24.4 C
Manado
Minggu, 26 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Nakes Pertanyakan Insentif Jasa Medik, Begini Penjelasan Direksi RSUD Anugerah Kota Tomohon

- Advertisement -

MANADOPOST.ID–Insentif Jasa Medik, yang didapatkan para tenaga kesehatan (Nakes) baik yang berstatus pegawai negeri sipil maupun tenaga kontrak. Terhitung sejak tahun 2021 silam, belum diterima para pejuang kemanusiaan di Kota Tomohon. Lebih khusus lagi di RSUD Anugerah Kota Tomohon menuai sejuta tanya.

 

“Iya, sejak tahun 2021 lalu, saya belum menerima insentif Jasa Medik. Yang biasanya didapatkan tiap bulannya. Pendapatan tambahan ini, biasanya diterima setelah RSUD Anugerah Kota Tomohon melakukan klaim Jasa Medik ke BPJS Kesehatan. Atas pelaksanaan pelayanan kesehatan publik,” ungkap salah satu nakes di Kota Bunga, yang enggan namanya dipublikasikan.

 

- Advertisement -

“Berharap tentunya bisa segera dicairkan, hitung-hitung menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” tukasnya lagi.

 

Sementara itu, Direktur RSUD  Anugerah Kota Tomohon dr Simon Pati melalui Kepala Bagian Tata Usaha dr Novri Tuerah menjelaskan, secara institusi RSUD Anugerah Kota Tomohon masih terdaftar sebagai UPTD atau SKPD di bawah koordinasi Dinas Kesehatan. Belum berstatus sebagai Badan Layanan Usaha Daerah atau BLUD. Yang menyebabkan, seluruh pendapatan yang diterima RSUD sepenuhnya dialokasikan pada kas daerah.

 

“Sebagai penjelasan, sepanjang tahun lalu RSUD Anugerah membukukan pendapatan daerah sebesar Rp.27 miliar. Dan jika mengikuti aturan turunan dari Permenkes berlanjut ke Perwako. Besaran jasa medis yang seharusnya kita terima, artinya sebesar Rp.13,5 Miliar masuk ke kas RSUD. Tapi, dikarenakan status RSUD masih SKPD. Pendapatan ini seluruhnya kita setor ke kas daerah,” ungkap Tuerah didampingi Kabid Keperawatan Ever Lontaan ketika dikonfirmasi Manado Post Rabu (18/5).

 

Dilanjutkan Tuerah, Pemkot Tomohon sebenarnya di tahun lalu mengalokasikan anggaran jasa medik sebesar Rp.3,8 Miliar. Meski belum mencapai nominal yang seharusnya diterima, Tuerah bilang, pihaknya telah memasukan data di LKPD Tahun Anggaran 2021. Dimana selisih jasa medik sebesar Rp 9,6 Miliar masih berstatus piutang. Yang nantinya diupayakan akan dibayarkan ke seluruh nakes di RSUD Anugerah, di APBD Perubahan sekira bulan Oktober mendatang.

 

“Bisa di cek di bidang akuntansi BPKPD Kota Tomohon. RSUD Anugerah memasukkan anggaran jasa medik sebagai piutang sebesar Rp.9,6 Miliar. Mudah-mudahan nantinya bisa dieksekusi di APBD Perubahan Tahun 2022. Setelah anggaran ini masuk ke kas RSUD, saya pastikan disalurkan ke seluruh nakes, bahkan sampai ke petugas keamanan dan tenaga kontrak lainnya,” papar Tuerah. (yol)

MANADOPOST.ID–Insentif Jasa Medik, yang didapatkan para tenaga kesehatan (Nakes) baik yang berstatus pegawai negeri sipil maupun tenaga kontrak. Terhitung sejak tahun 2021 silam, belum diterima para pejuang kemanusiaan di Kota Tomohon. Lebih khusus lagi di RSUD Anugerah Kota Tomohon menuai sejuta tanya.

 

“Iya, sejak tahun 2021 lalu, saya belum menerima insentif Jasa Medik. Yang biasanya didapatkan tiap bulannya. Pendapatan tambahan ini, biasanya diterima setelah RSUD Anugerah Kota Tomohon melakukan klaim Jasa Medik ke BPJS Kesehatan. Atas pelaksanaan pelayanan kesehatan publik,” ungkap salah satu nakes di Kota Bunga, yang enggan namanya dipublikasikan.

 

“Berharap tentunya bisa segera dicairkan, hitung-hitung menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” tukasnya lagi.

 

Sementara itu, Direktur RSUD  Anugerah Kota Tomohon dr Simon Pati melalui Kepala Bagian Tata Usaha dr Novri Tuerah menjelaskan, secara institusi RSUD Anugerah Kota Tomohon masih terdaftar sebagai UPTD atau SKPD di bawah koordinasi Dinas Kesehatan. Belum berstatus sebagai Badan Layanan Usaha Daerah atau BLUD. Yang menyebabkan, seluruh pendapatan yang diterima RSUD sepenuhnya dialokasikan pada kas daerah.

 

“Sebagai penjelasan, sepanjang tahun lalu RSUD Anugerah membukukan pendapatan daerah sebesar Rp.27 miliar. Dan jika mengikuti aturan turunan dari Permenkes berlanjut ke Perwako. Besaran jasa medis yang seharusnya kita terima, artinya sebesar Rp.13,5 Miliar masuk ke kas RSUD. Tapi, dikarenakan status RSUD masih SKPD. Pendapatan ini seluruhnya kita setor ke kas daerah,” ungkap Tuerah didampingi Kabid Keperawatan Ever Lontaan ketika dikonfirmasi Manado Post Rabu (18/5).

 

Dilanjutkan Tuerah, Pemkot Tomohon sebenarnya di tahun lalu mengalokasikan anggaran jasa medik sebesar Rp.3,8 Miliar. Meski belum mencapai nominal yang seharusnya diterima, Tuerah bilang, pihaknya telah memasukan data di LKPD Tahun Anggaran 2021. Dimana selisih jasa medik sebesar Rp 9,6 Miliar masih berstatus piutang. Yang nantinya diupayakan akan dibayarkan ke seluruh nakes di RSUD Anugerah, di APBD Perubahan sekira bulan Oktober mendatang.

 

“Bisa di cek di bidang akuntansi BPKPD Kota Tomohon. RSUD Anugerah memasukkan anggaran jasa medik sebagai piutang sebesar Rp.9,6 Miliar. Mudah-mudahan nantinya bisa dieksekusi di APBD Perubahan Tahun 2022. Setelah anggaran ini masuk ke kas RSUD, saya pastikan disalurkan ke seluruh nakes, bahkan sampai ke petugas keamanan dan tenaga kontrak lainnya,” papar Tuerah. (yol)

Most Read

Artikel Terbaru

/