25 C
Manado
Sabtu, 15 Mei 2021
spot_img

Ganti Rugi 50 Juta Perhektar, Dinilai Tak Sesuai

MANADOPOST.ID— Kecamatan Tabukan Selatan Tengah (Tabselteng) Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), kini dilirik PT Tambang Emas Sangihe (TMS), untuk melakukan produksi emas.

Sebelumnya melakukan produksi, pihak perusahaan mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar. Dalam pantauan koran ini sosialisasi berjalan lancar. Namun dari sosialisasi tersebut, belum ada kesepakatan yang ditemukan antara warga penambang dan PT TMS. Pasalnya warga Bowone yang merupakan penambang, mendesak PT TMS, terkait ganti rugi pembebasan lahan yang akan dilakukan perusahaan.

Perdebatan alot pun sempat terjadi ketika warga diberi kesempatan menanggapi tawaran perusahaan. Bahkan salah satu tokoh masyarakat Jefry Lombo langsung berbicara keras terkait tawaran pembebasan lahan senilai 50 juta perhektar tersebut. Menurutnya, tawaran 50 juta perhektar itu hampir tak masuk akal dan sangat merugikan masyarakat.

Dia menginformasikan kepihak perusahaan, untuk harga tanah sesuai NJOP di Bowone saja sudah 10 ribu permeter atau Rp 100 juta perhektar, khususnya untuk lahan perkebunan, sedangkan NJOP untuk lahan dilingkar kampung Bowone 34 ribu per meter atau 340 juta perhektare.

“Jika ditawari 50 juta itu sama saja harga tanah kami hanya 5000 permeter. Padahal lahan warga ini pihak perusahaan yang membutuhkan. Jadi yang harus dilakukan perusahaan ketika hendak melakukan pembebasan lahan, harus ganti untung agar masyarakat benar-benar mendapat kesejahteraan dari pembebasan lahan mereka,” tegas Lombo.

Keinginan lainnya yang juga diungkapkan warga pada sesi dialog, tak lain menyangkut jaminan masa depan anak cucu mereka dan tenaga kerja yang dipakai harus warga setempat.

“Jangka waktu kontrak karya yang dipegang PT TMS untuk menggarap lahan kami selama 30 tahun, sehingga ketika terjadi kesepakatan perusahaan akan beroperasi, kami minta ada jaminan anak cucu kami, seperti diperhatikan sekolah mereka dan masa depannya, termasuk tenaga kerja yang akan dilibatkan mengunakan warga setempat,” ungkap warga lainnya.

Sementara itu, pihak PT TMS dikonformasi melalui Commnity Development & Govermment Relation Superintendent, Robertus Priya Husada, mengakui pada prinsipnya pihak perusahaan akan mengedepankan negosiasi dengan warga untuk mendapatkan kesepakatan.

“Begitupun untuk harga pembebasan lahan juga akan dikomunikasikan lagi dengan pihak managemen perusahaan. Tapi kalau soal tenaga kerja lokal itu sudah pasti kami akomodir, juga kami dari perusahaan siap membantu pendidikan anak-anak, karena bukan tak mungkin kedepan akan muncul lulusan S2 hingga S3 dari kampung Bowone,” ujar pria tambun yang akrab disapa Bob. (wan /ewa)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru