27C
Manado
Rabu, 27 Januari 2021

Efek Samping Sinovac Lebih Kecil dari Vaksin-vaksin Lain

MANADOPOST.ID— Vaksin Sinovac ternyata memiliki efek samping yang lebih kecil dari vaksin-vaksin lainnya. Hal ini dibahas dalam webinar ‘Kupas Tuntas Vaksinasi Covid-19 Pada Tenaga Kesehatan’, Senin (11/1). Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia Prof Dr dr Iris Rengganis Sp PD-KAI membeber jika Vaksin Covid-19 dipastikan aman dahulu sebelum diberikan ke masyarakat.

“Kalau kita bicara tentang keamanan vaksin ini telah diteliti vase satu, vase dua, vase tiga dan sampai terakhir saya dengar itu aman. Jadi tidak mungkin vaksin itu diedarkan jika tidak aman. Kita harus yakin bahwa vaksin ini aman. Untuk mengetahui berapa lama vaksin ini bisa berlaku artinya dikasihnya satu bulan satu tahun atau dua tahun lagi, kita belum tahu. Nanti kita lihat sesuai dengan berjalannya waktu. Ketika berjalanan vaksinasi kita akan lihat berapa lama antibodi ini akan bertahan,” tuturnya.

Kata Prof Iris, pemberian vaksin Sinovac ini dibatasi dan diberikan pada usia 18-59 tahun. Tapi bukan berarti yang 60 tahun tidak divaksin. “Ada tapi bukan sekarang, menunggu vaksin yang berikutnya,” katanya.

Lanjutnya lagi sudah ada 1.600 orang di Bandung yang divaksin dan sejauh ini efek sampingnya seperti yang sudah biasa ditemukan sehabis suntik vaksin, yakni nyeri dan bengkak dibekas suntikan, serta sakit kepala. “Vaksin Sinovac ini harus dua kali pemberian, karena merupakan vaksin yang sudah mati dan berbeda dengan vaksin yang hidup. Intinya agar antibodi terbentuk cuma caranya yang berbeda. Vaksin ini kami belum tahu kebalnya berapa lama karena vaksin baru. Kami akan ikuti dari tiga bulan kemudian enam bulan hingga satu tahun. Kami masih mengikuti kapan pengulangan vaksinasi Covid. Jadi vaksinasi ini kami belum tahu nanti kita akan lihat bersama-sama,” ulangnya.

Ditambahkan dr Elizabeth Jane Supardi MPH Dsc, konsultansi BC Indonesia dan anggota perhimpunan ahli epidemiologi Indonesia, bahwa vaksin Sinovac ada efek sampingnya. “Efek lokalnya ada bengkak dan merah di tempat suntikan. Ada juga reaksi sistemik, misalnya pegal-pegal kemudian demam ringan. Tapi itu sangat kecil karena vaksin yang tiba ini adalah vaksin yang inactivated, vaksin yang mati. Jadi efek sampingnya itu jauh lebih kecil dari vaksin-vaksin lain yang live attenuated atau vaksin-vaksin hidup,” terangnya.

Terkait, pasien yang sudah pernah terkonfirmasi Covid, OTG, hasil PCR positif bisa divaksin, pihaknya menuturkan sesungguhnya tidak ada yang mengatakan kalau sudah pernah kena Covid dan sudah sembuh lalu tidak boleh diimunisasi. “Apalagi sekarang ini banyak yang tanpa gejala, sulit sekali bagi kami untuk memilih-milih. Karena vaksin ini jumlahnya terbatas, jadi kami memprioritaskan kepada yang belum kena Covid. Dan bagi yang sudah pernah kena kami berharap antibodinya itu masih ada masih bisa melindungi. Mungkin nanti jika jumlahnya sudah cukup kami akan berikan kepada yang sudah pernah kena. Mungkin nanti akan timbul masalah seharusnya diimunisasi sekarang tapi kita harus tahu bahwa prosesnya ini panjang sekali sampai Maret 2022. Sampai dengan bulan Maret tentu akan ada perbaikan-perbaikan. Di bulan Februari dan Maret pihak WHO akan melakukan evaluasi kepada tenaga kesehatan yang telah divaksin, mungkin saat ini belum sempurna kedepan bisa kita sempurnakan,” tutur dr Elizabeth.

“Kemudian bagi tenaga kerja yang sudah divaksin akan mendapatkan kartu tanda sudah divaksin dan akan mengisi vorm bersedia untuk datang kapan mengikuti vaksin berikutnya. Jadi dua minggu setelahnya harus divaksin lagi, ini interval minimal tidak boleh lebih pendek dari 14 hari dan tidak boleh lebih panjang dari 14 hari. Maksimumnya tidak ada tapi ini lebih kepada agar tidak kacau karena sudah diatur, misalnya hari ini siapa-siapa saja yang akan divaksin. Jika pada vaksin ke dua misalnya yang bersangkutan tidak bisa maka dia harus urus untuk meminta hari yang lain untuk divaksin,” jelasnya.

“Kita tahu efektivitas itu tidak 100 persen itu pertama, kedua ketika disuntik tubuh kita itu tidak mau sehingga antibodinya tidak terbentuk, jadi bisa berkemungkinan terinfeksi. Kami berharap tenaga kesehatan ini tempat dan cara penyuntikannya dibuat seideal mungkin dan yang disuntikpun dalam kondisi yang sehat, tidur yang cukup jangan begadang. Faktor-faktor ini bisa menganggu pembentukan antibodi. Nah agar efektivitasnya tercapai diharapkan yang akan divaksin itu sehat, itu aja,” tutupnya.(*)

Artikel Terbaru