24.4 C
Manado
Senin, 15 Agustus 2022

Olah Sampah Jadi Pelet, Menteri Sandiaga Uno Apresiasi program Co-firing PLN

MANADOPOST.ID- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengapresiasi program co-firing PLN yang memanfaatkan hasil olahan sampah biomassa (pelet) menjadi bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Ropa di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tak hanya untuk pembangkit, pelet juga dimanfaatkan warga Ende sebagai bahan bakar memasak. Menteri Sandiaga, berharap program ini harus terus dilanjutkan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Ia juga mengajak setiap pihak untuk mendorong kualitas dan keberlanjutan pariwisata di Ende, karena mengingat di wilayah Ende terdapat ratusan destinasi wisata, baik itu wisata alam maupun budaya.

“Ayo gerak bersama antara PLN, Pemerintah Kabupaten Ende, garap potensi pariwisata bersama. Pada intinya kami sangat support karena pariwisata yang berkualitas di era pandemi mengutamakan pariwisata yang bersih, ramah dan berkelanjutan,” ujarnya saat Kickoff Continuous Run Cofiring di PLTU Ropa dan Wisata Energi Bersih di Kabupaten Ende, Jumat (25/6/2021).

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Direktur Mega Proyek dan EBT PLN, Wiluyo Kusdwiharto, menjelaskan program co-firing merupakan bagian dari transformasi PLN untuk mendukung program peningkatan bauran energi baru terbarukan 23 persen hingga 2025.

Tak hanya di Ende, program co-firing juga dilakukan PLN di 54 lokasi PLTU di Indonesia hingga 2024. “Semoga program ini dapat menjadi solusi penanganan sampah sekaligus membangun ekonomi kerakyatan di daerah, PLN siap sinergi untuk menjalankan program ini,” tutur Wiluyo.

Pihaknya memulai program co-firing di Ende pada tahun lalu. Melalui program ini, PLN melatih warga setempat untuk mengolah sampah biomassa menjadi pelet dengan membangun tempat pengolahan sampah. Sampah yang dijadikan pelet ini berasal dari sampah sisa masakan, dedaunan, sampah rumput dan organik lainnya.

Selain lebih ramah lingkungan, pemanfaat pelet bisa menekan biaya pembelian minyak tanah yang biasanya bisa mencapai Rp 200-700 ribu per bulan.

“Kami mengalokasikan dana sebesar Rp 855,73 juta melalui PLN Peduli, yang melibatkan peran serta masyarakat untuk mendukung program co-firing PLTU Ropa. Pelet yang digunakan sangat mempengaruhi perekonomian, juga pelet mengatasi permasalahan sampah, khususnya sampah organik, diberikan ruang untuk diolah dan hasilnya terbukti pelet sampah menjadi pengganti minyak tanah untuk memasak,” kata General Manager Unit Induk NTT Agustinus Djatmiko.

Tak berhenti di situ, kehadiran program ini juga telah mendorong berkembangnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setempat yang bergerak di bidang pembuatan kompor pelet.

“UMKM ini bisa membuat kompor pelet yang murah dan diproduksi massal. PLN juga menyambut baik dukungan pemda dalam peningkatan kapasitas produksi pelet dengan menambah lokasi pengolahan sampah,” ucapnya dengan memastikan PLN siap menjadi pembeli (offtaker) produksi pelet yang dihasilkan warga.

“Bapak Bupati memiliki ide inovasi, bagaimana caranya PLTU Ropa bisa menggunakan bahan bakar biomassa bahkan sampai dengan 100 persen serta menggerakkan ekonomi rakyat. Dari sisi PLN, kami siap menjadi offtaker produksi pelet berapapun yang dihasilkan,” ucap Djatmiko.

Sementara itu, Bupati Ende Djafar Achmad, mengatakan program pemanfaatan sampah jadi pelet merupakan upaya terobosan pemda, PLN bersama dengan sejumlah pihak untuk mengatasi permasalahan sampah di Ende.

“Program ini sangat luar biasa karena bisa mengangkat ekonomi rakyat, juga
pelet dari sampah ini dapat menunjang peningkatan pariwisata daerah.
Selain untuk co-firing, pelet juga bisa untuk mengganti minyak tanah. Untuk itu, kami siap mendorong pemanfaatan sampah untuk diolah menjadi pelet,” ujarnya.

Program ini sangat membantu dirinya dalam mengatasi permasalahan sampah 110 ton setiap harinya.
Ke depan, Djafar berharap pemerintah dapat terus mendukung pengembangan program ini. “Mohon dukungan dari Kementerian LHK, Mendagri dan Menparekraf untuk dukungan perluasan implementasi pengolahan sampah menjadi energi kerakyatan,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian LHK Rosa Vivien Ratnawati, mengatakan pemanfaatan pelet untuk co-firing PLTU Ropa merupakan bentuk inisiatif nyata Pemda Ende dan PLN dalam pengelolaan sampah yang lebih baik.
Dengan inisiatif co-firing, kita mengganti persepsi sampah kumpul angkut buang, sekarang kita pake sampah sebagai bahan yang punya nilai ekonomi.

“Dalam pemanfaatan pelet dari sampah di Ende, pemerintah daerah patut bersyukur karena PLN menjadi pembeli. Sebab salah satu tantangan pengelolaan sampah menjadi pelet adalah adanya kepastian pembeli,” kuncinya. (lina)

MANADOPOST.ID- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengapresiasi program co-firing PLN yang memanfaatkan hasil olahan sampah biomassa (pelet) menjadi bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Ropa di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tak hanya untuk pembangkit, pelet juga dimanfaatkan warga Ende sebagai bahan bakar memasak. Menteri Sandiaga, berharap program ini harus terus dilanjutkan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Ia juga mengajak setiap pihak untuk mendorong kualitas dan keberlanjutan pariwisata di Ende, karena mengingat di wilayah Ende terdapat ratusan destinasi wisata, baik itu wisata alam maupun budaya.

“Ayo gerak bersama antara PLN, Pemerintah Kabupaten Ende, garap potensi pariwisata bersama. Pada intinya kami sangat support karena pariwisata yang berkualitas di era pandemi mengutamakan pariwisata yang bersih, ramah dan berkelanjutan,” ujarnya saat Kickoff Continuous Run Cofiring di PLTU Ropa dan Wisata Energi Bersih di Kabupaten Ende, Jumat (25/6/2021).

Direktur Mega Proyek dan EBT PLN, Wiluyo Kusdwiharto, menjelaskan program co-firing merupakan bagian dari transformasi PLN untuk mendukung program peningkatan bauran energi baru terbarukan 23 persen hingga 2025.

Tak hanya di Ende, program co-firing juga dilakukan PLN di 54 lokasi PLTU di Indonesia hingga 2024. “Semoga program ini dapat menjadi solusi penanganan sampah sekaligus membangun ekonomi kerakyatan di daerah, PLN siap sinergi untuk menjalankan program ini,” tutur Wiluyo.

Pihaknya memulai program co-firing di Ende pada tahun lalu. Melalui program ini, PLN melatih warga setempat untuk mengolah sampah biomassa menjadi pelet dengan membangun tempat pengolahan sampah. Sampah yang dijadikan pelet ini berasal dari sampah sisa masakan, dedaunan, sampah rumput dan organik lainnya.

Selain lebih ramah lingkungan, pemanfaat pelet bisa menekan biaya pembelian minyak tanah yang biasanya bisa mencapai Rp 200-700 ribu per bulan.

“Kami mengalokasikan dana sebesar Rp 855,73 juta melalui PLN Peduli, yang melibatkan peran serta masyarakat untuk mendukung program co-firing PLTU Ropa. Pelet yang digunakan sangat mempengaruhi perekonomian, juga pelet mengatasi permasalahan sampah, khususnya sampah organik, diberikan ruang untuk diolah dan hasilnya terbukti pelet sampah menjadi pengganti minyak tanah untuk memasak,” kata General Manager Unit Induk NTT Agustinus Djatmiko.

Tak berhenti di situ, kehadiran program ini juga telah mendorong berkembangnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setempat yang bergerak di bidang pembuatan kompor pelet.

“UMKM ini bisa membuat kompor pelet yang murah dan diproduksi massal. PLN juga menyambut baik dukungan pemda dalam peningkatan kapasitas produksi pelet dengan menambah lokasi pengolahan sampah,” ucapnya dengan memastikan PLN siap menjadi pembeli (offtaker) produksi pelet yang dihasilkan warga.

“Bapak Bupati memiliki ide inovasi, bagaimana caranya PLTU Ropa bisa menggunakan bahan bakar biomassa bahkan sampai dengan 100 persen serta menggerakkan ekonomi rakyat. Dari sisi PLN, kami siap menjadi offtaker produksi pelet berapapun yang dihasilkan,” ucap Djatmiko.

Sementara itu, Bupati Ende Djafar Achmad, mengatakan program pemanfaatan sampah jadi pelet merupakan upaya terobosan pemda, PLN bersama dengan sejumlah pihak untuk mengatasi permasalahan sampah di Ende.

“Program ini sangat luar biasa karena bisa mengangkat ekonomi rakyat, juga
pelet dari sampah ini dapat menunjang peningkatan pariwisata daerah.
Selain untuk co-firing, pelet juga bisa untuk mengganti minyak tanah. Untuk itu, kami siap mendorong pemanfaatan sampah untuk diolah menjadi pelet,” ujarnya.

Program ini sangat membantu dirinya dalam mengatasi permasalahan sampah 110 ton setiap harinya.
Ke depan, Djafar berharap pemerintah dapat terus mendukung pengembangan program ini. “Mohon dukungan dari Kementerian LHK, Mendagri dan Menparekraf untuk dukungan perluasan implementasi pengolahan sampah menjadi energi kerakyatan,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian LHK Rosa Vivien Ratnawati, mengatakan pemanfaatan pelet untuk co-firing PLTU Ropa merupakan bentuk inisiatif nyata Pemda Ende dan PLN dalam pengelolaan sampah yang lebih baik.
Dengan inisiatif co-firing, kita mengganti persepsi sampah kumpul angkut buang, sekarang kita pake sampah sebagai bahan yang punya nilai ekonomi.

“Dalam pemanfaatan pelet dari sampah di Ende, pemerintah daerah patut bersyukur karena PLN menjadi pembeli. Sebab salah satu tantangan pengelolaan sampah menjadi pelet adalah adanya kepastian pembeli,” kuncinya. (lina)

Most Read

Artikel Terbaru

/