Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sejarah Rumah Adat Walewangko, Warisan Budaya Leluhur Minahasa

Jendry Dahar • Jumat, 23 Agustus 2024 | 23:43 WIB

 

Photo
Photo

MANADOPOST.ID-Rumah adat Walewangko atau yang biasa disebut dengan rumah pewaris adalah rumah adat suku Minahasa yang tinggal di Sulawesi Utara. Rumah ini memiliki dua bentuk rumah panjang yang disebut Walewangko.
Rumah Walewangko dahulu dibuat dengan teknik ikat, yakni menempelkan bahan pada pohon yang tinggi. Teknik ini dilakukan untuk mengantisipasi binatang buas atau banjir. Namun, pada 1850, konsep rumah ini diubah menjadi rumah panggung dengan kayu besi sebagai kerangka rumah agar awet selama puluhan tahun lamanya.
Rumah Walewangko terbagi menjadi beberapa bagian yakni, bagian utama atau lezat yang ada di depan rumah menyerupai beranda. Tempat ini digunakan oleh kepala suku untuk menyampaikan pengumuman.

Selain itu, ada serambi atau sekey, yakni area rumah yang memiliki dinding di dalam rumah bagian depan. Tempat ini digunakan untuk upacara adat dan menerima tamu.
Rumah Walewangko memiliki ciri khas, yakni terhubung dengan adat istiadat setempat sehingga dapat memunculkan daya tarik yang khas bagi pemiliknya. Rumah ini juga sangat ekonomis karena dibuat dari bahan-bahan alam yang mudah ditemui. Selain itu, bentuknya yang seperti panggung menjadi pelindung bagi pemilik rumah.
Ciri khas Rumah Walewangko terdapat di tangganya yang berada di sisi depan rumah. Kedua tangga ini berhadapan dan memiliki muara di depan rumah seperti huruf U yang terbalik. Tangga ini dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat.

Jika roh menaiki tangga yang satu, maka otomatis roh jahat akan turun melalui tangga yang lainnya. Setiap anak tangga juga merepresentasikan jumlah harta untuk mempelai perempuan.

Selain itu, rumah ini juga dibuat dengan daun rumbia karena genteng terbuat dari tanah liat. Mereka memiliki kepercayaan bahwa hanya orang meninggal yang boleh tinggal di bawah tanah.

Editor : Jendry Dahar