29.4 C
Manado
Wednesday, 5 October 2022

Mabes Polri Tegas Bantah Hasil Otopsi Pertama Brigadir J Direkayasa, Irjen Dedi: Tak Ada Rekayasa

MANADOPOST.ID–Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo membantah adanya rekayasa otopsi terhadap jenazah Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J usai dibunuh.

Otopsi pertama terhadap korban memang sempat diragukan oleh pihak keluarga karena dianggap tidak sesuai dengan luka-luka yang terlihat di badan jenazah.

“Tidak ada rekayasa otopsi,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo kepada wartawan, Rabu (10/8).

Kendati demikian, Dedi tak membeberkan lebih jauh perihal otopsi ini. Menurutnya, nanti hal itu akan disampaikan oleh pihak yang lebih kompeten.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Nanti dari perhimpunan kedokteran forensik dalam waktu dekat akan mengumumkan hasil dari otopsi yang kedua atau telah kita laksanakan ekshumasi yang kemarin,” jelasnya.

Baca Juga:  Menko Airlangga Beber Hasil Evaluasi Perkembangan Covid dan Vaksinasi

Diketahui, 4 orang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus kematian Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Mereka adalah Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Brigadir Kepala Ricky Rizal (RR), Irjen Pol Ferdy Sambo (FS) dan KM.

Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto mengatakan, masing-masing tersangka memiliki peran berbeda. Untuk eksekutor penembak adalah Bharada E. “RE melakukan penembakan korban,” kata Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (9/8).

Kemudian RR dan KM berperan membantu serta menyaksikan penembakan. Terakhir Ferdy Sambo yang memerintahkan penembakan. “FS menyuruh melakukan dan menskenario, skenario seolah-olah tembak menembak,” jelas Agus.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan juncto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun.(Jawapos)

Baca Juga:  Pj Kepala Daerah Diminta Bebas Kepentingan Politik dan Paham Situasi Daerah

MANADOPOST.ID–Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo membantah adanya rekayasa otopsi terhadap jenazah Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J usai dibunuh.

Otopsi pertama terhadap korban memang sempat diragukan oleh pihak keluarga karena dianggap tidak sesuai dengan luka-luka yang terlihat di badan jenazah.

“Tidak ada rekayasa otopsi,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo kepada wartawan, Rabu (10/8).

Kendati demikian, Dedi tak membeberkan lebih jauh perihal otopsi ini. Menurutnya, nanti hal itu akan disampaikan oleh pihak yang lebih kompeten.

“Nanti dari perhimpunan kedokteran forensik dalam waktu dekat akan mengumumkan hasil dari otopsi yang kedua atau telah kita laksanakan ekshumasi yang kemarin,” jelasnya.

Baca Juga:  Dokter Sunardi Ditembak Mati, Fahri Hamzah Bilang Begini, Keras Banget!

Diketahui, 4 orang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus kematian Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Mereka adalah Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E, Brigadir Kepala Ricky Rizal (RR), Irjen Pol Ferdy Sambo (FS) dan KM.

Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto mengatakan, masing-masing tersangka memiliki peran berbeda. Untuk eksekutor penembak adalah Bharada E. “RE melakukan penembakan korban,” kata Agus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (9/8).

Kemudian RR dan KM berperan membantu serta menyaksikan penembakan. Terakhir Ferdy Sambo yang memerintahkan penembakan. “FS menyuruh melakukan dan menskenario, skenario seolah-olah tembak menembak,” jelas Agus.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan juncto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun.(Jawapos)

Baca Juga:  Kapolri Ungkap Capaian Kinerja Polri di Hari Bhayangkara ke-75

Most Read

Artikel Terbaru

/