Pangemanan. Kita syukuri juga semua ini atas berkat perlindungan tangan kasih Tuhan,” tutup JSMR. (*)

 

MANADOPOST.ID–Pelaksanaan Tomohon International Flower Festival (TIFF), dengan Tournament of Flower (ToF) sebagai main iven nya. Kembali menggaungkan Tomohon sebagai destinasi pariwisata dunia. Sebanyak 22 kendaraan hias ambil bagian. Tercatat ada lima negara yang ambil bagian. Masing-masing Jepang, Korsel, Amerika Serikat, Singapura dan Belanda. Secara keseluruhan, gelaran TIFF yang tahun ini membilang pelaksanaan ke-10 cukup sukses. Namun demikian, dari kacamata Wali Kota Tomohon pertama Jefferson Soleman Montesqiue Rumajar (JSMR). Hakekat pelaksanaan TIFF, tak lain adalah mengangkat derajat masyarakat, utamanya lagi para petani bunga. Wajar, potensi hortikultura, khususnya lagi florikultura jadi tumpuan sebagian masyarakat di Kita Sejuk.

“Ide awal tercetusnya pelaksanaan TIFF dan ToF sebagai agenda utamanya. Merupakan buah pemikiran untuk mengembangkan potensi yang ada di Kota Tomohon. Saya dan teman-teman Pemkot pun melakukan kajian dasar, dimana potensi utama masyarakat Kota Tomohon sesuai dengan kondisi alam nya. Yakni hortikultura atau florikultura, dikaitkan dengan parawisata. Bagaimana kita berpikir,  potensi petani bunga dan parawisata dijadikan leading sector mendongkrak taraf hidup masyarakat. Hingga TIFF ini mampu dan terus dilaksanakan dan kemudian menjadi Iven andalan masyarakat Tomohon,” ungkap JSMR, lewat keterangan persnya ke Manado Post.

Dijelaskannya lagi, bertolak dari ikhtiar di atas, mulai tahun 2006, dirinya bersama tim kala itu,  membuat  kajian-kajian. Bahkan blue print untuk tagline Kota Bunga dan TIFF.

Baca Juga:  Sundah Ajak Warga Tomohon Gelorakan Semangat Nasionalisme

“Berbagai seminar dan diskusi dilaksanakan. Saya ingat tim yang ikut membantu saya waktu itu pak Anton Supit, ibu Karen Tambayong dan Alm Dr Budi Marwoto. Kami melakukan pendalaman agar Kota Bunga dan TFF Tomohon Flower Festival, penyebutan kala itu dapat terwujud. Tak tanggung-tanggung,  kami ikut serta pada Pameran Bunga Internasional di Belanda Tahun 2006,” beber JSMR.

Dari situ, Pemkot Tomohon kata Epe, sapaan akrabnya segera membuat Perda tentang Kota Bunga dan ToF. Yang sekali lagi tujuannya, adalah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Tomohon terutama para petani bunga.

“Dan semua pihak yang terlibat dalam industri florikultura, baik itu perangkai bunga atau dekorator, pembuat taman hingga berdampak kepada seluruh elemen yang berkecimpung di sektor pariwisata. Ada keniscayaan, jika sektor tourism ini juga akan berkembang. Dan pastinya, jika semua yang kita impikan ini terwujud, tiap pelaksanaan TIFF melewati guidance yang tepat juga,” terang Epe.

Epe melanjutkan, dalam pelaksanaan TIFF, sudah selayaknya eksekutif melakukan kajian, evaluasi dan perbaikan. Apa-apa saja yang perlu diperhatikan, didorong dan diperbaiki. Sekali lagi, alasannya tak lain, petani bunga dan pelaku usaha sektor terkait harus terdampak.

Baca Juga:  Ruas Jalan Alternatif Tomohon-Minahasa Memprihatinkan, Warga: Kapan Mo Beking?

“Jadi ada poin, indikator atau sasaran konkrit yang harus dicapai. Bukan sekedar melaksanakan kegiatan ini reguler tiap tahun. Dan penting juga diingatkan, ditanamkan dan diimplementasikan kebudayaan cinta akan bunga. Jadikan sebagai bagian hidup masyarakat,” sebut pria kelahiran 20 Januari 1966 ini.

LUAR BIASA: Pelaksanaan TIFF Tahun 2008, tampak hamparan karpet bunga kala itu. Dari sumber informasi menyebut, sekira 7 juta tangkai bunga diserap dalam pelaksanaan kegiatan waktu itu. Dok istimewa.

Diakuinya, secara umum pelaksanaan TIFF 2022 sudah berlangsung dengan baik. Namun, pria murah senyum ini berpesan, untuk kedepannya ada baiknya pemerintah bersama panitia.  Mengemas persiapan yang lebih komprehensif dan lebih profesional. Biar outcome yang didapat pasca pelaksanaan kegiatan, betul-betul dinikmati masyarakat.

“Jadi jangan hanya mengemas agenda kegiatan kepanitiaan yang biasa-biasa aja seperti selama ini. Kedepannya harus lebih profesional, kegiatan-kegiatan diserahkan saja kepada EO yang profesional dan berkualitas. Biar iven ini menjadi kegiatan yang mendunia, bukan sekedar namanya saja yang internasional. Melainkan kegiatannya juga bersifat internasional. Tapi, sekali lagi saya mengapresiasi kegiatan TIFF 2022,” ujar Wali Kota Tomohon Periode 2005-2010 ini.

“Pemerintah Kota Tomohon sudah bekerja maksimal. Saya pun menghormati keseriusan dari pak Wali Kota dan Wakil Wali Kota atas segala usaha dan atensinya. Tak lupa juga kepada panitia yang sudah bekerja keras di bawah kepemimpinan Ibu Vonny Pangemanan. Kita syukuri juga semua ini atas berkat perlindungan tangan kasih Tuhan,” tutup JSMR. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/