30.4 C
Manado
Selasa, 5 Juli 2022

KemenPPPA Angkat Bicara Kasus Pengasuh Panti Berusia 63 Tahun Tega Sodomi Anak Asuhnya

MANADOPOST.ID–Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mengecam terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak dalam bentuk sodomi yang diduga dilakukan oleh seorang pengasuh Panti Asuhan inisial SM, 63.

Korbannya adalah anak asuhnya berinisial NF, 12. Peristiwa itu terjadi di Kota Bitung, Sulawesi Utara. KemenPPPA meminta ada tindakan tegas terhadap pelaku.

“Perbuatan terduga pelaku yang seorang pengasuh Panti Asuhan sangat tercela. Terduga pelaku dipercaya mengasuh anak-anak laki-laki agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, nyatanya merusak kepercayaan itu dengan perbuatan kejinya melakukan sodomi,” kata Deputi Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Nahar, Selasa (14/6).

Nahar menegaskan, kasus ini menjadi perhatian serius KemenPPPA untuk memastikan korban anak mendapatkan pendampingan hukum dan psikis. KemenPPPA melakukan koordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) untuk melakukan penjangkauan terhadap korban, membantu memulihkan mental dan trauma korban atas peristiwa yang dialaminya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Nahar mengatakan, terduga pelaku telah melakukan perbuatan kejinya berupa sodomi dan mempertontonkan film porno lewat ponsel kepada anak asuhnya sejak 2019-2022 selama di Panti Asuhan, yang juga sekaligus taman pengajian.

Kasus ini akhirnya terungkap karena korban berani memberontak dan melaporkan perbuatan pelaku kepada salah seorang kerabatnya.

“Saat ini ada satu korban anak yang melapor. Apabila masih ada korban anak asuh lainnya di Panti Asuhan tersebut, kami harapkan untuk berani bicara dan melapor,” imbuhnya.

Polres Bitung bertindak cepat menangkap terduga pelaku, dan telah melakukan visum et repertum terhadap korban, serta menyita barang bukti ponsel.

“KemenPPPA akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas, mulai dari proses hukum hingga reintegrasi sosial korban ke lingkungan masyarakat. Proses pemulihan korban sangat perlu dan menjadi perhatian serius kami dan mendesak hukuman tegas terhadap pelaku atas tindakan kejahatannya,” pungkas Nahar.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mengecam terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak dalam bentuk sodomi yang diduga dilakukan oleh seorang pengasuh Panti Asuhan inisial SM, 63.

Korbannya adalah anak asuhnya berinisial NF, 12. Peristiwa itu terjadi di Kota Bitung, Sulawesi Utara. KemenPPPA meminta ada tindakan tegas terhadap pelaku.

“Perbuatan terduga pelaku yang seorang pengasuh Panti Asuhan sangat tercela. Terduga pelaku dipercaya mengasuh anak-anak laki-laki agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, nyatanya merusak kepercayaan itu dengan perbuatan kejinya melakukan sodomi,” kata Deputi Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Nahar, Selasa (14/6).

Nahar menegaskan, kasus ini menjadi perhatian serius KemenPPPA untuk memastikan korban anak mendapatkan pendampingan hukum dan psikis. KemenPPPA melakukan koordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) untuk melakukan penjangkauan terhadap korban, membantu memulihkan mental dan trauma korban atas peristiwa yang dialaminya.

Nahar mengatakan, terduga pelaku telah melakukan perbuatan kejinya berupa sodomi dan mempertontonkan film porno lewat ponsel kepada anak asuhnya sejak 2019-2022 selama di Panti Asuhan, yang juga sekaligus taman pengajian.

Kasus ini akhirnya terungkap karena korban berani memberontak dan melaporkan perbuatan pelaku kepada salah seorang kerabatnya.

“Saat ini ada satu korban anak yang melapor. Apabila masih ada korban anak asuh lainnya di Panti Asuhan tersebut, kami harapkan untuk berani bicara dan melapor,” imbuhnya.

Polres Bitung bertindak cepat menangkap terduga pelaku, dan telah melakukan visum et repertum terhadap korban, serta menyita barang bukti ponsel.

“KemenPPPA akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas, mulai dari proses hukum hingga reintegrasi sosial korban ke lingkungan masyarakat. Proses pemulihan korban sangat perlu dan menjadi perhatian serius kami dan mendesak hukuman tegas terhadap pelaku atas tindakan kejahatannya,” pungkas Nahar.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/