alexametrics
27.4 C
Manado
Minggu, 22 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Novel Baswedan: Takut Kena OTT KPK? Ya Jangan Terima Suap

MANADOPOST.ID-Mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyampaikan, operasi tangkap tangan (OTT) jika diberi tahu lebih awal merupakan kebocoran informasi.

Menurut Novel, jika aparatur sipil negara (ASN) takut terjaring OTT seharusnya tidak melakukan praktik rasuah.

Pernyataan ini disampaikan Novel menanggapi viralnya ucapan Bupati Banyumas Achmad Husein yang meminta KPK, apabila ingin melakukan OTT terlebih dulu bisa melakukan imbauan.

“Kalau diberitahu dulu, itu bocorkan OTT. Takut kena OTT? Ya jangan terima suap,” kata Novel dalam cuitan pada akun media sosial Twitter pribadinya, Senin (15/11).

Novel menjelaskan, OTT selalu dikaitkan dengan prilaku korupsi delik suap. Menurutnya, dalam Undang-Undang tindak pidana korupsi (Tipikor), suap dikategorikan menerima hadiah atau janji.

“OTT selalu terkait dengan perbuatan korupsi delik suap. Suap itu dalam UU Tipikor disebut menerima hadiah/janji. Artinya setuju untuk menerima (menerima janji) sudah merupakan pidana selesai,” ucap Novel.

“Sehingga petugas yang mau OTT tinggal lihat di lapangan apakah pejabat tersebut berbuat suap,” imbuhnya.

Oleh karena itu, jika dalam proses penyelidikan ada bukti penerimaan suap. Maka aparat penegak hukum bisa langsung menjaring pejabat yang memainkan praktik korupsi tersebut.

“Bila diketahui terima, petugas tinggal OTT dan ambil bukti-buktinya. Kalau dibilang sebelum di OTT dicegah dulu, itu salah paham. Karena hampir selalu perbuatan menerima janjinya sudah dilakukan,” tegas Novel.

Sebagaimana diketahui, pernyataan Bupati Banyumas Achmad Husein viral di media sosial. Video berdurasi 24 detik itu meminta agar KPK melakukan imbauan terlebih dulu kepada kepala daerah yang ingin di OTT.

“Kami para kepala daerah, kami semua takut dan tidak mau di-OTT. Maka kami mohon kepada KPK sebelum OTT, mohon kalau ditemukan kesalahan, sebelum OTT kami dipanggil dahulu. Kalau ternyata dia itu berubah, ya, sudah lepas begitu. Tapi kalau kemudian tidak berubah, baru ditangkap Pak,” ujar Husein dalam cuplikan video tersebut.(Jawapos)

MANADOPOST.ID-Mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyampaikan, operasi tangkap tangan (OTT) jika diberi tahu lebih awal merupakan kebocoran informasi.

Menurut Novel, jika aparatur sipil negara (ASN) takut terjaring OTT seharusnya tidak melakukan praktik rasuah.

Pernyataan ini disampaikan Novel menanggapi viralnya ucapan Bupati Banyumas Achmad Husein yang meminta KPK, apabila ingin melakukan OTT terlebih dulu bisa melakukan imbauan.

“Kalau diberitahu dulu, itu bocorkan OTT. Takut kena OTT? Ya jangan terima suap,” kata Novel dalam cuitan pada akun media sosial Twitter pribadinya, Senin (15/11).

Novel menjelaskan, OTT selalu dikaitkan dengan prilaku korupsi delik suap. Menurutnya, dalam Undang-Undang tindak pidana korupsi (Tipikor), suap dikategorikan menerima hadiah atau janji.

“OTT selalu terkait dengan perbuatan korupsi delik suap. Suap itu dalam UU Tipikor disebut menerima hadiah/janji. Artinya setuju untuk menerima (menerima janji) sudah merupakan pidana selesai,” ucap Novel.

“Sehingga petugas yang mau OTT tinggal lihat di lapangan apakah pejabat tersebut berbuat suap,” imbuhnya.

Oleh karena itu, jika dalam proses penyelidikan ada bukti penerimaan suap. Maka aparat penegak hukum bisa langsung menjaring pejabat yang memainkan praktik korupsi tersebut.

“Bila diketahui terima, petugas tinggal OTT dan ambil bukti-buktinya. Kalau dibilang sebelum di OTT dicegah dulu, itu salah paham. Karena hampir selalu perbuatan menerima janjinya sudah dilakukan,” tegas Novel.

Sebagaimana diketahui, pernyataan Bupati Banyumas Achmad Husein viral di media sosial. Video berdurasi 24 detik itu meminta agar KPK melakukan imbauan terlebih dulu kepada kepala daerah yang ingin di OTT.

“Kami para kepala daerah, kami semua takut dan tidak mau di-OTT. Maka kami mohon kepada KPK sebelum OTT, mohon kalau ditemukan kesalahan, sebelum OTT kami dipanggil dahulu. Kalau ternyata dia itu berubah, ya, sudah lepas begitu. Tapi kalau kemudian tidak berubah, baru ditangkap Pak,” ujar Husein dalam cuplikan video tersebut.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/