24.4 C
Manado
Senin, 15 Agustus 2022

Wagub Jabar Tegaskan, Pemerkosaan Santriwati Bukan Terjadi di Pesantren, Ini Penjelasannya

MANADOPOST.ID–Kasus viral pemerkosaan Herry Wiryawan terhadap santriwati di Kota Bandung bukan terjadi di Pondok Pesantren. Ditegaskan Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum, kasus pemerkosaan terjadi di lembaga pendidikan berjenis Boarding School.

Lalu, apa apa yang membedakan Pondok Pesantren dan Boarding School? Wakil Gubernur, sebelumnya menilai kasus yang terjadi di Kota Bandung tersebut sudah cukup mencemari nama baik Pondok Pesantren, padahal kejadian bejat itu terjadi di Boarding School atau sekolah ber- asrama.

Sementara nama Pondok Pesantren sendiri justru sudah ada sejak dahulu kala bahkan sebelum Republik Indonesia merdeka. Cukup disayangkan, kasus di Bandung menyeret nama Pondok Pesantren, setidaknya membuat sebagian orang tua resah.

“Ternyata yang di Bandung itu kan Bukan Pesantren ya? tapi kan boarding school, dengan pondok pesantren sangat berbeda, dan jauh,” tutur Uu Ruzhanul Ulum dilansir dari Jabarekspres.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Pak Uu—Sapaan Akrab Wagub Jabar ini menilai, terdapat sejumlah unsur yang menjadi ciri pendidikan Pondok Pesantren. Diantaranya meliputi unsur kyai, santri menetap (muqim), pondok, masjid, dan yang utama adalah kajian kitab kuning.

Tak kalah penting di Pondok Pesantren juga biasanya ditanamkan rasa nasionalisme, dan cinta terhadap NKRI kepada para santrinya.

“Definisi pesantren saja, satu harus ada pengajian kitab kuning. Kedua, harus ada masjid, asrama, ketiga harus ada ajengan,” tutur Pak Uu.

“Kalau pesantren itukan yang dipelajarinya 12 pan antara lain ilmu tauhid, fiqih, tasawuf, Qur’an, hadist, nawhu, balagoh, dan yang lain itu namanya pesantren. Kemudian juga bersumber kepada kitab kuning, jadi (sangat) berbeda dengan boarding school,” paparnya.

Belum lagi, suatu Pondok Pesantren biasanya berdiri berbasis masyarakat, serta tanpa mengharapkan provit bagi pendiri,ataupun  bagi para santrinya tidak mengharapkan Ijazah.

MANADOPOST.ID–Kasus viral pemerkosaan Herry Wiryawan terhadap santriwati di Kota Bandung bukan terjadi di Pondok Pesantren. Ditegaskan Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum, kasus pemerkosaan terjadi di lembaga pendidikan berjenis Boarding School.

Lalu, apa apa yang membedakan Pondok Pesantren dan Boarding School? Wakil Gubernur, sebelumnya menilai kasus yang terjadi di Kota Bandung tersebut sudah cukup mencemari nama baik Pondok Pesantren, padahal kejadian bejat itu terjadi di Boarding School atau sekolah ber- asrama.

Sementara nama Pondok Pesantren sendiri justru sudah ada sejak dahulu kala bahkan sebelum Republik Indonesia merdeka. Cukup disayangkan, kasus di Bandung menyeret nama Pondok Pesantren, setidaknya membuat sebagian orang tua resah.

“Ternyata yang di Bandung itu kan Bukan Pesantren ya? tapi kan boarding school, dengan pondok pesantren sangat berbeda, dan jauh,” tutur Uu Ruzhanul Ulum dilansir dari Jabarekspres.

Pak Uu—Sapaan Akrab Wagub Jabar ini menilai, terdapat sejumlah unsur yang menjadi ciri pendidikan Pondok Pesantren. Diantaranya meliputi unsur kyai, santri menetap (muqim), pondok, masjid, dan yang utama adalah kajian kitab kuning.

Tak kalah penting di Pondok Pesantren juga biasanya ditanamkan rasa nasionalisme, dan cinta terhadap NKRI kepada para santrinya.

“Definisi pesantren saja, satu harus ada pengajian kitab kuning. Kedua, harus ada masjid, asrama, ketiga harus ada ajengan,” tutur Pak Uu.

“Kalau pesantren itukan yang dipelajarinya 12 pan antara lain ilmu tauhid, fiqih, tasawuf, Qur’an, hadist, nawhu, balagoh, dan yang lain itu namanya pesantren. Kemudian juga bersumber kepada kitab kuning, jadi (sangat) berbeda dengan boarding school,” paparnya.

Belum lagi, suatu Pondok Pesantren biasanya berdiri berbasis masyarakat, serta tanpa mengharapkan provit bagi pendiri,ataupun  bagi para santrinya tidak mengharapkan Ijazah.

Most Read

Artikel Terbaru

/