alexametrics
24.4 C
Manado
Jumat, 27 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Ustaz Felix: Dulu Saya Tak Sukai Azan, Tapi Memaklumi, Karena Tinggal di Negeri Mayoritas Muslim

MANADOPOST.ID–Polemik aturan pengeras suara Masjid menuai sorotan masyarakat. Ustaz Felix Siauw ikut memberikan pendapatnya.

Dilansir dari Pojoksatu.id, Ustaz Felix mengibaratkan orang yang cinta itu akan selalu mengasosiasikan dirinya dengan apa yang dia cintai. “Maka ia akan senang dengan apapun yang berkaitan dengan yang dicintainya,” tulisnya di Instagram-nya.

Sebaliknya, yang tidak menyukai atau membenci sesuatu, pastilah juga cenderung untuk tidak menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang dia tidak sukai itu

Hal itu dikaitkan Ustaz Felix saat dirinya belum memeluk agama Islam. Dia mengakui tidak menyukai azan dulu, tapi dirinya berusaha memahami hidup di tengah mayoritas Islam.

“Saya dulu ketika belum Muslim, tentu tidak menyukai azan, meskipun tidak membencinya. Tapi saya bisa memahami, bisa mengerti dan memaklumi azan yang 5x sehari itu, sebab saya tinggal di negeri yang mayoritasnya Muslim,” bebernya.

Ketika dirinya menjadi uslim, azan berubah menjadi sesuatu yang magical baginya. “Azan tidak hanya menjadi penanda salat, tapi jadi anchoring tentang arti ketenangan dan kenyamanan,” ungkapnya.

Bahkan, ketika Ustaz Felix pergi ke suatu negeri tanpa adzan, seolah ada sesuatu yang kurang, ada yang tak lengkap. “Meskipun jadwal salat sudah bisa didapatkan dari apps, azan adalah sapaan bagi jiwa,” sebutnya.

Hal yang membuat merasa lucu terkait azan sekarang ini, adalah karena sudah puluhan tahun Indonesia merdeka sejatinya tak ada yang mempersoalkan. Dan, sekarang mendadak dibuat aturan dan dianalogikan dengan suara anjing.

“Lebih lucu lagi, puluhan tahun Indonesia merdeka, sampai saat ini setahu saya tak ada yang merasa terganggu dengan azan, sebagai identitas dan syiar Islam, simbol Islam. Tapi kali ini dipermasalahkan, dianggap gangguan, bahkan disetarakan dengan gonggongan anjing,” tulisnya.

Ustaz Felix pun mempertanyakan kecintaan seorang Muslim jika suara azan diibaratkan mengganggu.

“Saya hanya menilik memeriksa hati sendiri, andai saya sudah tak suka, merasa tak tenang, merasa tak nyaman dengan simbol dan syiar agama yang jadi identitas agama Islam saya sendiri, apakah cinta untuk Allah dan Rasulullah itu masih di sana?,” tulis Ustaz Felix. (nin/pojoksatu)

MANADOPOST.ID–Polemik aturan pengeras suara Masjid menuai sorotan masyarakat. Ustaz Felix Siauw ikut memberikan pendapatnya.

Dilansir dari Pojoksatu.id, Ustaz Felix mengibaratkan orang yang cinta itu akan selalu mengasosiasikan dirinya dengan apa yang dia cintai. “Maka ia akan senang dengan apapun yang berkaitan dengan yang dicintainya,” tulisnya di Instagram-nya.

Sebaliknya, yang tidak menyukai atau membenci sesuatu, pastilah juga cenderung untuk tidak menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang dia tidak sukai itu

Hal itu dikaitkan Ustaz Felix saat dirinya belum memeluk agama Islam. Dia mengakui tidak menyukai azan dulu, tapi dirinya berusaha memahami hidup di tengah mayoritas Islam.

“Saya dulu ketika belum Muslim, tentu tidak menyukai azan, meskipun tidak membencinya. Tapi saya bisa memahami, bisa mengerti dan memaklumi azan yang 5x sehari itu, sebab saya tinggal di negeri yang mayoritasnya Muslim,” bebernya.

Ketika dirinya menjadi uslim, azan berubah menjadi sesuatu yang magical baginya. “Azan tidak hanya menjadi penanda salat, tapi jadi anchoring tentang arti ketenangan dan kenyamanan,” ungkapnya.

Bahkan, ketika Ustaz Felix pergi ke suatu negeri tanpa adzan, seolah ada sesuatu yang kurang, ada yang tak lengkap. “Meskipun jadwal salat sudah bisa didapatkan dari apps, azan adalah sapaan bagi jiwa,” sebutnya.

Hal yang membuat merasa lucu terkait azan sekarang ini, adalah karena sudah puluhan tahun Indonesia merdeka sejatinya tak ada yang mempersoalkan. Dan, sekarang mendadak dibuat aturan dan dianalogikan dengan suara anjing.

“Lebih lucu lagi, puluhan tahun Indonesia merdeka, sampai saat ini setahu saya tak ada yang merasa terganggu dengan azan, sebagai identitas dan syiar Islam, simbol Islam. Tapi kali ini dipermasalahkan, dianggap gangguan, bahkan disetarakan dengan gonggongan anjing,” tulisnya.

Ustaz Felix pun mempertanyakan kecintaan seorang Muslim jika suara azan diibaratkan mengganggu.

“Saya hanya menilik memeriksa hati sendiri, andai saya sudah tak suka, merasa tak tenang, merasa tak nyaman dengan simbol dan syiar agama yang jadi identitas agama Islam saya sendiri, apakah cinta untuk Allah dan Rasulullah itu masih di sana?,” tulis Ustaz Felix. (nin/pojoksatu)

Most Read

Artikel Terbaru

/