MANADOPOST.ID-- - Angka persalinan di Provinsi Jawa Timur tahun 2024 menunjukkan bahwa mayoritas perempuan usia 15–49 tahun yang melahirkan dalam dua tahun terakhir masih sangat bergantung pada tenaga kesehatan non-dokter, terutama bidan.
Data dari Badan Pusat Statistik dalam publikasi "Jawa Timur dalam Angka 2025" mengungkapkan bahwa hanya 51% persalinan ditangani oleh dokter, sementara 47,27% oleh bidan, dan sisanya oleh tenaga kesehatan lain, dukun, atau lainnya.
Per kabupaten/kota, terdapat variasi signifikan dalam penggunaan jasa tenaga kesehatan. Beberapa wilayah seperti Kota Malang, Kota Surabaya, dan Kota Madiun mencatat angka persalinan oleh dokter mencapai 90% lebih.
Di sisi lain, wilayah seperti Kabupaten Sampang dan Pamekasan justru menunjukkan dominasi penggunaan bidan dan bahkan dukun bayi, dengan persentase dokter sangat rendah.
Berikut adalah gambaran lengkap distribusi persentase perempuan pernah kawin usia 15–49 tahun yang melahirkan anak hidup dalam dua tahun terakhir di masing-masing kabupaten/kota di Jawa Timur, berdasarkan jenis tenaga kesehatan penolong persalinan pada tahun 2023 dan 2024:
Kabupaten Pacitan mengalami peningkatan persalinan oleh dokter dari 35,20% (2023) menjadi 41,88% (2024). Penggunaan bidan sedikit menurun dari 64,80% ke 57,26%. Tidak ada penggunaan tenaga kesehatan lain atau dukun.
Ponorogo mengalami penurunan penggunaan dokter dari 50,83% ke 40,55%, sementara bidan meningkat ke 59,45%.
Kabupaten Trenggalek menunjukkan 47,33% ditangani dokter, sedangkan bidan 51,05% dan tenaga kesehatan lain 1,62% pada 2024.
Tulungagung hampir setara, dengan 45,75% ditangani dokter dan 54,25% oleh bidan.
Blitar mencatat dominasi bidan sebesar 80,98%, hanya 13,13% oleh dokter, serta 5,89% oleh tenaga lain.
Kota Malang menunjukkan 90,66% persalinan ditangani dokter, sangat kecil oleh bidan (7,63%).
Kota Surabaya mencatat angka tertinggi di Jawa Timur dengan 97,54% persalinan oleh dokter dan hanya 2,46% oleh bidan.
Kabupaten Bondowoso menunjukkan ketergantungan besar pada bidan, 94,12%, sementara dokter hanya 4,15% dan tenaga lain 1,73%.
Kabupaten Pamekasan mencatatkan 10,48% ditolong dokter, 55,18% oleh bidan, 8,82% oleh tenaga kesehatan lain, dan cukup tinggi oleh dukun yakni 10,81%.
Kabupaten Sampang bahkan lebih ekstrem, hanya 10,38% ditangani dokter, sementara dukun mencapai 16,11%, bidan 72,10%, dan tenaga kesehatan lain 1,41%.
Wilayah seperti Kabupaten Jember juga masih cukup tertinggal, dengan dokter hanya 19,86%, bidan 76,63%, dan dukun 1,29%.
Kota Madiun menunjukkan capaian sangat baik: 94,78% ditolong oleh dokter.
Kota Batu menempati urutan kedua setelah Surabaya dengan 93,90% persalinan oleh dokter.
Persentase Penggunaan Dukun dan Tenaga Non-Medis
Penggunaan dukun bersalin masih terlihat di sejumlah daerah seperti:
Sampang: 16,11%
Pamekasan: 10,81%
Sumenep: 12,26%
Bangkalan: 5,02%
Probolinggo: 2,54%
Lumajang dan Jember: masing-masing 1,29% dan 1,60%
Pasuruan dan Sidoarjo: sekitar 1%
Sementara itu, kategori "lainnya" yang bisa merujuk pada keluarga, tetangga, atau non-tenaga medis profesional, masih muncul di Pasuruan (0,97%), Situbondo (0,44%), dan Gresik (0,96%).
Rata-Rata Provinsi dan Catatan
Secara total, distribusi provinsi Jawa Timur untuk tahun 2024 adalah:
Ditangani dokter: 51,00%
Ditangani bidan: 47,27%
Tenaga kesehatan lain: 0,88%
Dukun: 0,81%
Lainnya: 0,03%
Data ini menunjukkan bahwa meskipun lebih dari separuh persalinan sudah ditangani oleh tenaga profesional medis (dokter), namun hampir setengahnya masih ditangani oleh bidan. Ini menjadi indikator penting tentang akses dan persepsi terhadap layanan kesehatan maternal di Jawa Timur.
Editor : Clavel Lukas