alexametrics
26.4 C
Manado
Kamis, 19 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

TERUNGKAP! Ada CPNS Tak Lolos Seleksi Karena Payudara Besar Kaki Bentuk X, BKN Langsung Klarifikasi

MANADOPOST.ID–Beredar video di sosial media terkait curhat seorang pria peserta Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2021 yang tidak lolos seleksi karena punya payudara besar dan kaki bentuk X. Badan Kepegawaian Negara (BKN) buka suara terkait cuitan viral peserta CPNS 2021 yang tidak lolos Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama BK Satya Pratama menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan CPNS tersebut tidak lolos SKB. Pertama, ada beberapa instansi yang mensyaratkan kebugaran jasmani sebagai poin penting dalam SKB CPNS.

“Contohnya antara lain Kemhan, Kumham, dan Bakamla, ketiga instansi tersebut mensyaratkan kebugaran jasmani, termasuk postur tubuh. Hal ini dikarenakan, nantinya instansi-instansi ini akan melaksanakan pelatihan dasar yang membutuhkan kebugaran jasmani, termasuk postur tubuh yang mendukung,” kata Satya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Sabtu (5/2).

Satya memaparkan, di Kementerian Pertahanan ada pelatihan dasar dan program bela negara. Lalu, di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, untuk petugas pemasyarakatan ada pelatihan kesamaptaan. Sementara, di Bakamla ada pelatihan dasar militer yang dilaksanakan bekerja sama dengan TNI AL.

“Semuanya dilakukan agar PNS yang direkrut mendapatkan kompetensi dasar untuk melaksanakan tugas dan fungsi yang melekat di instansi masing-masing,” ungkapnya.

Kedua, lanjutnya, kemungkinan lain yaitu, pada saat tes kesehatan, tim pelaksana tes kesehatan dari instansi yang dilamar oleh yang bersangkutan menemukan kondisi tertentu yang membuat si pelamar masuk kategori tidak masuk syarat.

Ia meminta, pelamar diharapkan untuk teliti dan jeli melihat persyaratan instansi yang akan dilamar. Sesuaikan tugas dan fungsi instansi dan formasi yang dilamar dengan minat, bakat, dan kualifikasi yang dimiliki. Seleksi CASN (PNS dan PPPK) dilaksanakan terbuka, terencana, dan tidak dipungut biaya.

“Contoh instansi yang SKB-nya mensyaratkan tes kebugaran jasmani Kemenhub, Kemhan, Kemenkumham (Penjaga Tahanan), Bakamla, Basarnas, Kejaksaan, KLHK (Polisi Kehutanan), Kemdagri (Satpol PP),” ucapnya.

Satya menyebut, ASN merupakan investasi jangka panjang pemerintah RI untuk menjadi pelayan publik atau masyarakat. Sehingga, kondisi tubuh yang sehat sangat penting. “Oleh karena itu dilaksanakan tes kesehatan. Kalau tubuh yang sehat dan bugar, dibutuhkan untuk formasi tertentu sesuai dengan tugas dan fungsi,” imbuhnya.

Satya menegaskan, seleksi CASN tidak mencari tubuh ideal. Sebab, orang yang bertubuh ideal bisa saja saat dites kesehatan ternyata ditemukan kondisi kesehatan yang akan menghambat pelaksanaan tugas dan fungsi di masa depan.

Selain itu, sesuai rencana pemerintah nantinya jumlah PNS tidak akan banyak. Sehingga wajar jika dalam seleksi dipilih yang paling memenuhi syarat, dalam hal ini kondisi kesehatannya.

Selanjutnya, dari sisi pertahanan negara, perlu diperhatikan juga jika ASN didorong untuk berpertisipasi seluas-luasnya, secara sukarela, untuk menjadi komponen cadangan. “Jadi kesehatan, dan kebugaran jasmani menjadi faktor yang diperhatikan. Namun halnya, mohon diingat juga bahwa instansi menerima formasi disabilitas 2 persen dari formasi umum,” pungkasnya.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Beredar video di sosial media terkait curhat seorang pria peserta Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2021 yang tidak lolos seleksi karena punya payudara besar dan kaki bentuk X. Badan Kepegawaian Negara (BKN) buka suara terkait cuitan viral peserta CPNS 2021 yang tidak lolos Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama BK Satya Pratama menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan CPNS tersebut tidak lolos SKB. Pertama, ada beberapa instansi yang mensyaratkan kebugaran jasmani sebagai poin penting dalam SKB CPNS.

“Contohnya antara lain Kemhan, Kumham, dan Bakamla, ketiga instansi tersebut mensyaratkan kebugaran jasmani, termasuk postur tubuh. Hal ini dikarenakan, nantinya instansi-instansi ini akan melaksanakan pelatihan dasar yang membutuhkan kebugaran jasmani, termasuk postur tubuh yang mendukung,” kata Satya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Sabtu (5/2).

Satya memaparkan, di Kementerian Pertahanan ada pelatihan dasar dan program bela negara. Lalu, di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, untuk petugas pemasyarakatan ada pelatihan kesamaptaan. Sementara, di Bakamla ada pelatihan dasar militer yang dilaksanakan bekerja sama dengan TNI AL.

“Semuanya dilakukan agar PNS yang direkrut mendapatkan kompetensi dasar untuk melaksanakan tugas dan fungsi yang melekat di instansi masing-masing,” ungkapnya.

Kedua, lanjutnya, kemungkinan lain yaitu, pada saat tes kesehatan, tim pelaksana tes kesehatan dari instansi yang dilamar oleh yang bersangkutan menemukan kondisi tertentu yang membuat si pelamar masuk kategori tidak masuk syarat.

Ia meminta, pelamar diharapkan untuk teliti dan jeli melihat persyaratan instansi yang akan dilamar. Sesuaikan tugas dan fungsi instansi dan formasi yang dilamar dengan minat, bakat, dan kualifikasi yang dimiliki. Seleksi CASN (PNS dan PPPK) dilaksanakan terbuka, terencana, dan tidak dipungut biaya.

“Contoh instansi yang SKB-nya mensyaratkan tes kebugaran jasmani Kemenhub, Kemhan, Kemenkumham (Penjaga Tahanan), Bakamla, Basarnas, Kejaksaan, KLHK (Polisi Kehutanan), Kemdagri (Satpol PP),” ucapnya.

Satya menyebut, ASN merupakan investasi jangka panjang pemerintah RI untuk menjadi pelayan publik atau masyarakat. Sehingga, kondisi tubuh yang sehat sangat penting. “Oleh karena itu dilaksanakan tes kesehatan. Kalau tubuh yang sehat dan bugar, dibutuhkan untuk formasi tertentu sesuai dengan tugas dan fungsi,” imbuhnya.

Satya menegaskan, seleksi CASN tidak mencari tubuh ideal. Sebab, orang yang bertubuh ideal bisa saja saat dites kesehatan ternyata ditemukan kondisi kesehatan yang akan menghambat pelaksanaan tugas dan fungsi di masa depan.

Selain itu, sesuai rencana pemerintah nantinya jumlah PNS tidak akan banyak. Sehingga wajar jika dalam seleksi dipilih yang paling memenuhi syarat, dalam hal ini kondisi kesehatannya.

Selanjutnya, dari sisi pertahanan negara, perlu diperhatikan juga jika ASN didorong untuk berpertisipasi seluas-luasnya, secara sukarela, untuk menjadi komponen cadangan. “Jadi kesehatan, dan kebugaran jasmani menjadi faktor yang diperhatikan. Namun halnya, mohon diingat juga bahwa instansi menerima formasi disabilitas 2 persen dari formasi umum,” pungkasnya.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/