alexametrics
30.4 C
Manado
Selasa, 28 September 2021
spot_img

Australia, Singapura, dan India Bantu Pencarian Kapal Selam KRI Nanggala-402

MANADOPOST.ID— Pasca KRI Nanggala-402 dilaporkan hilang kontak Kamis dini hari (21/4), TNI AL berusaha sekuat tenaga mencari kapal tersebut. Termasuk dengan mengirimkan distres ISMERLO (International Submarine Escape and Rescue Liaison Officer).

Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan bahwa beberapa negara sudah merespons distres ISMERLO tersebut. Di antaranya Angkatan Laut dari Singapura, Australia, dan India. Saat dihubungi  Jawa Pos (grup manadopost.id), Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyatakan bahwa KRI Nanggala-402 masih dalam pencarian.

“Pencarian di perairan Bali, 60 mil dari Bali,” ungkap dia. Hadi menyatakan, pencarian dilakukan oleh seluruh kapal TNI AL yang memiliki kemampuan deteksi bawah air. Beberapa KRI yang ikut andil dalam pencarian itu adalah KRI Raden Eddy Martadinata-331, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, dan KRI Dipenogor-365.

Ketiga kapal perang tersebut melaksanakan pencarian memakai sonar aktif di lokasi yang menjadi titik penyelaman KRI Nanggala-402. Data yang diterima dari TNI AL, kapal selam tersebut meminta izin menyelam kepada Komandan Gugus Tugas Penembakan dalam Latihan Penembakan Senjata Strategis TNI AL pukul 03.00 WIB, Tidak lama setelah itu kapal yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Heri Oktavian itu hilang kontak. Kemudian tidak bisa dihubungi oleh pusat komando.

Guna memastikan pencarian kapal selam tersebut berlangsung secara total dan maksimal, panglima TNI langsung bertolak ke Bali. “Besok pagi (hari ini, Red) saya ke sararan (area pencarain),” imbuhnya. KRI Rigel-933 yang punya kemampuan deteksi bawah air juga dikirim dari Jakarta. Mereka sudah berangkat sejak kemarin sore. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Julius Widjojono menjelaskan bahwa kapal itu memang punya peran penting dalam latihan yang dilaksanakan di Perairan Bali. “Bawa torpedo latihan,” ungkap Julius.

Keterangan itu selaras dengan yang disampaikan oleh Panglima Komando Armada (Koarmada) III Laksamana Muda TNI I. N. G. Sudhartawan saat melaksanakan gelar kesiapan Latihan Penembakan Senjata Strategis TNI AL yang dilaksanakan di Dermaga Ujung Markas Komando Koarmada II, Surabaya Selasa (20/4). “Dalam pelaksanaan inti latihan penembakan kali ini ada tiga KRI yang memainkan peran utama, yakni KRI Nanggala-402 yang akan melaksanakan penembakan torpedo SUT (Surface and Underwater Target),” imbuhnya.Selain itu, ada KRI Hiu-634 dan KRI Layang-635 yang akan melaksanakan penembakan rudal C-802 di Laut Bali.

Berdasar informasi yang diterima oleh Julius, besar kemungkinan KRI Nanggala-402 saat ini terjebak di dasar laut. “Kemungkinan di (kedalaman) 600 sampai 700 meter,” imbuhnya. Dugaannya kapal mengalami black out saat melakukan selam statis. Sehingga menyebabkan kapal tidak terkendali dan tidak dapat melaksanakan prosedur kedaruratan untuk kembali naik ke permukaan laut. “Dugaannya gangguan kelistrikan,” ungkap pakar militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi.

Menurut Fahmi, KRI Nanggala-402 tidak mungkin kelebihan beban saat melaksanakan tugas latihan. Meski membawa 53 personel TNI AL dan torpedo SUT di dalam kapal, dia percaya itu sudah dihitung dengan sangat matang oleh TNI AL. “Angkatan Laut pasti mempersiapkan alutsitanya sebelum dikirim latihan,” imbuhnya. Persiapan itu merupakan prosedur yang wajib dijalani. Tidak satu pun alutsista boleh ikut dalam misi, baik misi latihan maupun operasi, dalam keadaan tidak siap. Karena itu, dia yakin bahwa kapal selam yang hilang kontak itu dalam keadaan siap.

Namun demikian, Fahmi tidak menapik kemungkinan faktor-faktor lain yang bisa menyebabkan munculnya gangguan. Apalagi bila mengingat usia kapal selam tersebut. “Umurnya sudah 40 tahun,” ucap Fahmi. Sejak masuk ke jajaran Satkalsel TNI AL pada 1981, KRI Nanggala-402 memang sudah melalui berbagai macam penugasan. Kapal selam itu juga sudah beberapa kali overhoul. “Kapal itu ternyata sudah  overhoul dan peremajaan sistem di Korea,” tambah Fahmi.

Untuk itu, Fahmi menyatakan bahwa ke depan harus dilakukan evaluasi yang benar-benar serius menyangkut alutsista berumur tua. Meski masih layak dan dalam keadaan siap operasi, alutsista yang sudah berusia puluhan tahun tetap harus diperhatikan lebih ekstra. Sebab, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kerugiaannya menjadi berlibat. Bukan hanya kehilangan alutsita, TNI juga bisa kehilangan personel yang sudah dilatih dengan baik. “Itu (kehilangan personel) kerugian yang paling besar,” imbuhnya.

Di samping dugaan gangguan kelistrikan, KRI Nanggala-402 juga diduga mengalami kebocoran atau kerusakan di bagian tangki. Dugaan itu muncul setelah pencarian lewat udara mendapati tumpahan minyak atau bahan bakar di lokasi awal kapal selam itu menyelam. Dengan kondisi tersebut, Fahmi menyatakan bahwa, seluruh tim pencarian kini harus bekerja cepat. “Mereka berkejaran dengan waktu,” kata dia. Pencarian dan evakuasi harus cepat dilakukan agar persentase menyelamatkan seluruh awak kapal tetap besar. Menurut dia itu yang terpeting dan harus diupayakan maksimal oleh TNI AL.(jpg)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru