30.4 C
Manado
Selasa, 5 Juli 2022

Penembakan Anak di Intan Jaya, Teroris Papua Tuding TNI Pelakunya

MANADOPOST.ID– Kasus tertembaknya dua anak dalam baku tembak antara kelompok separatis teroris (KST) dan TNI harus diselidiki. Pelaku penembakan terhadap anak-anak itu harus bertanggung jawab. Terlebih, kejadian warga sipil menjadi korban, apalagi anak-anak, tidak boleh terulang.

Kabidhumas Polda Papua A.M. Kamal memastikan bahwa pelaku penembakan terhadap aksi di Intan Jaya itu merupakan KST. Dua anak dilaporkan terkena serpihan peluru, satu dinyatakan meninggal. ”Pelakunya KST,” ujarnya kemarin (29/10).

Saat ditanya apakah ditemukan peluru atau serpihannya di jenazah anak, Kamal menyebut itu memang ada. Namun, dia tidak menjelaskan prediksi serpihan tersebut dari jenis peluru apa. ”Ya, (ada) serpihannya,” jawabnya.

Di sisi lain, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) justru menyebut sebaliknya. Jubir TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan, pelaku penembakan terhadap anak itu merupakan TNI. Namun, pihaknya tidak mengetahui mengapa anak-anak tersebut kena tembak. ”Mereka (TNI) pelakunya,” tegas dia kemarin.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Sementara itu, Komisioner Komnas HAM M. Choirul Anam memandang kasus yang terjadi tersebut sangat memprihatinkan. Sebab, dalam konflik di Papua berkali-kali jatuh korban masyarakat sipil, termasuk anak-anak. ”Intan Jaya ini paling sering baku tembak,” ujarnya.

Choirul menegaskan, kasus penembakan terhadap anak ini menjadi perhatian lembaganya. Kejadian yang terus berulang itu membuat Komnas HAM merasa perlu melakukan pemantauan khusus. ”Kami pantau semua kejadian di Papua,” lanjutnya.

Komnas HAM menyerukan agar semua pihak mematuhi hukum humaniter, khususnya jarak humaniter. Yakni, pos dan operasi militer tidak boleh berada di dekat permukiman warga. Itu dimaksudkan untuk menghindari potensi korban sipil apabila terjadi kontak. ”Baku tembak tidak boleh terjadi di lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Karena itu, saat ini diperlukan penegakan hukum terhadap siapa pun pelakunya. Choirul menyatakan, harus ada kemauan kuat untuk menghentikan segala bentuk kekerasan. Kontak tembak antara KST dan TNI terkesan terus berjalan tanpa solusi. ”Papua membutuhkan jalan damai,” tuturnya. (jawapos)

MANADOPOST.ID– Kasus tertembaknya dua anak dalam baku tembak antara kelompok separatis teroris (KST) dan TNI harus diselidiki. Pelaku penembakan terhadap anak-anak itu harus bertanggung jawab. Terlebih, kejadian warga sipil menjadi korban, apalagi anak-anak, tidak boleh terulang.

Kabidhumas Polda Papua A.M. Kamal memastikan bahwa pelaku penembakan terhadap aksi di Intan Jaya itu merupakan KST. Dua anak dilaporkan terkena serpihan peluru, satu dinyatakan meninggal. ”Pelakunya KST,” ujarnya kemarin (29/10).

Saat ditanya apakah ditemukan peluru atau serpihannya di jenazah anak, Kamal menyebut itu memang ada. Namun, dia tidak menjelaskan prediksi serpihan tersebut dari jenis peluru apa. ”Ya, (ada) serpihannya,” jawabnya.

Di sisi lain, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) justru menyebut sebaliknya. Jubir TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan, pelaku penembakan terhadap anak itu merupakan TNI. Namun, pihaknya tidak mengetahui mengapa anak-anak tersebut kena tembak. ”Mereka (TNI) pelakunya,” tegas dia kemarin.

Sementara itu, Komisioner Komnas HAM M. Choirul Anam memandang kasus yang terjadi tersebut sangat memprihatinkan. Sebab, dalam konflik di Papua berkali-kali jatuh korban masyarakat sipil, termasuk anak-anak. ”Intan Jaya ini paling sering baku tembak,” ujarnya.

Choirul menegaskan, kasus penembakan terhadap anak ini menjadi perhatian lembaganya. Kejadian yang terus berulang itu membuat Komnas HAM merasa perlu melakukan pemantauan khusus. ”Kami pantau semua kejadian di Papua,” lanjutnya.

Komnas HAM menyerukan agar semua pihak mematuhi hukum humaniter, khususnya jarak humaniter. Yakni, pos dan operasi militer tidak boleh berada di dekat permukiman warga. Itu dimaksudkan untuk menghindari potensi korban sipil apabila terjadi kontak. ”Baku tembak tidak boleh terjadi di lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Karena itu, saat ini diperlukan penegakan hukum terhadap siapa pun pelakunya. Choirul menyatakan, harus ada kemauan kuat untuk menghentikan segala bentuk kekerasan. Kontak tembak antara KST dan TNI terkesan terus berjalan tanpa solusi. ”Papua membutuhkan jalan damai,” tuturnya. (jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/