30C
Manado
Kamis, 25 Februari 2021

HCC Luncurkan Klub Okupasi, Navigasi Kesehatan Pekerja di Masa Pandemi

MANADOPOST.ID – Di masa pandemi Covid-19, Komite Penanggulangan Covid-19 Indonesia mengidentifikasi tempat kerja sebagai salah satu klaster transmisi Covid-19 dengan tingkat risiko yang beragam dan cenderung tinggi.

Banyak penelitian dan kajian epidemiologis membuktikan peran tenaga medis di tempat kerja dengan kapasitas K3 bidang kedokteran kerja atau occupational medicine semakin penting untuk mitigasi pandemi.

Terkait hal ini, Health Collaborative Center (HCC) sebagai suatu platform edukasi dan advokasi bidang kedokteran komunitas dan kedokteran kerja, meluncurkan ‘Klub Okupasi’ sebagai media Navigasi Kesehatan Pekerja Dimasa Pandemi. Klub Okupasi ini diinisiasi oleh Konsultan dan Praktisi bidang Kedokteran Kerja dari FKUI yang merupakan dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado.

Founder dan Chairman Health Collaborative Center dan Inisiator Klub Okupasi, Dr dr Ray Wagiu Basrowi MKK, menjelaskan Klub Okupasi ini dibentuk untuk memfasilitasi dokter dan penanggungjawab kesehatan pekerja di perkantoran, pabrik dan industri lainnya dalam memastikan penerapan protokol kesehatan yang solid selama masa pandemi.

“Sebagai salah satu klaster yang lokus transmisi Covid-19, dokter perusahaan dan penanggungjawab K3 wajib dibantu dan difasilitasi dalam mengimplementasikan panduan pencegahan dan mitigasi Covid-19 yang berbasis bukti ilmiah serta terukur dan efektif.Tujuan akhirnya agar proses bisnis tetap berjalan namun pekerja tetap sehat dan produktif,” kata dr. Ray saat acara peluncuran Klub Okupasi, Sabtu (06/02) secara virtual.

Menurut Dr Ray, bahwa dokter perusahaan dan departemen sumber daya manusia wajib bertukar best practice penerapan protokol serta saling update mitigasi kasus – kasus Covid-19 pada pekerja secara lintas industri. Sehingga dapat memperkecil radius transmisi kasus dari lingkunga kerja ke komunitas yang lebih luas terutama ke keluarga.

Itu sebabnya dikatakan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi ( Unsrat ) Manado ini, bahwa Health Collaborative Center terpanggil untuk membentuk wadah Klub Okupasi yang non-profit ini agar dokter perusahaan dan penanggungjawab kesehatan di tempat kerja memiliki platform untuk berinteraksi dengan sesama kolega dan akademisi, serta tentu saja pemerintah yang menjadi mitra utama wadah ini.

Sementara itu,inisiator Klub Okupasi HCC lainnya yang juga Konsultan Kedokteran Okupasi dr Yitro AC Wilar MKK SpOk, menambahkan selain untuk perlindungan kesehatan dan keselamatan pekerja selama masa pandemi, pekerja yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19 juga perlu mendapatkan intervensi dan penanganan berkesinambungan, mengingat efek Covid-19 bisa jangka panjang dan berpotensi memengaruhi kesehatan dan produktivitas pekerja di masa mendatang.

Sambung dr Yitro yang juga Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Okupasi (Perdoki) dan lulusan Faked Unsrat Manado ini menegaskan perusahaan banyak kehilangan jam kerja karena karyawan terkonfirmasi Positif COVID-19 dan harus menjalani isolasi, begitu pula dengan Kontak Erat yang dihasilkan dari setiap kasus Positif karena harus menjalani Karantina. Sehingga dokter perusahaan dan manajemen harus di berikan pengertian bahwa Kasus Covid 19 yang telah memenuhi kriteria selesai isolasi harus segera dinilai kelaikan untuk kembali bekerja.

“Dengan hadirnya Klub Okupasi HCC dapat memfasilitasi dokter perusahaan, penanggungjawab sumber daya manusia dan manajemen tempat kerja, baik perkantoran, pabrik serta instansi swasta dan pemerintahan untuk melakukan practical review dan case discussion baik secara daring maupun pendampingan langsung, terkait kesehatan pekerja selama masa pandemi ini, lebih khusus membantu pemerintah menanggulangi pandemic Covid-19 di Indonesia.

Ketua Bidang Koordinasi Relawan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 (Satgas COVID-19) Andre Rahadian SH LL M, yang ikut dalam giat tersebut secara optimis menyampaikan Maret 2021 mendatang, Pemerintah akan selesai vaksinasi untuk Nakes, kemudian dilanjutkan dengan pejabat publik dan masyarakat rentan.

“Target optimisnya awal tahun 2022 diharapkan sudah akan mencapai 70 persen rakyat Indonesia selesai divaksin. Namun jika ada masalah teknis dalam proses vaksinasi, mungkin akan selesai akhir tahun 2022,” ujarnya.(*)

Artikel Terbaru