25C
Manado
Jumat, 23 April 2021

Kedatangan AstraZeneca ke Tomohon Ditunda

MANADOPOST.ID–Masih perlunya koordinasi berjenjang mulai dari tingkat provinsi, Kementerian Kesehatan hingga ke WHO terkait tindaklanjut penggunaan Vaksin AstraZeneca (AZ), pemkot Tomohon ikut merespon.

Dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kota Tomohon dr Deeisje Liuw, hingga waktu yang belum ditetapkan, penggunaan hingga suplai vaksin AZ di Tomohon dipending sementara waktu.

“Masih ada beberapa hal teknis yang perlu dikoordinasikan bersama pihak Pemprov Sulut. Ini petunjuk yang wajib dilakukan saat ini, penggunaan dan suplai vaksin AZ ke Tomohon untuk sementara waktu dipending,” ungkap Liuw, ketika diwawancarai Manado Post, Minggu (28/3) kemarin.

Ditegaskan Liuw, hingga akhir pekan ketiga bulan Maret, penggunaan dan pelaksanaan vaksinasi baik tahap I dan II. Yang sudah menyasar ribuan petugas medis, pejabat hingga pegawai pelayanan publik. Sejatinya menggunakan vaksin Covid-19 bermerk Sinovac. Dengan tingkat Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), yang masih terkontrol dan wajar.

“Pelaksanaan vaksinasi yang sudah rampung hingga ke Tahap II. Yang sudah diterima oleh sasaran, baik itu tenaga medis hingga pejabat pelayanan publik. Sejauh ini dari monitor kami, berjalan dengan baik. Tidak ada indikasi apalagi hal-hal yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, untuk penggunaan vaksin AZ, tingkat KIPI yang dilaporkan lebih banyak ketimbang Sinovac.

Ini yang perlu dipahami saat ini, bahwasanya penggunaan vaksin AZ itu aman, suci dan telah mengantongi rekomendasi dari instansi dan badan terkait. Tapi, pemerintah melihat masih perlunya peningkatan literasi dan edukasi kepada masyarakat, biar Informasi yang sampai ke publik ini tidak bias,” bebernya.

Sementara itu Ketua Komite KIPI Tomohon dr P. N Harijanto SpPD-KPTI mengatakan, tingkat efikasi vaksin AZ justru lebih tinggi ketimbang Sinovac. Hanya saja, dari sisi efek simpang vaksin AZ lebih tinggi daripada Sinovac.

Dikatakan Harijanto, pelaksanaan vaksinasi jadi salah satu ikhtiar bangsa, untuk meningkatkan imunitas tubuh manusia. Vaksinasi hingga tahap II pun bisa sia-sia, jika masyarakat abai dengan penerapan Protokol Kesehatan (Prokes).

“Tingkat efikasi vaksin AZ masih lebih baik ketimbang Sinovac. Namun, efek simpang nya juga lebih tinggi. Jika Sinovac memiliki persentase dampak 1/100 ke masyarakat. Nah, si AZ justru lebih tinggi bisa sampai 1/10 dari subjeknya. Tapi perlu diingat, vaksinasi jadi salah satu cara meningkatkan kekebalan manusia. Justru jika kita tidak divaksin, tapi melakukan prokes dengan ketat dan disiplin. Ini jadi lebih manjur, ketimbang orang yang sudah divaksin. Di sini kuncinya, prokes wajib ditaati masyarakat,” lugas Harijanto.

Masyarakat pun diminta Harijanto, untuk tidak cepat mempercayai informasi-informasi yang menyebutkan bahwa Vaksin AZ jauh dari kata aman. Dirinya pun meminta, jika nantinya pelaksanaan vaksinasi jenis AZ kembali dimulai. Dalam satu keluarga, agar bisa bergantian dan tidak sekaligus.

“Vaksin AZ ini aman, suci dan sudah melewati rangkaian uji klinis hingga disebut halal dan baik ketika disuntikkan ke manusia. Hanya saja, ketika divaksin nanti, misalnya satu keluarga ada 5 orang. Harus satu per satu, karena jika nantinya terkena demam. Ada yang bisa bantu beli obat. Efek samping dari setiap obat saya kira ada. Dan ini lumrah dalam dunia medis. Masyarakat tak perlu khawatir, kembali lagi ke prokes. Di situ sebenarnya kuncinya,” tandas Harijanto. (yol/gnr)

Artikel Terbaru