24.6 C
Manado
Jumat, 18 Juni 2021
spot_img

Menko Polhukam Ingatkan Kasus Kapal Tanker Saat Simulasi Pesawat Asing

MANADOPOST.ID – Menko Polhukam, Mahfud MD mengingatkan, kasus pelanggaran dua kapal tanker di perairan Indonesia sebagai momentum memperkuat koordinasi dan sinergitas antar lembaga dan instansi terkait. Hal itu dikatakannya saat menghadiri simulasi penanganan pesawat asing setelah pemaksaan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/6).

”Saya beri catatan, beberapa waktu lalu ada dua kapal tanker besar dari Panama dan Iran. Kapal ini berjejer dan saling tukar-menukar minyak di wilayah (perairan) teritorial kita,” kata Mahfud MD

”Namun setelah ditangkap, muncul kesulitan (persoalan). Ini jelas melanggar kedaulatan namun tanggapan instansi justru berbeda, hampir tidak ada yang menangani, hampir (tidak ada yang proses),” lanjut Mahfud MD.

Dia menceritakan, setelah kapal ditangkap, ada instansi yang bilang hal itu masuk protokol internasional, sebaiknya dikembalikan ke negara asal dan disanksi pemerintahnya sendiri. Selain itu, ada juga yang bilang tidak ada bukti sehingga persoalan itu hampir tidak ada yang menangani.

”Itulah sehingga kita perlu koordinasi seperti yang akan kita lakukan saat ini (simulasi pesawat asing setelah pemaksaan mendarat) agar tidak terjadi hal-hal yang seperti itu (kasus tanker). Jadi koordinasi yang dilakukan Angkatan Udara hari ini (10/6) bisa menjadi contoh bagi setiap institusi,” ujar Mahfud MD.

Menko Polhukam mengatakan, pentingnya simulasi penanganan pesawat asing setelah pemaksaan mendarat untuk menghindari tumpang-tindih atau saling menghindar tanggung jawab antar instansi. Persoalan penanganan pesawat asing yang melanggar wilayah udara kedaulatan nasional, tidak cukup hanya ditangani TNI AU namun perlu kolaborasi dan sinergi dengan instansi lain.

”Pengamanan udara sudah kita dilakukan namun rumit untuk sekarang. Tidak bisa ditangani hanya satu institusi yang namanya TNI AU, perlu ada Bea Cukai, Perhubungan, semuanya. Maka perlu pelatihan (simulasi) agar kita bisa memastikan, jika ada pesawat asing melanggar teritorial bisa dipaksa turun, tentu dengan prosedur yang tepat dan terukur,” tutur Mahfud MD.

Dia menjelaskan, melalui pelatihan atau simulasi, diharapkan tidak saling menghindar lempar tanggung jawab menghindari benturan yang dapat berakibat konflik kepentingan.

Menurut dia, koordinasi melalui simulasi penting untuk menjadi contoh setiap institusi tentang pentingnya sinergitas. Dengan sosialisasi bersama, juga diharapkan ada sinergi antara unit kerja antar lembaga baik secara horizontal dan vertikal pusat dan daerah.

”Sehingga di lapangan, semua bisa mencari posisi tepat, bukan hanya sebatas aturan bukan hanya formalitas, namun harus bisa dimanfaatkan secara maksimal,” jelas Mahfud MD.(JawaPos)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru