25.4 C
Manado
Senin, 15 Agustus 2022

Menko Polhukam Mahfud MD Akui Supersemar Soeharto Telah Banyak Bantu Orang Tak Mampu

MANADOPOST.ID–Yayasan Supersemar yang didirikan oleh Presiden kedua, Soeharto telah membantu banyak masyarakat dalam hal pendidikan. Tak sedikit para penerima beasiswa ini telah sukses di masa sekarang.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD sebagai salah satu penerima beasiswa tak menampik Supersemar telah banyak membantu warga. Dia juga mengakui apa yang diceritakan cicit Presiden Soeharto, Haryo Putra Wibowo.

“Cerita cucu Pak Harto ini benar. Saya adalah penerima beasiswa Supersemar saat kuliah. Kepada Mas Haryo saya bilang, Yayasan Supersemar yang didirikan Pak Harto telah banyak membantu orang tak mampu agar bisa menempuh pendidikan yang baik. Pejabat sekarang banyak yang alumni Supersemar,” kata Mahfud MD di akun Twitter resminya.

Soeharto dianggap telah terbukti meninggalkan banyak legasi yang manfaatnya dapat dirasakan hinggi kini. Selain Mahfud, penerima beasiswa Supersemar lainnya seperti Menteri Sekretaris Negara Pratikno, mantan Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, pakar fisika/matematika Yohanes Surya, mantan Menristek Muhammad AS Hikam, pendiri Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia – LP3I HM Syahrial Yusuf, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Said Didu dan masih banyak lagi. Sedikitnya, beasiswa Yayasan Supersemar sudah diberikan kepada 2,75 juta siswa dan mahasiswa pilihan.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Sementara itu, pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin juga merasakan langsung dampak positif dari Supersemar. Padahal beasiswa tersebut dia dapat saat berkuliah di masa-masa akhir kepemimpinan Soeharto.

Ujang tidak heran apabila banyak pejabat yang ternyata juga sebagai penerima beasiswa Yayasan Supersemar. Pasalnya mereka justru akan lebih mudah mendapatkan karena hidup pada saat kepemimpinan Soeharto.

“Apalagi mereka orang-orang Orde Baru, saya kan diujung akhir Orde Baru kuliahnya, setelah Reformasi ya tahun 1999 sampai 2003 saya masih merasakan,” kata Ujang.

Keberadaan Yayasan Supersemar yang terus berdiri telah membuat Ujang merasa terbantu untuk menjalankan program strata satunya. Terlebih dirinya adalah anak petani yang kurang mampu.

“Sebagai mahasiswa saya anak petani yang berangkat dari orang miskin saya merasa terbantu, pokoknya prinsipnya setiap beasiswa apapun pasti akan membantu,” pungkasnya.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Yayasan Supersemar yang didirikan oleh Presiden kedua, Soeharto telah membantu banyak masyarakat dalam hal pendidikan. Tak sedikit para penerima beasiswa ini telah sukses di masa sekarang.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD sebagai salah satu penerima beasiswa tak menampik Supersemar telah banyak membantu warga. Dia juga mengakui apa yang diceritakan cicit Presiden Soeharto, Haryo Putra Wibowo.

“Cerita cucu Pak Harto ini benar. Saya adalah penerima beasiswa Supersemar saat kuliah. Kepada Mas Haryo saya bilang, Yayasan Supersemar yang didirikan Pak Harto telah banyak membantu orang tak mampu agar bisa menempuh pendidikan yang baik. Pejabat sekarang banyak yang alumni Supersemar,” kata Mahfud MD di akun Twitter resminya.

Soeharto dianggap telah terbukti meninggalkan banyak legasi yang manfaatnya dapat dirasakan hinggi kini. Selain Mahfud, penerima beasiswa Supersemar lainnya seperti Menteri Sekretaris Negara Pratikno, mantan Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, pakar fisika/matematika Yohanes Surya, mantan Menristek Muhammad AS Hikam, pendiri Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia – LP3I HM Syahrial Yusuf, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Said Didu dan masih banyak lagi. Sedikitnya, beasiswa Yayasan Supersemar sudah diberikan kepada 2,75 juta siswa dan mahasiswa pilihan.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin juga merasakan langsung dampak positif dari Supersemar. Padahal beasiswa tersebut dia dapat saat berkuliah di masa-masa akhir kepemimpinan Soeharto.

Ujang tidak heran apabila banyak pejabat yang ternyata juga sebagai penerima beasiswa Yayasan Supersemar. Pasalnya mereka justru akan lebih mudah mendapatkan karena hidup pada saat kepemimpinan Soeharto.

“Apalagi mereka orang-orang Orde Baru, saya kan diujung akhir Orde Baru kuliahnya, setelah Reformasi ya tahun 1999 sampai 2003 saya masih merasakan,” kata Ujang.

Keberadaan Yayasan Supersemar yang terus berdiri telah membuat Ujang merasa terbantu untuk menjalankan program strata satunya. Terlebih dirinya adalah anak petani yang kurang mampu.

“Sebagai mahasiswa saya anak petani yang berangkat dari orang miskin saya merasa terbantu, pokoknya prinsipnya setiap beasiswa apapun pasti akan membantu,” pungkasnya.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/