26.4 C
Manado
Selasa, 5 Juli 2022

Meski Dituding Novel Akibat Rezim, Kedubes RI Kirim Nota Diplomatik ke Kemenlu Singapura soal UAS

MANADOPOST.ID-Kedutaan Besar RI di Singapura mengirimkan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Singapura guna menanyakan alasan penolakan terhadap Ustaz Abdul Somad (UAS) yang hendak melakukan kunjungan ke negara setempat.

 

“KBRI masih menunggu keterangan lebih lanjut dari Kementerian Luar Negeri Singapura atas Nota Diplomatik tersebut,” demikian keterangan resmi KBRI Singapura yang diterima di Batam, Kepulauan Riau, Selasa (17/5).

 

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Dalam keterangan itu disebutkan, Pihak KBRI di Singapura langsung melakukan komunikasi dengan Immigration and Checkpoints Authority (ICA) begitu menerima informasi mengenai adanya penolakan atas seorang WNI.

 

Dari komunikasi tersebut, KBRI Singapura menerima informasi dari ICA Singapura bahwa penolakan (refusal of entry) didasarkan alasan tidak eligible untuk mendapatkan ijin masuk berdasarkan kebijakan imigrasi, (being ineligible for the issue of a pass under current immigration policies). Penolakan itu dilakukan kepada UAS dan enam anggota rombongannya.

 

Kantor Imigrasi Batam memastikan dokumen keimigrasian milik Ustadz Abdul Somad lengkap saat melakukan perjalanan ke Singapura. “Untuk keberangkatan, dokumen keimigrasian yang digunakan UAS lengkap. Untuk itu berangkat dari Batam ke Singapura kemarin tidak ada masalah,” ujar Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Batam Subki Miuldi.

 

Hasil pemeriksaan dokumen itu berdasarkan laporan dari petugas pemeriksaan imigrasi di Pelabuhan Internasional Batam Center. Subki juga menjelaskan bahwa UAS hanya berangkat dengan rombongan kecil yang diduga merupakan anggota keluarga dengan menggunakan kapal Majestic dari Batam Center menuju Tanah Merah, Singapura.

 

“Tidak ada pendamping atau protokoler dari UAS yang ikut. Hanya rombongan inti saja. Mengenai jumlah rombongan kebetulan kita juga tidak mengetahuinya,” ungkapnya.

 

Untuk kabar yang beredar luas tentang UAS dideportasi, Subki menegaskan bahwa UAS tidak dideportasi, melainkan ditolak masuk saat masih berada di bagian pemeriksaan paspor Pelabuhan Tanah Merah.

 

“Bahasanya bukan dideportasi, melainkan ditolak saat masih dalam proses pemeriksaan dokumen keimigrasian oleh petugas di sana,” tegasnya.

 

Sebelumnya, Wasekjen PA 212 Novel Bamukmin menilai dideportasinya Ustad Abdul Somad (UAS) dari Singapura tak terlepas dari kepanikan rezim ini atas pengaruh dakwah UAS di masyarakat.

 

UAS juga, kata Novel Bamukmin, bukan seorang ulama penjilat kekuasaan sehingga ia kerap menjadi sasaran rezim ini.

 

“Saya melihat ada yang panik dengan pengaruh dakwahnya UAS dan semakin banyak pendukungnya dan UAS bukan merupakan ulama penjilat kekuasaan,” kata Novel saat dihubungi pojoksatu.id, Selasa (17/5/2022).

 

Menurut Novel, dilarangnya UAS masuk ke Singapura tentu juga tak terlepas dari intervensi pemerintah Indonesia.

 

Pasalnya dakwah UAS juga sudah meluas terhadap WNI yang ada di Indonesia.

 

“Gak heran ada upaya upaya yang ingin menghambat dakwahnya termasuk di luar negeri tentunya rezim ini diduga sudah mengkondisikannya,” ujarnya.

 

Selain itu, kata Novel, penjegalan UAS juga tak terlepas dari Pemilu 2024. Sebab UAS mempunyai pengaruh besar terhadap WNI yang ada di Singapura.

 

“Di Singapura juga banyak WNI yang bekerja di sana, sehingga ada satu langkah untuk bisa menjegal dakwah UAS karena para WNI jelas mempunyai hak suara di Pemilu 2024,” ujarnya.

 

“Sehingga dari sekarang sudah mulai menjegal UAS agar pengaruh UAS di Singapura tidak sampai kepada para WNI di sana,” tegasnya.(antara/pojoksatu/jawapos/fajar)

MANADOPOST.ID-Kedutaan Besar RI di Singapura mengirimkan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Singapura guna menanyakan alasan penolakan terhadap Ustaz Abdul Somad (UAS) yang hendak melakukan kunjungan ke negara setempat.

 

“KBRI masih menunggu keterangan lebih lanjut dari Kementerian Luar Negeri Singapura atas Nota Diplomatik tersebut,” demikian keterangan resmi KBRI Singapura yang diterima di Batam, Kepulauan Riau, Selasa (17/5).

 

Dalam keterangan itu disebutkan, Pihak KBRI di Singapura langsung melakukan komunikasi dengan Immigration and Checkpoints Authority (ICA) begitu menerima informasi mengenai adanya penolakan atas seorang WNI.

 

Dari komunikasi tersebut, KBRI Singapura menerima informasi dari ICA Singapura bahwa penolakan (refusal of entry) didasarkan alasan tidak eligible untuk mendapatkan ijin masuk berdasarkan kebijakan imigrasi, (being ineligible for the issue of a pass under current immigration policies). Penolakan itu dilakukan kepada UAS dan enam anggota rombongannya.

 

Kantor Imigrasi Batam memastikan dokumen keimigrasian milik Ustadz Abdul Somad lengkap saat melakukan perjalanan ke Singapura. “Untuk keberangkatan, dokumen keimigrasian yang digunakan UAS lengkap. Untuk itu berangkat dari Batam ke Singapura kemarin tidak ada masalah,” ujar Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Batam Subki Miuldi.

 

Hasil pemeriksaan dokumen itu berdasarkan laporan dari petugas pemeriksaan imigrasi di Pelabuhan Internasional Batam Center. Subki juga menjelaskan bahwa UAS hanya berangkat dengan rombongan kecil yang diduga merupakan anggota keluarga dengan menggunakan kapal Majestic dari Batam Center menuju Tanah Merah, Singapura.

 

“Tidak ada pendamping atau protokoler dari UAS yang ikut. Hanya rombongan inti saja. Mengenai jumlah rombongan kebetulan kita juga tidak mengetahuinya,” ungkapnya.

 

Untuk kabar yang beredar luas tentang UAS dideportasi, Subki menegaskan bahwa UAS tidak dideportasi, melainkan ditolak masuk saat masih berada di bagian pemeriksaan paspor Pelabuhan Tanah Merah.

 

“Bahasanya bukan dideportasi, melainkan ditolak saat masih dalam proses pemeriksaan dokumen keimigrasian oleh petugas di sana,” tegasnya.

 

Sebelumnya, Wasekjen PA 212 Novel Bamukmin menilai dideportasinya Ustad Abdul Somad (UAS) dari Singapura tak terlepas dari kepanikan rezim ini atas pengaruh dakwah UAS di masyarakat.

 

UAS juga, kata Novel Bamukmin, bukan seorang ulama penjilat kekuasaan sehingga ia kerap menjadi sasaran rezim ini.

 

“Saya melihat ada yang panik dengan pengaruh dakwahnya UAS dan semakin banyak pendukungnya dan UAS bukan merupakan ulama penjilat kekuasaan,” kata Novel saat dihubungi pojoksatu.id, Selasa (17/5/2022).

 

Menurut Novel, dilarangnya UAS masuk ke Singapura tentu juga tak terlepas dari intervensi pemerintah Indonesia.

 

Pasalnya dakwah UAS juga sudah meluas terhadap WNI yang ada di Indonesia.

 

“Gak heran ada upaya upaya yang ingin menghambat dakwahnya termasuk di luar negeri tentunya rezim ini diduga sudah mengkondisikannya,” ujarnya.

 

Selain itu, kata Novel, penjegalan UAS juga tak terlepas dari Pemilu 2024. Sebab UAS mempunyai pengaruh besar terhadap WNI yang ada di Singapura.

 

“Di Singapura juga banyak WNI yang bekerja di sana, sehingga ada satu langkah untuk bisa menjegal dakwah UAS karena para WNI jelas mempunyai hak suara di Pemilu 2024,” ujarnya.

 

“Sehingga dari sekarang sudah mulai menjegal UAS agar pengaruh UAS di Singapura tidak sampai kepada para WNI di sana,” tegasnya.(antara/pojoksatu/jawapos/fajar)

Most Read

Artikel Terbaru

/