30.4 C
Manado
Selasa, 5 Juli 2022

Penipuan Online Masih Menghantui

MANADOPOST.ID-Di era digital yang serba canggih seperti sekarang ini, semuanya yang serba mudah termasuk untuk urusan keuangan buat berbagai keperluan nyatanya juga membuat para pelaku kejahatan makin canggih juga.

Memanfaatkan kecanggihan teknologi, para pelaku kejahatan kini juga mulai masuk ke ruang-ruang terdalam kehidupan kita yang sedikit banyak kerap diekspos di media sosial atau medsos.

Disadari atau tidak, pelaku kejahatan nyatanya juga bertransformasi. Ingat saat trending layanan SMS kala masih menjadi primadona buat berkomunikasi, pelaku kejahatan memanfaatkannya dengan menyebar ancaman berkedok SMS yang ternyata adalah modus operandi penipuan.

Sekarang juga, tren media sosial, aplikasi perpesanan instan atau instant messaging yang diklaim sudah sangat aman ternyata juga punya celah untuk disusupi orang-orang yang punya niat tertentu misalnya melancarkan modus kejahatan online seperti penipuan online.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Cara yang paling sering biasanya dilakukan lewat perbincangan di media sosial, chat group, dan platform lainnya, di mana pihak-pihak tak bertanggung jawab tersebut berpura-pura menjadi perwakilan dari perusahaan tertentu untuk penipuan online dan berusaha mencuri data saat melancarkan kejahatan phising.

Oleh karena itu, apabila mengalami hal ini, masyarakat harus teliti membaca dengan benar dan melihat secara saksama isi dari konten medsos, instant messaging maupun email apakah benar pengirimnya berasal dari satu institusi asli atau tidak.

Mengutip data dari Polri, pada April 2020 hingga Juli 2021 lalu, ada 259 kasus penipuan online yang terjadi di Indonesia. Dari kasus-kasus tersebut, yang sedang marak terjadi adalah penipuan pinjaman online (pinjol) ilegal melalui start-up bidang keuangan financial technology (fintech).

Untuk kasus penipuan online yang melibatkan platform fintech ilegal, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) tak tinggal diam. Kemkominfo telah melakukan berbagai upaya untuk memberantas kejahatan pinjol, salah satunya memutus akses layanan pinjol ilegal yang ditawarkan oleh fintech yang tidak terdaftar di Indonesia. Malahan, sampai 17 Agustus 2021 kemarin, Kemkominfo dibawah Menteri Johnny G.Plate telah memblokir 3.856 platform fintech ilegal. Bayangkan, angkanya menyentuh 3 ribuan.

Belum rampung penipuan online yang bermuara pada kasus pinjol, ada lagi modus lainnya misalnya orang asing yang tiba-tiba menelepon dan menawarkan hadiah atau modus salah kirim voucher tertentu.

Dengan dalih salah kirim kode voucher ke nomormu, pelaku kejahatan akan memelas agar korbannya yang secara tak sadar memberitahukan serangkaian angka yang merupakan One Time Password atau kode OTP tertentu.

Bagaimana mengatasi hal ini? Tentunya kita harus kompak bersama-sama mengatasi penipuan online pertama dengan budaya sadar privasi. Hal ini bisa berlangsung dalam level organisasi atau individual.

Ingat! Privasi sangat penting. Jangan misalnya terlalu asyik bermain medsos, ingin memamerkan sesuatu berupa tiket penerbanangan, kartu ATM baru atau hal lain yang terdapat angka-angka dan identitas pribadi kita tanpa sadar justru membagikannya ke dunia luas yang mungkin ada pihak-pihak tak bertanggung jawab mengintai.

Setiap orang yang kerap memanfaatkan ruang digital dituntut perlu secara sadar dan bijak memahami dan menerapkan budaya data privacy. Jangan sembarang berbagi informasi yang ternyata ada data diri di dalamnya.

Membuat password akun yang yang benar-benar tidak mudah ditebak juga sangat perlu. Kemudian sering-sering mengganti password, serta selalu melakukan update juga tak boleh dianggap sepele sebab update software biasanya bertujuan untuk meningkatkan fitur-fitur untuk menutup lubang (keamanan) yang bisa menjadi peluang masuknya para penjahat untuk mengambil data.

Cara membuat password atau kata sandi yang kuat dan aman juga tidak sulit. Paling mudah dan mulai bisa diterapkan sendiri adalah gunakan password berbeda di tempat dan peruntukan berbeda dan jaga kerahasiaannya.

Kemudian, seperti sudah disinggung di atas, jangan gunakan kombinasi password yang mudah ditebak seperti deret angka 1-10, tanggal lahir atau kata-kata dan atau kombinasi angka yang mudah ditebak. Hindari.

Supaya tidak lupa, gunakan aplikasi manajemen pengelolaan password yang kredibel dan terpercaya. Kita punya, BSSN atau Badan Siber dan Sandi Negara punya aplikasi password manager bernama Satria yang bisa diunduh gratis di toko aplikasi smartphone.

Kemudian, setelah secara sadar mengetahui pentingnya privasi dan data diri yang tak boleh dibagikan di ruang maya, sosialisasi dan edukasi juga perlu.

Ajak sebanyak-banyaknya rekan, kerabat dan anggota keluarga kita untuk mulai melek privasi dan menjaga ruang digital kita aman dan bersih dari upaya kejahatan dalam hal ini penipuan online.

Anggap bahwa sosialisasi atau edukasi ini menjadi tanggung jawab kita semua sehingga kita bisa secara sadar menjaga ruang digital kita lebih aman.

Jika ada aktivitas mencurigakan ke situs atau medsos milik kita, segera laporkan aktivitas tersebut lewat fitur Laporkan yang ada pada masing-masing platform. Abaikan lampiran email atau alamat web yang dikirim seseorang yang tidak kamu kenal. Jangan langsung tergiur dengan tawaran menarik yang datang di medsos.

Selain itu, pantau notifikasi dari setiap transaksi. Jika kamu menerima notifikasi atas transaksi yang tidak diketahui, segera menghubungi bank melalui call center agar ditindaklanjuti.

Simpan kontak-kontak resmi bank terkait agar kamu terhindar dari penipuan yang mengatasnamakan bank. Di media sosial, biasanya kontak resmi dilengkapi dengan tanda centang biru. Kemudian, kalau sudah terlanjur menjadi korban penipuan online, segera laporkan penipuan ke instansi atau lembaga terkait misalnya ke laman cekrekening.id milik Kemkominfo.

Selain itu, bisa juga mengadukan laporan lainnya ke situs Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat atau LAPOR yang dibuat oleh Kantor Staf Presiden di lapor.go.id. Laman ini dibuat sebagai sarana aspirasi dan pengaduan berbasis media sosial yang mudah diakses serta terpadu dengan 81 kementerian/lembaga, 44 BUMN, dan lima Pemda.

Cara melapornya juga mudah. Cukup dengan menceritakan kronologi kejadian disertai bukti-bukti lengkap. Nantinya, pihak administrator akan menindaklanjuti laporan ke instansi terkait. Kita juga dapat melihat status perkembangan laporan secara mudah di platform tersebut.

Dari diri kita dengan mengajak orang lain, yuk mulai sekarang bersama-sama sadar akan bahaya penipuan online di ruang digital yang mengintai kita. Zaman boleh cepat berubah dan makin canggih, tapi kita juga harus #MakinCakapDigital dan menjadi garda terdepan untuk menciptakan dunia digital yang lebih aman dan sehat buat siapapun.

Kontribusi sekecil apapun dari kita dapat melindungi banyak orang. Ajak sebanyak mungkin saudara, sahabat, hingga lingkungan terdekat kita untuk sama-sama sadar akan bahaya yang mengintai di ruang digital misalnya penipuan online.

Melihat kebutuhan tersebut, Kemkominfo dan Siberkreasi menginisiasi Gerakan Nasional Literasi Digital. Program ini turut mengajak masyarakat untuk membuat konten kreatif yang positif dan memanfaatkan internet secara bijak serta bertanggungjawab.

Untuk informasi menarik mengenai literasi digital lainnya, kunjungi laman Siberkreasi melalui https://info.literasidigital.id dan media sosialnya di sini.(gnr)

MANADOPOST.ID-Di era digital yang serba canggih seperti sekarang ini, semuanya yang serba mudah termasuk untuk urusan keuangan buat berbagai keperluan nyatanya juga membuat para pelaku kejahatan makin canggih juga.

Memanfaatkan kecanggihan teknologi, para pelaku kejahatan kini juga mulai masuk ke ruang-ruang terdalam kehidupan kita yang sedikit banyak kerap diekspos di media sosial atau medsos.

Disadari atau tidak, pelaku kejahatan nyatanya juga bertransformasi. Ingat saat trending layanan SMS kala masih menjadi primadona buat berkomunikasi, pelaku kejahatan memanfaatkannya dengan menyebar ancaman berkedok SMS yang ternyata adalah modus operandi penipuan.

Sekarang juga, tren media sosial, aplikasi perpesanan instan atau instant messaging yang diklaim sudah sangat aman ternyata juga punya celah untuk disusupi orang-orang yang punya niat tertentu misalnya melancarkan modus kejahatan online seperti penipuan online.

Cara yang paling sering biasanya dilakukan lewat perbincangan di media sosial, chat group, dan platform lainnya, di mana pihak-pihak tak bertanggung jawab tersebut berpura-pura menjadi perwakilan dari perusahaan tertentu untuk penipuan online dan berusaha mencuri data saat melancarkan kejahatan phising.

Oleh karena itu, apabila mengalami hal ini, masyarakat harus teliti membaca dengan benar dan melihat secara saksama isi dari konten medsos, instant messaging maupun email apakah benar pengirimnya berasal dari satu institusi asli atau tidak.

Mengutip data dari Polri, pada April 2020 hingga Juli 2021 lalu, ada 259 kasus penipuan online yang terjadi di Indonesia. Dari kasus-kasus tersebut, yang sedang marak terjadi adalah penipuan pinjaman online (pinjol) ilegal melalui start-up bidang keuangan financial technology (fintech).

Untuk kasus penipuan online yang melibatkan platform fintech ilegal, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) tak tinggal diam. Kemkominfo telah melakukan berbagai upaya untuk memberantas kejahatan pinjol, salah satunya memutus akses layanan pinjol ilegal yang ditawarkan oleh fintech yang tidak terdaftar di Indonesia. Malahan, sampai 17 Agustus 2021 kemarin, Kemkominfo dibawah Menteri Johnny G.Plate telah memblokir 3.856 platform fintech ilegal. Bayangkan, angkanya menyentuh 3 ribuan.

Belum rampung penipuan online yang bermuara pada kasus pinjol, ada lagi modus lainnya misalnya orang asing yang tiba-tiba menelepon dan menawarkan hadiah atau modus salah kirim voucher tertentu.

Dengan dalih salah kirim kode voucher ke nomormu, pelaku kejahatan akan memelas agar korbannya yang secara tak sadar memberitahukan serangkaian angka yang merupakan One Time Password atau kode OTP tertentu.

Bagaimana mengatasi hal ini? Tentunya kita harus kompak bersama-sama mengatasi penipuan online pertama dengan budaya sadar privasi. Hal ini bisa berlangsung dalam level organisasi atau individual.

Ingat! Privasi sangat penting. Jangan misalnya terlalu asyik bermain medsos, ingin memamerkan sesuatu berupa tiket penerbanangan, kartu ATM baru atau hal lain yang terdapat angka-angka dan identitas pribadi kita tanpa sadar justru membagikannya ke dunia luas yang mungkin ada pihak-pihak tak bertanggung jawab mengintai.

Setiap orang yang kerap memanfaatkan ruang digital dituntut perlu secara sadar dan bijak memahami dan menerapkan budaya data privacy. Jangan sembarang berbagi informasi yang ternyata ada data diri di dalamnya.

Membuat password akun yang yang benar-benar tidak mudah ditebak juga sangat perlu. Kemudian sering-sering mengganti password, serta selalu melakukan update juga tak boleh dianggap sepele sebab update software biasanya bertujuan untuk meningkatkan fitur-fitur untuk menutup lubang (keamanan) yang bisa menjadi peluang masuknya para penjahat untuk mengambil data.

Cara membuat password atau kata sandi yang kuat dan aman juga tidak sulit. Paling mudah dan mulai bisa diterapkan sendiri adalah gunakan password berbeda di tempat dan peruntukan berbeda dan jaga kerahasiaannya.

Kemudian, seperti sudah disinggung di atas, jangan gunakan kombinasi password yang mudah ditebak seperti deret angka 1-10, tanggal lahir atau kata-kata dan atau kombinasi angka yang mudah ditebak. Hindari.

Supaya tidak lupa, gunakan aplikasi manajemen pengelolaan password yang kredibel dan terpercaya. Kita punya, BSSN atau Badan Siber dan Sandi Negara punya aplikasi password manager bernama Satria yang bisa diunduh gratis di toko aplikasi smartphone.

Kemudian, setelah secara sadar mengetahui pentingnya privasi dan data diri yang tak boleh dibagikan di ruang maya, sosialisasi dan edukasi juga perlu.

Ajak sebanyak-banyaknya rekan, kerabat dan anggota keluarga kita untuk mulai melek privasi dan menjaga ruang digital kita aman dan bersih dari upaya kejahatan dalam hal ini penipuan online.

Anggap bahwa sosialisasi atau edukasi ini menjadi tanggung jawab kita semua sehingga kita bisa secara sadar menjaga ruang digital kita lebih aman.

Jika ada aktivitas mencurigakan ke situs atau medsos milik kita, segera laporkan aktivitas tersebut lewat fitur Laporkan yang ada pada masing-masing platform. Abaikan lampiran email atau alamat web yang dikirim seseorang yang tidak kamu kenal. Jangan langsung tergiur dengan tawaran menarik yang datang di medsos.

Selain itu, pantau notifikasi dari setiap transaksi. Jika kamu menerima notifikasi atas transaksi yang tidak diketahui, segera menghubungi bank melalui call center agar ditindaklanjuti.

Simpan kontak-kontak resmi bank terkait agar kamu terhindar dari penipuan yang mengatasnamakan bank. Di media sosial, biasanya kontak resmi dilengkapi dengan tanda centang biru. Kemudian, kalau sudah terlanjur menjadi korban penipuan online, segera laporkan penipuan ke instansi atau lembaga terkait misalnya ke laman cekrekening.id milik Kemkominfo.

Selain itu, bisa juga mengadukan laporan lainnya ke situs Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat atau LAPOR yang dibuat oleh Kantor Staf Presiden di lapor.go.id. Laman ini dibuat sebagai sarana aspirasi dan pengaduan berbasis media sosial yang mudah diakses serta terpadu dengan 81 kementerian/lembaga, 44 BUMN, dan lima Pemda.

Cara melapornya juga mudah. Cukup dengan menceritakan kronologi kejadian disertai bukti-bukti lengkap. Nantinya, pihak administrator akan menindaklanjuti laporan ke instansi terkait. Kita juga dapat melihat status perkembangan laporan secara mudah di platform tersebut.

Dari diri kita dengan mengajak orang lain, yuk mulai sekarang bersama-sama sadar akan bahaya penipuan online di ruang digital yang mengintai kita. Zaman boleh cepat berubah dan makin canggih, tapi kita juga harus #MakinCakapDigital dan menjadi garda terdepan untuk menciptakan dunia digital yang lebih aman dan sehat buat siapapun.

Kontribusi sekecil apapun dari kita dapat melindungi banyak orang. Ajak sebanyak mungkin saudara, sahabat, hingga lingkungan terdekat kita untuk sama-sama sadar akan bahaya yang mengintai di ruang digital misalnya penipuan online.

Melihat kebutuhan tersebut, Kemkominfo dan Siberkreasi menginisiasi Gerakan Nasional Literasi Digital. Program ini turut mengajak masyarakat untuk membuat konten kreatif yang positif dan memanfaatkan internet secara bijak serta bertanggungjawab.

Untuk informasi menarik mengenai literasi digital lainnya, kunjungi laman Siberkreasi melalui https://info.literasidigital.id dan media sosialnya di sini.(gnr)

Most Read

Artikel Terbaru

/