24.4 C
Manado
Sabtu, 20 Agustus 2022

ANEH! Pengamat Heran, Bharada E Tamtama Level Terbawah, Gunakan Senjata yang Biasa Dipakai Perwira

MANADOPOST.ID–Penggunaan pistol jenis Glock 17 oleh Bharada E saat baku tembak dengan Brigadir J menuai banyak pertanyaan. Sebab, untuk seorang anggota dengan status Tamtama tidak lazim menggunakan senjata tersebut.

Pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Study (ISESS), Bambang Rukminto mengatakan, Glok biasanya digunakan oleh anggota polisi berstatus perwira. Sehingga janggal ketika anggota Tamtama memakai senjata tersebut.

“Iya (janggal), tidak selayaknya seorang Tamtama, level paling bawah direkomendasikan menggunakan senjata raja-raja,” kata Bambang kepada JawaPos.com, Senin (18/7).

Bambang menjelaskan, penggunaan senjata api untuk anggota polisi diatur dalam Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 1 Tahun 2022.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Sayangnya dalam aturan tersebut tidak dirinci polisi dengan pangkat apa untuk jenis senjata apinya. Dalam aturan hanya dijelaskan pemakaian senjata api harus mendapat rekomendasi atasan.

“Tetapi ada Peraturan Dasar Kepolisian yang mengatur bahwa seorang Tamtama diperkenankan membawa senjata api hanya pada acara-acara tertentu seperti piket, penjagaan ksatrian, operasi, yang terikat waktu,” ucapnya.

“Artinya senjata itu tidak menempel setiap waktu pada personel dan harus tetap berada atau dikembalikan pada tempat penyimpanan setelah kegiatan dilakukan,” imbuhnya.

Dalam Peraturan Dasar Kepolisian tersebut dijelaskan jika senjata jenis pistol untuk perwira dan bintara. Sedangkan untuk Tamtama adalah senjata laras panjang.

“Harusnya peraturan dasar kepolisian tersebut juga ada Perkapnya. Tetapi dalam Perkap 1/2022 itu tidak tertulis ketentuan jenis apa untuk level apa. Ini yang saya sampaikan sejak awal bahwa aturan penggunaan senjata api untuk personel kepolisian dalam Perkap tersebut sangat longgar,” pungkas Bambang.

Sebelumnya, baku tembak antara sesama anggota polisi terjadi di rumah dinas Perwira Tinggi (Pati) Polri di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Peristiwa ini melibatkan Brigadir J dan Barada E. Keduanya dikabarkan adalah ajudan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.

“Benar telah terjadi pada hari Jumat, 8 juli 2022, kurang lebih jam 17.00 atau jam 5 sore,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (11/7).

Peristiwa bermula saat Brigadir Nopryansah Josua memasuki area rumah dinas pejabat Polri. Dia kemudian ditegur oleh Barada E.

“Saat itu yang bersangkutan (Brigadir J) mengacungkan senjata, kemudian melakukan penembakan, dan Barada E tentu menghindar dan membalas tembakan terhadap Brigadir J,” imbuhnya.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Penggunaan pistol jenis Glock 17 oleh Bharada E saat baku tembak dengan Brigadir J menuai banyak pertanyaan. Sebab, untuk seorang anggota dengan status Tamtama tidak lazim menggunakan senjata tersebut.

Pengamat Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Study (ISESS), Bambang Rukminto mengatakan, Glok biasanya digunakan oleh anggota polisi berstatus perwira. Sehingga janggal ketika anggota Tamtama memakai senjata tersebut.

“Iya (janggal), tidak selayaknya seorang Tamtama, level paling bawah direkomendasikan menggunakan senjata raja-raja,” kata Bambang kepada JawaPos.com, Senin (18/7).

Bambang menjelaskan, penggunaan senjata api untuk anggota polisi diatur dalam Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 1 Tahun 2022.

Sayangnya dalam aturan tersebut tidak dirinci polisi dengan pangkat apa untuk jenis senjata apinya. Dalam aturan hanya dijelaskan pemakaian senjata api harus mendapat rekomendasi atasan.

“Tetapi ada Peraturan Dasar Kepolisian yang mengatur bahwa seorang Tamtama diperkenankan membawa senjata api hanya pada acara-acara tertentu seperti piket, penjagaan ksatrian, operasi, yang terikat waktu,” ucapnya.

“Artinya senjata itu tidak menempel setiap waktu pada personel dan harus tetap berada atau dikembalikan pada tempat penyimpanan setelah kegiatan dilakukan,” imbuhnya.

Dalam Peraturan Dasar Kepolisian tersebut dijelaskan jika senjata jenis pistol untuk perwira dan bintara. Sedangkan untuk Tamtama adalah senjata laras panjang.

“Harusnya peraturan dasar kepolisian tersebut juga ada Perkapnya. Tetapi dalam Perkap 1/2022 itu tidak tertulis ketentuan jenis apa untuk level apa. Ini yang saya sampaikan sejak awal bahwa aturan penggunaan senjata api untuk personel kepolisian dalam Perkap tersebut sangat longgar,” pungkas Bambang.

Sebelumnya, baku tembak antara sesama anggota polisi terjadi di rumah dinas Perwira Tinggi (Pati) Polri di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Peristiwa ini melibatkan Brigadir J dan Barada E. Keduanya dikabarkan adalah ajudan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.

“Benar telah terjadi pada hari Jumat, 8 juli 2022, kurang lebih jam 17.00 atau jam 5 sore,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (11/7).

Peristiwa bermula saat Brigadir Nopryansah Josua memasuki area rumah dinas pejabat Polri. Dia kemudian ditegur oleh Barada E.

“Saat itu yang bersangkutan (Brigadir J) mengacungkan senjata, kemudian melakukan penembakan, dan Barada E tentu menghindar dan membalas tembakan terhadap Brigadir J,” imbuhnya.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/