31C
Manado
Senin, 19 April 2021

Penjual Airgun ke Zakiah Mantan Terpidana Terorisme

MANADOPOST.ID- Densus 88 Anti Teror diduga menangkap pejual airgun kepada Zakiah Aini berinisial MK. Namun, muncul protes terhadap penangkapan tersebut. Sebab, kendati MK merupakan mantan terpidana kasus terorisme, namun pengusaha muda asal Aceh itu menjual airgun tanpa mengetahui adanya rencana aksi teror alias murni bisnis.

Pengamat Terorisme Al Chaidar menjelaskan bahwa MK ditangkap di Banda Aceh oleh kepolisian terkait airgun yang digunakan Zakiah Aini. Namun, MK tidak bersalah dan tidak terkait dengan tindakan terorisme tersebut. ”Sebagai peneliti terorisme, saya yakin MK murni bisnis,” tuturnya.

Penjualan airgun itu dilakukan secara online. Yang tentunya sudah takdir, bila pembelinya kemudian menyalahgunakan airgun tersebut. ”Rekan-rekannya yang eks terpidana pelatihan Bukit Jalin, MK ini sangat anti dengan ISIS,” tegasnya.

MK dikenal sebagai saudagar muda dengan berbagai usaha. Seperti, perkebunan sawit, perdagangan air softgun, senjata angin dan perkebunan alpukat. ”Perkebunannya yang sukses bahkan mempekerjakan eks kombatan GAM yang tidak terayomi program reintegrasi,” terangnya.

Al Chaidar menuturkan, MK juga pernah membentuk Muwaqah Media pada 2014. Pembentukan itu untuk melakukan konter terhadap propaganda ISIS di Indonesia. ”MK anti ideology takfiri,” tuturnya kemarin.

Memang MK merupakan mantan terpidana kasus terorisme pelatihan militer di Bukit Jalin, Jantho, Aceh Besar pada 2010. Namun, kejadian tersebut tiga tahun sebelum ISIS muncul. ”Pemikirannya saat ini sangat moderat. Dia juga sedang menghimpun para eks napi untuk bekerja,” ujarnya.

Dia menuturkan, sebagai rekan dari MK berharap kepolisian tidak menetapkannya sebagai tersangka kasus terorisme. ”Karena ada pertimbangan khusus, dalam kasus ini tak dinyana sekalipun,” terangnya peneliti DI/TII tersebut.

Sayangnya, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono tidak merespon saat diklarifikasi terkait penangkapan terhadap penjual airgun yang digunakan Zakiah Aini untuk melakukan aksi teror di Komplek Mabes Polri.

Berkaiatan dengan air gun yang digunakan oleh Zakiah saat beraksi di Mabes Polri, Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto menyatakan bahwa meski Perbakin sudah mengklarifikasi temuan KTA klub menebak pasca Polri melumpuhkan Zakiah.

Namun, Benny menilai audit mestinya dilakukan terhadap klub tersebut. Menurut dia tindakan tersebut diperlukan untuk memastikan apa yang terjadi setelah klub menembak itu dibubarkan. “Maka kami mendorong untuk melakukan audit,” imbuhnya.

Sementara soal protokol tetap masuk Mabes Polri, berdasar pengamatan Benny selama ini, standar yang diterapkan sudah baik. Alat deteksi serta cara pemeriksaan dia nilai memadai.

“Tetapi semua itu akan kembali kepada personel yang bertugas. Saya menyoroti, kenapa orang itu (Zakiah, Red) bisa masuk,” kata dia. Untuk itu, dia menyatakan, perlu evaluasi terhadap personel yang bertugas. “Kalau menurut saya, (evaluasi) personel yang bertugas saat itu sejauh mana kesiapsiagaannya,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Benny menyebut, ada prosedur yang hilang saat Zakiah masuk ke Mabes Polri. Yakni pemeriksaan oleh polwan. Menurut dia, mestinya prosedur itu berjalan setiap ada pengunjung perempuan hendak masuk Mabes Polri.

“Ketika ada tamu wanita dan diperlukan penggeledahan. Baik menggunakan alat deteksi maupun secara fisik langsung, itu harus dilakukan oleh petugas polwan. Itu kami lihat tidak ada,” beber purnawirawan Polri dengan pangkat irjen tersebut.

Untuk itu, Benny mendukung evaluasi yang dilakukan oleh Mabes Polri pasca serangan Zakiah. “Karena terus terang, ketika mereka (penyerang) menggunakan cara pendekatan personal yang baik, sopan, datang berkali-kali, membawa map dengan alasan ingin mengurus, misalnya SKCK, entah urus izin keramaian, entah urusan dengan Bareskrim, dan sebagainya, maka dia bisa mempelajari cara kerja aparat,” bebernya. “Maka ketika dia membawa senjata, mungkin sudah tidak digeledah lagi,” tambah dia.

Karena itu pula, Benny menekankan lagi bahwa protokol tetap, sistem, dan alat yang memadai tetap bergantung pada orang per orang atau personel yang bertugas. “Alat pengaman yang dipasang dan sebagainya, semua kuncinya kembali kepada personel yang bertugas,” ujarnya.

Saat ini, lanjut dia, pihaknya turut menunggu rekaman CCTV yang menyorot pergerakan Zakiah sejak yang bersangkutan tiba di sekitar Mabes Polri, diperiksa, kemudian masuk, dan menyerang petugas. “Kalau ada yang mengantar, identitas motor atau mobil bisa dikembangkan untuk nanti mengidentifikasi,” terang dia. (jpg)

Artikel Terbaru