alexametrics
24.4 C
Manado
Minggu, 29 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Pernyataan soal Pemecatan dr Terawan, IDI Singgung Keselamatan Pasien, Politisi PDIP Khawatir

MANADOPOST.ID-Sampai saat ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) masih memproses pemecatan dr Terawan Agus Putranto dari keanggotaan IDI.

 

Pemecatan dr Terawan itu, dilandasi keputusan Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) serta anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) organisasi.

 

Pernyataan terbaru IDI itu disampaikan Ketua Bidang Hukum Pembelaan dan Pembinaan Anggota IDI Beni Satria dalam keterangannya.

 

“Muktamar 31 ini meneruskan hasil sidang khusus etik kedokteran yang memutuskan pemberhentian tetap sejawat Dr. dr. Terawan Agus Putranto spesialis radiologi sebagai anggota IDI,” kata Beni, Kamis (31/3/2022).

 

Selanjutnya, PB IDI akan memproses pemecatan mantan Menteri Kesehatan itu dalam 28 hari sejak keputusan itu ditetapkan pada Jumat (25/3/2022).

 

Beni juga mengungkap bahwa pemberhentian dr Terawan merupakan hasil dari proses panjang sejak 2013 silam. “Hak-hak etik beliau (Terawan, red) telah disampaikan mengacu pada AD/ART dan tata laksana organisasi,” kata Beni, dikutip dari JPNN.

 

Dia menegaskan seluruh dokter Indonesia terikat dan tunduk pada norma dan kode etik profesi kedokteran.

 

“Pembinaan dan penegakan standar norma dalam profesi kedokteran jadi tanggung jawab IDI guna menjamin hak-hak dokter dan keselamatan pasien,” tutur Beni.

 

Terpisah, politisi PDIP Rahmad Handoyo mengaku khwatir dengan pemecatan dr Terawan Agus Putranto.

 

Pasalnya, pemecatan itu diduga kuat berkaitan dengan vaksin Nusantara

 

“Alasannya dipecat karena soal Vaksin Nusantara,” kata Rahmad kepada PojokSatu.id, Kamis (31/3/2022).

 

Menurut anak buah Megawati Soekarnoputri itu, jika anggapan tersebut benar, ia khwatir masa depan profesor dokter lainnya mengalami hal yang serupa.

 

“Kalau soal seperti ini menjadi persoalan, saya khawatir ke depan ketika profesor, guru besar kedokteran menemukan inisiasi kemudian menciptakan yang masih pro dan kontra, lalu dikeluarkan dari keanggotaannya,” tuturnya.

 

Jika benar demikian, maka hal ini bisa menjadi sinyal berbahaya bagi dunia kedokteran di Indonesia.

 

“Kan itu sangat berbahaya bagi dunia masa depan kedokteran kita,” tutur Rahmad. (ruh/fir/pojoksatu)

MANADOPOST.ID-Sampai saat ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) masih memproses pemecatan dr Terawan Agus Putranto dari keanggotaan IDI.

 

Pemecatan dr Terawan itu, dilandasi keputusan Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) serta anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) organisasi.

 

Pernyataan terbaru IDI itu disampaikan Ketua Bidang Hukum Pembelaan dan Pembinaan Anggota IDI Beni Satria dalam keterangannya.

 

“Muktamar 31 ini meneruskan hasil sidang khusus etik kedokteran yang memutuskan pemberhentian tetap sejawat Dr. dr. Terawan Agus Putranto spesialis radiologi sebagai anggota IDI,” kata Beni, Kamis (31/3/2022).

 

Selanjutnya, PB IDI akan memproses pemecatan mantan Menteri Kesehatan itu dalam 28 hari sejak keputusan itu ditetapkan pada Jumat (25/3/2022).

 

Beni juga mengungkap bahwa pemberhentian dr Terawan merupakan hasil dari proses panjang sejak 2013 silam. “Hak-hak etik beliau (Terawan, red) telah disampaikan mengacu pada AD/ART dan tata laksana organisasi,” kata Beni, dikutip dari JPNN.

 

Dia menegaskan seluruh dokter Indonesia terikat dan tunduk pada norma dan kode etik profesi kedokteran.

 

“Pembinaan dan penegakan standar norma dalam profesi kedokteran jadi tanggung jawab IDI guna menjamin hak-hak dokter dan keselamatan pasien,” tutur Beni.

 

Terpisah, politisi PDIP Rahmad Handoyo mengaku khwatir dengan pemecatan dr Terawan Agus Putranto.

 

Pasalnya, pemecatan itu diduga kuat berkaitan dengan vaksin Nusantara

 

“Alasannya dipecat karena soal Vaksin Nusantara,” kata Rahmad kepada PojokSatu.id, Kamis (31/3/2022).

 

Menurut anak buah Megawati Soekarnoputri itu, jika anggapan tersebut benar, ia khwatir masa depan profesor dokter lainnya mengalami hal yang serupa.

 

“Kalau soal seperti ini menjadi persoalan, saya khawatir ke depan ketika profesor, guru besar kedokteran menemukan inisiasi kemudian menciptakan yang masih pro dan kontra, lalu dikeluarkan dari keanggotaannya,” tuturnya.

 

Jika benar demikian, maka hal ini bisa menjadi sinyal berbahaya bagi dunia kedokteran di Indonesia.

 

“Kan itu sangat berbahaya bagi dunia masa depan kedokteran kita,” tutur Rahmad. (ruh/fir/pojoksatu)

Most Read

Artikel Terbaru

/