27.4 C
Manado
Kamis, 11 Agustus 2022

Hilal Kemungkinan Tidak Terlihat, Idul Adha Bisa Jatuh 10 Juli

MANADOPOST.ID— Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerjunkan total 26 tim pengamatan ke seluruh Indonesia untuk melakukan pengamatan hilal (rukyatul hilal) untuk menentukan awal bulan Dzulhijjah 1443 H tahun ini.

Hal tersebut nantinya akan berkaitan langsung dengan penentuan rangkaian Hari Raya Idul Adha di tanah air. Meski demikian, BMKG sendiri pesimis hilal bisa terlihat dengan perhitungan posisi yang ada saat ini.

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Rahmat Triyono mengatakan 29 tim pengamatan tersebut tersebar di beberapa wilayah. Antara lain Aceh Besar, Medan, Deli Serdang, Padang Panjang, Bengkulu, Batam, Tanjung Pinang, Tangerang, Garut, Banjarnegara, Bantul, Malang, Badung, Mataram, Balikpapan, Waingapu, Kupang, Alor, Manado, Gorontalo, Donggala, Makassar, Kolaka, Ternate, Ambon, Sorong, sampai Jayapura.

“Rencananya tim tersebut akan melaksanakan rukyat hilal pada 29 Juni 2022 (hari ini,Red),” kata Rahmat kemarin. Ia menyebut, untuk mengetahui keakuratan metode prediksi (hisab), BMKG menggelar pengamatan(rukyat) hilal setiap awal bulan Qomariyah minimal 12 kali dalam satu tahun.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Saat pengamatan dilaksanakan, cahaya hilal akan direkam oleh detektor yang dipasang pada teleskop yang secara otomatis mengikuti pergerakan posisi bulan di ufuk barat,” ujar Rahmat. Data tersebut langsung dikirim ke server di BMKG pusat untuk kemudian disimpan dan disebarluaskan secara online ke seluruh dunia melalui laman https://hilal.bmkg.go.id/

Meski demikian, menurut Rahmat, berdasarkan data visibilitas, kecil kemungkinan Hilal teramati karena faktor posisi hilal yang rendah, elongasi yang kecil, umur bulan yang masih muda, lag yang singkat, dan kecerlangan bulan yang redup.

Untuk mengawali bulan Dzulhijjah 1443 H (2022 M), Rahmat meminta umat Islam Indonesia sebaiknya menunggu keputusan Menteri Agama Republik Indonesia melalui sidang isbat yang akan diumumkan pada tanggal 29 Juni 2022 malam.

Sementara itu Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan 86 lokasi pemantauan (rukyat) hilal. Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag Adib mengatakan, rukyatul hilal itu merupakan rangkaian sidang isbat penetapan 1 Dzulhijjah. Rencananya sidang isbat bakal digelar hari ini (29/6).

Dia menjelaskan semua sistem hisap menyepakati bahwa ijtima menjelang Dzulhijjah jatuh pada Rabu (29/6). ’’Pada hari rukyat, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia di atas ufuk,’’ tuturnya. Ketinggian hilal saat dilakukan rukyat berkisar 0 derajat sampai 3 derajat diatas ufuk. Perhitungan ini didapatkan dari hasil hisab.

Adib menegaskan penentuan awal Dzulhijjah menunggu hasil sidang isbat. Nantinya penetapan awal Dzulhijjah menjadi acuan pelaksanaan Idul Adha yang jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Dia berharap umat Islam bisa bersabar menunggu hasil sidang Isbat.

Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kemenag Ismail Fahmi mengatakan, pelaksanaan sidang isbat melibatkan banyak pihak. Diantaranya adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Mahkamah Agung, sampai BMKG. Selain itu juga mengundang pimpinan ormas keagamaan Islam serta perwakilan pesantren.

Seperti diberitakan sebelumnya, kuat dugaan Idul Adha tahun ini tidak serentak. Muhammadiyah sudah menetapkan Idul Adha jatuh pada 9 Juli. Karena ketinggian hilal sekitar 3 derajat, hampir dipastikan nanti hilal tidak bisa dirukyat. Sehingga pemerintah kemungkinan besar menetapkan Idul Adha jatuh pada 10 Juli.(tau/wan/jawapos)

MANADOPOST.ID— Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerjunkan total 26 tim pengamatan ke seluruh Indonesia untuk melakukan pengamatan hilal (rukyatul hilal) untuk menentukan awal bulan Dzulhijjah 1443 H tahun ini.

Hal tersebut nantinya akan berkaitan langsung dengan penentuan rangkaian Hari Raya Idul Adha di tanah air. Meski demikian, BMKG sendiri pesimis hilal bisa terlihat dengan perhitungan posisi yang ada saat ini.

Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Rahmat Triyono mengatakan 29 tim pengamatan tersebut tersebar di beberapa wilayah. Antara lain Aceh Besar, Medan, Deli Serdang, Padang Panjang, Bengkulu, Batam, Tanjung Pinang, Tangerang, Garut, Banjarnegara, Bantul, Malang, Badung, Mataram, Balikpapan, Waingapu, Kupang, Alor, Manado, Gorontalo, Donggala, Makassar, Kolaka, Ternate, Ambon, Sorong, sampai Jayapura.

“Rencananya tim tersebut akan melaksanakan rukyat hilal pada 29 Juni 2022 (hari ini,Red),” kata Rahmat kemarin. Ia menyebut, untuk mengetahui keakuratan metode prediksi (hisab), BMKG menggelar pengamatan(rukyat) hilal setiap awal bulan Qomariyah minimal 12 kali dalam satu tahun.

“Saat pengamatan dilaksanakan, cahaya hilal akan direkam oleh detektor yang dipasang pada teleskop yang secara otomatis mengikuti pergerakan posisi bulan di ufuk barat,” ujar Rahmat. Data tersebut langsung dikirim ke server di BMKG pusat untuk kemudian disimpan dan disebarluaskan secara online ke seluruh dunia melalui laman https://hilal.bmkg.go.id/

Meski demikian, menurut Rahmat, berdasarkan data visibilitas, kecil kemungkinan Hilal teramati karena faktor posisi hilal yang rendah, elongasi yang kecil, umur bulan yang masih muda, lag yang singkat, dan kecerlangan bulan yang redup.

Untuk mengawali bulan Dzulhijjah 1443 H (2022 M), Rahmat meminta umat Islam Indonesia sebaiknya menunggu keputusan Menteri Agama Republik Indonesia melalui sidang isbat yang akan diumumkan pada tanggal 29 Juni 2022 malam.

Sementara itu Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan 86 lokasi pemantauan (rukyat) hilal. Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag Adib mengatakan, rukyatul hilal itu merupakan rangkaian sidang isbat penetapan 1 Dzulhijjah. Rencananya sidang isbat bakal digelar hari ini (29/6).

Dia menjelaskan semua sistem hisap menyepakati bahwa ijtima menjelang Dzulhijjah jatuh pada Rabu (29/6). ’’Pada hari rukyat, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia di atas ufuk,’’ tuturnya. Ketinggian hilal saat dilakukan rukyat berkisar 0 derajat sampai 3 derajat diatas ufuk. Perhitungan ini didapatkan dari hasil hisab.

Adib menegaskan penentuan awal Dzulhijjah menunggu hasil sidang isbat. Nantinya penetapan awal Dzulhijjah menjadi acuan pelaksanaan Idul Adha yang jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Dia berharap umat Islam bisa bersabar menunggu hasil sidang Isbat.

Kasubdit Hisab Rukyat dan Syariah Kemenag Ismail Fahmi mengatakan, pelaksanaan sidang isbat melibatkan banyak pihak. Diantaranya adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Mahkamah Agung, sampai BMKG. Selain itu juga mengundang pimpinan ormas keagamaan Islam serta perwakilan pesantren.

Seperti diberitakan sebelumnya, kuat dugaan Idul Adha tahun ini tidak serentak. Muhammadiyah sudah menetapkan Idul Adha jatuh pada 9 Juli. Karena ketinggian hilal sekitar 3 derajat, hampir dipastikan nanti hilal tidak bisa dirukyat. Sehingga pemerintah kemungkinan besar menetapkan Idul Adha jatuh pada 10 Juli.(tau/wan/jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/