23.4 C
Manado
Saturday, 4 February 2023

Sambo Minta Dibebaskan, Mengaku Frustrasi Jadi Sasaran Caci Maki

MANADOPOST.ID– Ferdy Sambo, Ricky Rizal Wibowo, dan Kuat Ma’ruf memanfaatkan sidang pembacaan pleidoi untuk meminta keringanan hukuman dari majelis hakim dalam perkara pembunuhan berencana Brigadir Polisi Yosua Hutabarat. Ricky dan Kuat bahkan memohon supaya bebas dari seluruh dakwaan serta tuntutan jaksa penuntut umum (JPU).

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) kemarin (24/1), Sambo menjadi terdakwa yang paling akhir dibawa ke ruang sidang. Selain penasihat hukumnya, mantan kepala Divisi Propam Polri itu turut membacakan nota pembelaan secara langsung. Pleidoinya diberi judul Setitik Harapan dalam Sesak Pengadilan. ”Nota pembelaan ini awalnya hendak saya beri judul Pembelaan yang Sia-Sia,” tuturnya.

Menurut Sambo, judul itu terpikir dalam benaknya lantaran tekanan yang luar biasa besar selama sidang berlangsung. Dia mengaku sering merasa putus asa dan frustrasi atas hinaan, caci maki, dan olok-olok yang ditujukan kepada dirinya maupun keluarga. ”Berbagai tuduhan, bahkan vonis telah dijatuhkan kepada saya sebelum adanya putusan majelis hakim,” ungkap eks jenderal bintang dua Polri tersebut.

Bahkan, kata Sambo, tekanan itu sudah dirasakan sejak awal persidangan. Hingga dia merasa nyaris kehilangan hak sebagai terdakwa meski sidang masih jauh dari putusan. Selama 28 tahun bertugas sebagai penegak hukum, dia menangani berbagai perkara. Termasuk perkara pembunuhan. Namun, belum pernah sekali pun dia melihat seorang terdakwa mendapat tekanan serupa yang dirasakan olehnya dan keluarga.

Baca Juga:  Kabareskrim Polri Bantah Pernah Beri Informasi ke Pengacara Brigadir J Terkait "Si Cantik"
1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Di luar perkara yang didakwakan, lanjut Sambo, dirinya telah dituduh menyiksa Yosua secara sadis, menjadi bandar narkoba dan judi, berselingkuh dan menikah siri dengan banyak perempuan, berbuat LGBT, memiliki bunker yang penuh uang, serta menyimpan uang ratusan triliun di rekening Yosua. Bahkan istrinya, Putri Candrawathi, disebut berselingkuh dengan Kuat dan Yosua. ”Yang kesemuanya adalah tidak benar,” tegas dia.

Setelah puluhan tahun mengabdi di kepolisian hingga mendapatkan kedudukan tinggi dan terhormat, Sambo mengaku tidak pernah terbayangkan sedikit pun akan mengalami peristiwa yang membuat dirinya jatuh sangat dalam. Selama dalam tahanan, dia mengaku banyak merenung dan menyesal.

Dalam pleidoinya, Sambo mengaku marah dan kalut setelah mendengar cerita dari istrinya. Bahwa pada 7 Juli 2022, Yosua memerkosa istrinya. ”Tidak ada kata-kata yang dapat saya ungkapkan saat itu. Dunia serasa berhenti berputar, darah saya mendidih, hati saya bergejolak, otak saya kusut membayangkan semua cerita itu,” bebernya.

Baca Juga:  Respon MUI Terkait Cuitan Ferdinand Hutahaean: Sangat Menyakiti Hati Umat, Minta Maaf Terbuka

Melalui penasihat hukumnya, Sambo memohon keringanan hukuman dari majelis hakim. Mereka bahkan meminta majelis hakim menyatakan Sambo secara sah dan meyakinkan tidak bersalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 (tentang pembunuhan berencana) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Pun dengan dakwaan terkait pelanggaran Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sebelum Sambo, Kuat lebih dulu membacakan pleidoi. Dia meminta majelis hakim membebaskan dirinya dari segala dakwaan dan tuntutan. Menurut penasihat hukumnya, Kuat tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana.

Ricky juga meminta majelis hakim membebaskannya dari segala dakwaan dan tuntutan jaksa. Dia menyatakan tidak pernah melakukan perbuatan bersama-sama atau turut serta untuk membunuh Yosua. ”Agar majelis hakim berkenan menerima pembelaan yang saya ajukan dan pembelaan yang disampaikan penasihat hukum saya, membebaskan saya dari dakwaan dan tuntutan,” harap Ricky. (syn/c19/fal/jawapos)

MANADOPOST.ID– Ferdy Sambo, Ricky Rizal Wibowo, dan Kuat Ma’ruf memanfaatkan sidang pembacaan pleidoi untuk meminta keringanan hukuman dari majelis hakim dalam perkara pembunuhan berencana Brigadir Polisi Yosua Hutabarat. Ricky dan Kuat bahkan memohon supaya bebas dari seluruh dakwaan serta tuntutan jaksa penuntut umum (JPU).

Dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) kemarin (24/1), Sambo menjadi terdakwa yang paling akhir dibawa ke ruang sidang. Selain penasihat hukumnya, mantan kepala Divisi Propam Polri itu turut membacakan nota pembelaan secara langsung. Pleidoinya diberi judul Setitik Harapan dalam Sesak Pengadilan. ”Nota pembelaan ini awalnya hendak saya beri judul Pembelaan yang Sia-Sia,” tuturnya.

Menurut Sambo, judul itu terpikir dalam benaknya lantaran tekanan yang luar biasa besar selama sidang berlangsung. Dia mengaku sering merasa putus asa dan frustrasi atas hinaan, caci maki, dan olok-olok yang ditujukan kepada dirinya maupun keluarga. ”Berbagai tuduhan, bahkan vonis telah dijatuhkan kepada saya sebelum adanya putusan majelis hakim,” ungkap eks jenderal bintang dua Polri tersebut.

Bahkan, kata Sambo, tekanan itu sudah dirasakan sejak awal persidangan. Hingga dia merasa nyaris kehilangan hak sebagai terdakwa meski sidang masih jauh dari putusan. Selama 28 tahun bertugas sebagai penegak hukum, dia menangani berbagai perkara. Termasuk perkara pembunuhan. Namun, belum pernah sekali pun dia melihat seorang terdakwa mendapat tekanan serupa yang dirasakan olehnya dan keluarga.

Baca Juga:  Abu Janda Sebut Pria Bergamis yang Tendang Sesajen Bibit ISIS, Berharap Tak Ada Meterai Damai

Di luar perkara yang didakwakan, lanjut Sambo, dirinya telah dituduh menyiksa Yosua secara sadis, menjadi bandar narkoba dan judi, berselingkuh dan menikah siri dengan banyak perempuan, berbuat LGBT, memiliki bunker yang penuh uang, serta menyimpan uang ratusan triliun di rekening Yosua. Bahkan istrinya, Putri Candrawathi, disebut berselingkuh dengan Kuat dan Yosua. ”Yang kesemuanya adalah tidak benar,” tegas dia.

Setelah puluhan tahun mengabdi di kepolisian hingga mendapatkan kedudukan tinggi dan terhormat, Sambo mengaku tidak pernah terbayangkan sedikit pun akan mengalami peristiwa yang membuat dirinya jatuh sangat dalam. Selama dalam tahanan, dia mengaku banyak merenung dan menyesal.

Dalam pleidoinya, Sambo mengaku marah dan kalut setelah mendengar cerita dari istrinya. Bahwa pada 7 Juli 2022, Yosua memerkosa istrinya. ”Tidak ada kata-kata yang dapat saya ungkapkan saat itu. Dunia serasa berhenti berputar, darah saya mendidih, hati saya bergejolak, otak saya kusut membayangkan semua cerita itu,” bebernya.

Baca Juga:  Pakar Hukum Sulut Apresiasi Kapolri Ungkap Kasus Brigadir Joshua, Palilingan: Kerja Keras, Cerdas

Melalui penasihat hukumnya, Sambo memohon keringanan hukuman dari majelis hakim. Mereka bahkan meminta majelis hakim menyatakan Sambo secara sah dan meyakinkan tidak bersalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 (tentang pembunuhan berencana) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Pun dengan dakwaan terkait pelanggaran Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sebelum Sambo, Kuat lebih dulu membacakan pleidoi. Dia meminta majelis hakim membebaskan dirinya dari segala dakwaan dan tuntutan. Menurut penasihat hukumnya, Kuat tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana.

Ricky juga meminta majelis hakim membebaskannya dari segala dakwaan dan tuntutan jaksa. Dia menyatakan tidak pernah melakukan perbuatan bersama-sama atau turut serta untuk membunuh Yosua. ”Agar majelis hakim berkenan menerima pembelaan yang saya ajukan dan pembelaan yang disampaikan penasihat hukum saya, membebaskan saya dari dakwaan dan tuntutan,” harap Ricky. (syn/c19/fal/jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru