alexametrics
25.4 C
Manado
Kamis, 26 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Istana Negara Terancam Digeruduk, Mochtar Ngabalin Ancam Balik: Jokowi Kepala Negara Loh!

MANADOPOST.ID-Tenaga Ahli Utama KSP Ali Mochtar Ngabalin merespon ancaman Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI) yang akan menggeruduk Istana lantaran Jokowi tak merespon tuntutan mereka.

 

Ngabalin meminta para mahasiswa untuk tidak melontarkan pernyataan-pernyataan bernada ancaman kepada Presiden Jokowi.

 

Pasalnya, Jokowi merupakan kepala negara yang seharusnya dihargai oleh para mahasiswa.

 

“Tidak bagus, tidak baik dalam karakter dan prinsip dasar mahasiswa kalau mengancam. (Jokowi) kepala negara lho ini,” katanya dihubungi, Selasa (5/4/2022).

 

Menurut Ngabalin, seorang mahasiswa seharusnya bisa menyampaikan pendapat dengan baik.

 

Ia menilai memberikan ancaman seperti itu bukan lah watak dari mahasiswa.

 

“Mahasiswa ini harus baik-baik. Mulai sekarang mereka harus menyampaikan pendapat dengan baik, enggak usah main ancam,” ujarnya.

 

Sebelumnya, AMI telah menggelar aksi unjuk rasa di Kawasan Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (1/4/2022) lalu.

 

Adapun tuntutan aksi massa adalah menolak penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden.

 

Perwakilan AMI, Bayu Satria Utomo mengatakan, penolakan penundaan Pemilu yang berujung pada perpanjangan masa jabatan Presiden perlu disikapi.

 

Tentunya, oleh Joko Widodo (Jokowi) selaku orang nomor satu di Indonesia.

 

“Penolakan terhadap penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden perlu disikapi langsung oleh Presiden sebagai pejabat tertinggi negara,” kata Bayu saat dikonfirmasi, Senin (4/4/2022) hari ini.

 

Hingga kekinian, mahasiswa masih menunggu Jokowi untuk membuat pernyataan terbuka menolak wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden.

 

Jika tidak, kata Bayu, mahasiswa mengancam akan turun ke jalan dalam jumlah yang lebih besar.

 

“Hal tersebut lah yang menjadi pernyataan sikap para mahasiswa yang turun ke jalan hingga sore menjelang malam hari,” kata Bayu yang juga Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia tersebut.

 

Dalam aksi kemarin, massa mahasiswa memberi tenggat waktu selama dua hari agar Jokowi memberikan sikap.

 

Dengan demikian, pada Minggu (3/4/2022) kemarin, adalah waktu terakhir yang dinantikan oleh mahasiswa untuk menunggu jawaban dari Presiden.

 

Atas hal itu, AMI akan kembali akan turun ke jalan jika wacana penundaan Pemilu hingga perpanjangan masa jabatan Presiden digaungkan.

 

Hanya saja, Bayu belum bisa memastikan kapan aksi unjuk rasa tersebut akan berlangsung. (muf/pojoksatu)

MANADOPOST.ID-Tenaga Ahli Utama KSP Ali Mochtar Ngabalin merespon ancaman Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI) yang akan menggeruduk Istana lantaran Jokowi tak merespon tuntutan mereka.

 

Ngabalin meminta para mahasiswa untuk tidak melontarkan pernyataan-pernyataan bernada ancaman kepada Presiden Jokowi.

 

Pasalnya, Jokowi merupakan kepala negara yang seharusnya dihargai oleh para mahasiswa.

 

“Tidak bagus, tidak baik dalam karakter dan prinsip dasar mahasiswa kalau mengancam. (Jokowi) kepala negara lho ini,” katanya dihubungi, Selasa (5/4/2022).

 

Menurut Ngabalin, seorang mahasiswa seharusnya bisa menyampaikan pendapat dengan baik.

 

Ia menilai memberikan ancaman seperti itu bukan lah watak dari mahasiswa.

 

“Mahasiswa ini harus baik-baik. Mulai sekarang mereka harus menyampaikan pendapat dengan baik, enggak usah main ancam,” ujarnya.

 

Sebelumnya, AMI telah menggelar aksi unjuk rasa di Kawasan Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (1/4/2022) lalu.

 

Adapun tuntutan aksi massa adalah menolak penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden.

 

Perwakilan AMI, Bayu Satria Utomo mengatakan, penolakan penundaan Pemilu yang berujung pada perpanjangan masa jabatan Presiden perlu disikapi.

 

Tentunya, oleh Joko Widodo (Jokowi) selaku orang nomor satu di Indonesia.

 

“Penolakan terhadap penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden perlu disikapi langsung oleh Presiden sebagai pejabat tertinggi negara,” kata Bayu saat dikonfirmasi, Senin (4/4/2022) hari ini.

 

Hingga kekinian, mahasiswa masih menunggu Jokowi untuk membuat pernyataan terbuka menolak wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden.

 

Jika tidak, kata Bayu, mahasiswa mengancam akan turun ke jalan dalam jumlah yang lebih besar.

 

“Hal tersebut lah yang menjadi pernyataan sikap para mahasiswa yang turun ke jalan hingga sore menjelang malam hari,” kata Bayu yang juga Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia tersebut.

 

Dalam aksi kemarin, massa mahasiswa memberi tenggat waktu selama dua hari agar Jokowi memberikan sikap.

 

Dengan demikian, pada Minggu (3/4/2022) kemarin, adalah waktu terakhir yang dinantikan oleh mahasiswa untuk menunggu jawaban dari Presiden.

 

Atas hal itu, AMI akan kembali akan turun ke jalan jika wacana penundaan Pemilu hingga perpanjangan masa jabatan Presiden digaungkan.

 

Hanya saja, Bayu belum bisa memastikan kapan aksi unjuk rasa tersebut akan berlangsung. (muf/pojoksatu)

Most Read

Artikel Terbaru

/