24.4 C
Manado
Minggu, 26 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Bali Dibuka untuk Turis, Begini Strategi Pemerintah Cegah Lonjakan Kasus Covid-19

- Advertisement -

MANADOPOST.ID— Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Maxi Rondonuwu membeberkan rencana pemerintah agar tidak terjadi lonjakan kasus pasca pembukaan penerbangan internasional dan turis mancanegara di Bali.

Pertama yang akan dilakukan adalah menekan mobilitas. Hal ini sudah dilakukan pemerintah dengan PPKM. Lalu mengimbau masyarakat untuk patuh pada protokol kesehatan.

”Selanjutnya memperkuat pintu masuk negara,” katanya kemarin. Ini tentu bukan hanya pekerjaan Kementerian Kesehatan saja. Namun ada tanggungjawab Kementerian Perhubungan dan Imigrasi.

Pemerintah memberlakukan karantina selama lima hari bagi pelaku perjalanan internasional. Pertimbangannya adalah turis mancanegara yang datang sudah vaksin dua kali. Lalu sudah melakukan PCR di negaranya. ”Pada hari pertama (tiba di Indonesia) akan dilakukan PCR. Kalau negatif karantina di hotel lima hari,” ucapnya.

- Advertisement -

Kebijakan karantina ini rencananya akan diberlakukan juga untuk pelancong domestik. Tentu ketika kebijakan karantina untuk warga negara asing sudah kuat, maka bisa jadi akan diberlakukan juga untuk warga Indonesia.

Tempat-tempat wisata selain Bali kini juga sudah mulai bersiap untuk menerima wisatawan. Salah satunya adalah di Baduy. Yang digencarkan adalah vaksinasi. Pada Agustus lalu, suku Baduy masih menolak untuk vaksinasi Covid-19. Namun, sosialisasi terus dilakukan.

Kemarin dilakukan vaksinasi untuk warga Baduy. Menurut catatan Puskesmas Cisemeut, ada sasaran 8000an warga Baduy yang bisa divaksin. Tapi yang lengkap persyaratannya, termasuk memiliki NIK, baru 200 warga.

Maxi mengakui bahwa vaksinasi ini menjadi tantangan. Terutama bagi daerah yang terpencil. Namun tetap harus dilakukan karena selain berdampak pada kesehatan juga berdampak pada ekonomi masyarakat.

Cara yang dilakukan pemerintah menurut Maxi ada beberapa. Pertama adalah membentuk pos vaksinasi Covid-19. Kedua, mengajak TNI dan Polri untuk berkolaborasi. Selanjutnya adalah mengandeng BKKBN karena lembaga ini memiliki program dengan pendekatan keluarga.(jawapos)

MANADOPOST.ID— Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Maxi Rondonuwu membeberkan rencana pemerintah agar tidak terjadi lonjakan kasus pasca pembukaan penerbangan internasional dan turis mancanegara di Bali.

Pertama yang akan dilakukan adalah menekan mobilitas. Hal ini sudah dilakukan pemerintah dengan PPKM. Lalu mengimbau masyarakat untuk patuh pada protokol kesehatan.

”Selanjutnya memperkuat pintu masuk negara,” katanya kemarin. Ini tentu bukan hanya pekerjaan Kementerian Kesehatan saja. Namun ada tanggungjawab Kementerian Perhubungan dan Imigrasi.

Pemerintah memberlakukan karantina selama lima hari bagi pelaku perjalanan internasional. Pertimbangannya adalah turis mancanegara yang datang sudah vaksin dua kali. Lalu sudah melakukan PCR di negaranya. ”Pada hari pertama (tiba di Indonesia) akan dilakukan PCR. Kalau negatif karantina di hotel lima hari,” ucapnya.

Kebijakan karantina ini rencananya akan diberlakukan juga untuk pelancong domestik. Tentu ketika kebijakan karantina untuk warga negara asing sudah kuat, maka bisa jadi akan diberlakukan juga untuk warga Indonesia.

Tempat-tempat wisata selain Bali kini juga sudah mulai bersiap untuk menerima wisatawan. Salah satunya adalah di Baduy. Yang digencarkan adalah vaksinasi. Pada Agustus lalu, suku Baduy masih menolak untuk vaksinasi Covid-19. Namun, sosialisasi terus dilakukan.

Kemarin dilakukan vaksinasi untuk warga Baduy. Menurut catatan Puskesmas Cisemeut, ada sasaran 8000an warga Baduy yang bisa divaksin. Tapi yang lengkap persyaratannya, termasuk memiliki NIK, baru 200 warga.

Maxi mengakui bahwa vaksinasi ini menjadi tantangan. Terutama bagi daerah yang terpencil. Namun tetap harus dilakukan karena selain berdampak pada kesehatan juga berdampak pada ekonomi masyarakat.

Cara yang dilakukan pemerintah menurut Maxi ada beberapa. Pertama adalah membentuk pos vaksinasi Covid-19. Kedua, mengajak TNI dan Polri untuk berkolaborasi. Selanjutnya adalah mengandeng BKKBN karena lembaga ini memiliki program dengan pendekatan keluarga.(jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/