27.4 C
Manado
Minggu, 26 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Epidemiolog Nilai Vaksin Booster untuk Umum Belum Terlalu Penting

- Advertisement -

MANADOPOST.ID- Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyinggung wacana vaksin booster atau vaksin dosis ketiga bagi masyarakat umum. Ia menyebut bahwa pemerintah tidak perlu terburu-buru untuk memberikan booster pada populasi umum. “Paling tidak tahun depan,” kata Dicky kemarin.

Dosis ketiga atau booster kata Dicky memang memiliki landasan ilmiah. Ada basis studi dan riset uji efektivias yang menunjukkan semua vaksin Covid-19 memerlukan penguatan karena efikasi yang terus menurun dan menghadapi mutasi dari virus yang menjadi banyak varian.

“Makanya vaksin berbasis RNA itu sedang dimodifikasi untuk merespon varian baru. Jangan kita ngomong MU yang memiliki kemampuan menurunkan efikasi yang besar. Delta saja bisa menurunkan efikasi sampai 30 persen. Apalagi masih ada potensi varian lain,” jelas Dicky.

Tapi kata Dicky, urgensi dosis ketiga bukan urgensi dalam waktu dekat. Tahun depan pun masih cukup ideal. Saat ini pemerintah harusnya memprioritaskan cakupan vaksin dosis lengkap (2 dosis).

- Advertisement -

”Ini yang harus dikejar dulu. Setidaknya sudah tercapai 50 persen plus, atau 60 persen dari total populasi telah di vaksinasi lengkap, maka cukup fair dan adil pemerintah memberikan booster bagi populasi lain selain tenaga kesehatan, lansia atau komorbid,” kata Dicky.

Pemerintah bisa memberikan booster ketiga pada kelompok-kelompok prioritas. Baik itu dari sisi pekerjaan seperti tenaga kesehatan, tenaga pendukung kesehatan misalnya yang bekerja di hotel-hotel pusat isolasi, puskesmas, maupun lab testing.

Juga prioritas dari sisi kondisi tubuh. Seperti kelompk lansia, difabel, dan komorbid ”Ini contoh yang harus di prioritaskan. Setelah ini tercapai, baru bergerak ke populasi umum. Minimal 90 persen sudah ter-cover,” jelas Dicky.

Percepatan vaksinasi bagi 21,5 juta lansia masih terus digencarkan. Data dari Kemenkes menunjukkan per 30 September, sudah sekitar 30 persen dari sasaran lansia yang mendapatkan vaksinasi dosis pertama atau setara 6,4 juta orang, dan sekitar 20 persen di antaranya sudah mendapatkan dosis lengkap.(jawapos)

MANADOPOST.ID- Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyinggung wacana vaksin booster atau vaksin dosis ketiga bagi masyarakat umum. Ia menyebut bahwa pemerintah tidak perlu terburu-buru untuk memberikan booster pada populasi umum. “Paling tidak tahun depan,” kata Dicky kemarin.

Dosis ketiga atau booster kata Dicky memang memiliki landasan ilmiah. Ada basis studi dan riset uji efektivias yang menunjukkan semua vaksin Covid-19 memerlukan penguatan karena efikasi yang terus menurun dan menghadapi mutasi dari virus yang menjadi banyak varian.

“Makanya vaksin berbasis RNA itu sedang dimodifikasi untuk merespon varian baru. Jangan kita ngomong MU yang memiliki kemampuan menurunkan efikasi yang besar. Delta saja bisa menurunkan efikasi sampai 30 persen. Apalagi masih ada potensi varian lain,” jelas Dicky.

Tapi kata Dicky, urgensi dosis ketiga bukan urgensi dalam waktu dekat. Tahun depan pun masih cukup ideal. Saat ini pemerintah harusnya memprioritaskan cakupan vaksin dosis lengkap (2 dosis).

”Ini yang harus dikejar dulu. Setidaknya sudah tercapai 50 persen plus, atau 60 persen dari total populasi telah di vaksinasi lengkap, maka cukup fair dan adil pemerintah memberikan booster bagi populasi lain selain tenaga kesehatan, lansia atau komorbid,” kata Dicky.

Pemerintah bisa memberikan booster ketiga pada kelompok-kelompok prioritas. Baik itu dari sisi pekerjaan seperti tenaga kesehatan, tenaga pendukung kesehatan misalnya yang bekerja di hotel-hotel pusat isolasi, puskesmas, maupun lab testing.

Juga prioritas dari sisi kondisi tubuh. Seperti kelompk lansia, difabel, dan komorbid ”Ini contoh yang harus di prioritaskan. Setelah ini tercapai, baru bergerak ke populasi umum. Minimal 90 persen sudah ter-cover,” jelas Dicky.

Percepatan vaksinasi bagi 21,5 juta lansia masih terus digencarkan. Data dari Kemenkes menunjukkan per 30 September, sudah sekitar 30 persen dari sasaran lansia yang mendapatkan vaksinasi dosis pertama atau setara 6,4 juta orang, dan sekitar 20 persen di antaranya sudah mendapatkan dosis lengkap.(jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/