24.4 C
Manado
Senin, 4 Juli 2022

Puluhan Perempuan Resmi Menjanda

MANADOPOST.ID—Sebanyak 37 wanita di Kabupaten Kepulauan Sangihe menjanda selang Januari-Juli, karena resmi bercerai.

Kepala Seksi Perkawinan Perceraian dan Perubahan Status Anak Dinas Dukcapil Daerah Sangihe A Pansing mengatakan, kasus perceraian terjadi karena masalah perselingkuhan dan ketidak cocokan, masalah ekonomi juga mendominasi. Dan angka perceraian mengalami trand penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 69 kasus.

“Jadi meski di suasana Covid-19 seperti sekarang ini, angka perceraian tetap ada. Jumlah dari Januari-Juli 2020 sebanyak 37 akta cerai yang diterbitkan,” ujarnya.

Menurut dia, dibanding tahun 2019, ada sebanyak 69 kasus perceraian. Dan kalau dilihat ada penurunan.
“Memang tidak bisa dipungkiri dampak Covid-19 mempengaruhi angka perceraian terhadap pemenuhan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Sementara itu, Kepala Pengadilan Agama Tahuna Nur Amin mengatakan, perkara perceraian di Pengadilan Agama Tahuna ini sejak berlangsungnya pandemi Covid-19 meningkat 20 persen dibanding tahun lalu.

“Sampai saat ini jumlah perkara yang masuk ada 63 perkara. Sementara tahun lalu hanya 58 perkara. Jadi tahun ini ada peningkatan,” bebernya.

Amin juga menjelaskan, yang mendominasi perceraian adalah permasalahan perekonomian dan ada juga perselingkuhan tapi tidak begitu banyak.

“Kemungkinan kesulitan dalam mencari pekerjaan atau keuangan tidak mencukupi, maka itulah yang menjadi seteru dalam rumah tangga. Kalau perselingkuhan dan KDRT tidak begitu banyak,” kuncinya. (wan/ite)

MANADOPOST.ID—Sebanyak 37 wanita di Kabupaten Kepulauan Sangihe menjanda selang Januari-Juli, karena resmi bercerai.

Kepala Seksi Perkawinan Perceraian dan Perubahan Status Anak Dinas Dukcapil Daerah Sangihe A Pansing mengatakan, kasus perceraian terjadi karena masalah perselingkuhan dan ketidak cocokan, masalah ekonomi juga mendominasi. Dan angka perceraian mengalami trand penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 69 kasus.

“Jadi meski di suasana Covid-19 seperti sekarang ini, angka perceraian tetap ada. Jumlah dari Januari-Juli 2020 sebanyak 37 akta cerai yang diterbitkan,” ujarnya.

Menurut dia, dibanding tahun 2019, ada sebanyak 69 kasus perceraian. Dan kalau dilihat ada penurunan.
“Memang tidak bisa dipungkiri dampak Covid-19 mempengaruhi angka perceraian terhadap pemenuhan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Pengadilan Agama Tahuna Nur Amin mengatakan, perkara perceraian di Pengadilan Agama Tahuna ini sejak berlangsungnya pandemi Covid-19 meningkat 20 persen dibanding tahun lalu.

“Sampai saat ini jumlah perkara yang masuk ada 63 perkara. Sementara tahun lalu hanya 58 perkara. Jadi tahun ini ada peningkatan,” bebernya.

Amin juga menjelaskan, yang mendominasi perceraian adalah permasalahan perekonomian dan ada juga perselingkuhan tapi tidak begitu banyak.

“Kemungkinan kesulitan dalam mencari pekerjaan atau keuangan tidak mencukupi, maka itulah yang menjadi seteru dalam rumah tangga. Kalau perselingkuhan dan KDRT tidak begitu banyak,” kuncinya. (wan/ite)

Most Read

Artikel Terbaru

/