alexametrics
31.4 C
Manado
Rabu, 18 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Hukuman Mati dan Kebiri Dinilai Tak Cukup, Jaksa Minta Aset Herry Wirawan Disita untuk Korban

MANADOPOST.ID–Predator seks Herry Wirawan dituntut hukuman mati dan kebiri. Tapi, jaksa menilai hukuman tersebut tak cukup, aset terdakwa pemerkosa santriwati itu juga bakal disita.

Herry Wirawan dianggap menyalahgunakan bantuan dari pemerintah melalui yayasan yang didirikannya. Jaksa penuntut umum, saat sidang tuntutan, menuntut sanksi tambahan pada Herry Wirawan berupa penyitaan sejumlah aset selain menuntut pidana hukuman mati.

Kasipenkum Kejati Jabar Dodi Gazali Emil mengatakan, aset yang dimiliki oleh Herry diminta untuk disita karena digunakan terdakwa untuk berbuat kejahatan.

“Jadi aset itu jika sudah disita nantinya dapat digunakan untuk para korban dan bayi yang dilahirkan,” paparnya, Rabu 12 Januari.

Dodi menambahkan, bahwa mengenai aset, itu memang ada tuntutan kepada Herry Wirawan yakni tuntutan tambahan berupa restitusi.

“Dia harus siap dengan restitusi maka aset harus diambil, karena apa? Karena itu digunakan untuk kejahatan yang bersangkutan kemudian yang bersangkutan harus bertanggung jawab dengan bagaimana masa depan orang yang sudah menjadi korban dari tindak pidananya,” jelasnya.

Adapun terkait dengan biaya restitusi senilai Rp 331 juta, merupakan total nilai keseluruhan untuk seluruh korban yang dihitung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Ini perbuatan yang sangat serius dan perbuatan yang sangat keji dan merugikan banyak anak, ini bentuk komitmen kejaksaan bagaimana melindungi anak,” paparnya.

Atas perbuatannya, Herry dikenakan Pasal 81 ayat (1), ayat (3), ayat (5) jo Pasal 76D UURI Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.41 Tahun 2016 Tentang Perubahan ke Dua Atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang Jo pasal 65 ayat (1) KUHP. (rif/pojoksatu)

MANADOPOST.ID–Predator seks Herry Wirawan dituntut hukuman mati dan kebiri. Tapi, jaksa menilai hukuman tersebut tak cukup, aset terdakwa pemerkosa santriwati itu juga bakal disita.

Herry Wirawan dianggap menyalahgunakan bantuan dari pemerintah melalui yayasan yang didirikannya. Jaksa penuntut umum, saat sidang tuntutan, menuntut sanksi tambahan pada Herry Wirawan berupa penyitaan sejumlah aset selain menuntut pidana hukuman mati.

Kasipenkum Kejati Jabar Dodi Gazali Emil mengatakan, aset yang dimiliki oleh Herry diminta untuk disita karena digunakan terdakwa untuk berbuat kejahatan.

“Jadi aset itu jika sudah disita nantinya dapat digunakan untuk para korban dan bayi yang dilahirkan,” paparnya, Rabu 12 Januari.

Dodi menambahkan, bahwa mengenai aset, itu memang ada tuntutan kepada Herry Wirawan yakni tuntutan tambahan berupa restitusi.

“Dia harus siap dengan restitusi maka aset harus diambil, karena apa? Karena itu digunakan untuk kejahatan yang bersangkutan kemudian yang bersangkutan harus bertanggung jawab dengan bagaimana masa depan orang yang sudah menjadi korban dari tindak pidananya,” jelasnya.

Adapun terkait dengan biaya restitusi senilai Rp 331 juta, merupakan total nilai keseluruhan untuk seluruh korban yang dihitung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Ini perbuatan yang sangat serius dan perbuatan yang sangat keji dan merugikan banyak anak, ini bentuk komitmen kejaksaan bagaimana melindungi anak,” paparnya.

Atas perbuatannya, Herry dikenakan Pasal 81 ayat (1), ayat (3), ayat (5) jo Pasal 76D UURI Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.41 Tahun 2016 Tentang Perubahan ke Dua Atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang Jo pasal 65 ayat (1) KUHP. (rif/pojoksatu)

Most Read

Artikel Terbaru

/