25.2 C
Manado
Jumat, 12 Agustus 2022

Reaksi PBNU Terkait Aksi Herry Wiryawan Cabuli 21 Santriwati, Dukung Hukuman Kebiri

MANADOPOST.ID–Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras tindakan asusila yang dilakukan Herry Wiryawan terhadap 21 santriwati di pondok pesantren miliknya. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Helmy Faishal Zaini menegaskan, tindakan tersebut merupakan sangat biadab.

“Mengecam keras dan mengutuk tindakan pencabulan yang dilakukan oleh Herry Wiryawan. Ini adalah sebuah tindakan yang sangat biadab,” kata Helmy dalam keterangannya, Minggu (12/12).

Helmy menyampaikan, pihaknya mendorong dan percaya sepenuhnya kepada Polri untuk menindak tegas perbuatan Herry Wiryawan. Dia meyakini, pihak kepolisian bergerak cepat dan cermat dalam menangani kasus ini.

“Apa yang dilakukan oleh Herry sangat jauh dari akhlak yang diajarkan dan ditradisi oleh kalangan pesantren,” cetus Helmy.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Bahkan Helmy mengharapkan, tindakan yang dilakukan Herry harus ditindak dengan hukuman yang seberat-beratnya, termasuk kebiri. Sebab perbuatannya telah merugikan banyak pihak.

“Dia telah menimbulkan trauma dan sekaligus merengggut masa depan korban,” tegas Helmy.

Sebelumnya, fakta kasus perkosaan santriwati yang dilakukan Herry Wiryawan cukup mencengangkan. Pasalnya, korban yang awalnya 12 orang kini bertambah menjadi 21 orang.

Hal itu terungkap pada perkembangan kasus pemerkosaan Herry Wirawan yang diungkap Ketua P2TP2A Kabupaten Garut Diah Kurniasari. Saat ini, pihaknya masih melakukan pendampingan terhadap pada korban perkosaan Herry Wiryawan.

Diah mengungkap, santriwati saat jadi korban pemerkosaan Herry Wirawan itu rata-rata masih di bawah umur. “Mereka rata-rata dipergauli itu umur 13-an, sejak 2016 sampai 2021 mereka belajar di sana. Semuanya sebenarnya ada 21 korban, 8 orang sudah melahirkan,” kata Diah seperti diberitakan PojokSatu (Jawa Pos Group).

Sebanyak 21 korban itu adalah santriwati Madani Boarding School, Cibiru, Kota Bandung. Para korban yang sebelumnya hamil, semuanya saat ini sudah melahirkan.

“Semua bayi berada di ibunya mereka masing-masing yang asalnya dari dua kecamatan di Garut,” bebernya.

Dia menyebut, 21 santriwati korban pemerkosaan Herry Wirawan itu sebagian besar berasal dari Garut, yang merupakan kampung halaman pelaku. Diah mengungkapkan, awalnya para keluarga korban tak terima anaknya yang masih belasan tahun melahirkan bayi hasil perkosaan pelaku.

“Namanya anak bayi dan itu cucu darah daging mereka, akhirnya mereka mau merawatnya,” pungkas Diah.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras tindakan asusila yang dilakukan Herry Wiryawan terhadap 21 santriwati di pondok pesantren miliknya. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Helmy Faishal Zaini menegaskan, tindakan tersebut merupakan sangat biadab.

“Mengecam keras dan mengutuk tindakan pencabulan yang dilakukan oleh Herry Wiryawan. Ini adalah sebuah tindakan yang sangat biadab,” kata Helmy dalam keterangannya, Minggu (12/12).

Helmy menyampaikan, pihaknya mendorong dan percaya sepenuhnya kepada Polri untuk menindak tegas perbuatan Herry Wiryawan. Dia meyakini, pihak kepolisian bergerak cepat dan cermat dalam menangani kasus ini.

“Apa yang dilakukan oleh Herry sangat jauh dari akhlak yang diajarkan dan ditradisi oleh kalangan pesantren,” cetus Helmy.

Bahkan Helmy mengharapkan, tindakan yang dilakukan Herry harus ditindak dengan hukuman yang seberat-beratnya, termasuk kebiri. Sebab perbuatannya telah merugikan banyak pihak.

“Dia telah menimbulkan trauma dan sekaligus merengggut masa depan korban,” tegas Helmy.

Sebelumnya, fakta kasus perkosaan santriwati yang dilakukan Herry Wiryawan cukup mencengangkan. Pasalnya, korban yang awalnya 12 orang kini bertambah menjadi 21 orang.

Hal itu terungkap pada perkembangan kasus pemerkosaan Herry Wirawan yang diungkap Ketua P2TP2A Kabupaten Garut Diah Kurniasari. Saat ini, pihaknya masih melakukan pendampingan terhadap pada korban perkosaan Herry Wiryawan.

Diah mengungkap, santriwati saat jadi korban pemerkosaan Herry Wirawan itu rata-rata masih di bawah umur. “Mereka rata-rata dipergauli itu umur 13-an, sejak 2016 sampai 2021 mereka belajar di sana. Semuanya sebenarnya ada 21 korban, 8 orang sudah melahirkan,” kata Diah seperti diberitakan PojokSatu (Jawa Pos Group).

Sebanyak 21 korban itu adalah santriwati Madani Boarding School, Cibiru, Kota Bandung. Para korban yang sebelumnya hamil, semuanya saat ini sudah melahirkan.

“Semua bayi berada di ibunya mereka masing-masing yang asalnya dari dua kecamatan di Garut,” bebernya.

Dia menyebut, 21 santriwati korban pemerkosaan Herry Wirawan itu sebagian besar berasal dari Garut, yang merupakan kampung halaman pelaku. Diah mengungkapkan, awalnya para keluarga korban tak terima anaknya yang masih belasan tahun melahirkan bayi hasil perkosaan pelaku.

“Namanya anak bayi dan itu cucu darah daging mereka, akhirnya mereka mau merawatnya,” pungkas Diah.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/