30.4 C
Manado
Jumat, 1 Juli 2022

Perbatasan Sangihe-Filipina Diperketat

MANADOPOST.ID—Kepolisian Resor (Polres) Sangihe memperketat daerah Sangihe yang merupakan perbatasan Indonesia dengan Filipina, terkait teror bom bunuh diri yang diduga dilakukan oleh pasangan suami istri (pasutri), Minggu (28/3) di halaman Gereja Katedral Makkasar Sulawesi Selatan.

Kapolres Sangihe AKBP Tony Budhi Susetyo ketika dihubungi, Selasa (30/3) menegaskan, pihaknya telah memperketat daerah perbatasan Indonesia-Filipina, yakni Kabupaten Kepulauan Sangihe yang merupakan daerah lintas batas antar Negara ini.

“Kita sudah perketat jalur perbatasan, dan telah melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat dan aparat keamanan yang ada di sini. Ini diharapkan ada dukungan dari masyarakat setempat, kalau tidak ada kerja sama dengan masyarakat itu akan susah,” jelas Susetyo.

Menurut dia, untuk jalur perlintasan yang biasanya dilakukan, ada melalui jalur tradisional. Baik masyarakat Sangihe-Filipina (Sapi) maupun Filipina-Sangihe (Pisang). Inipun menjadi perhatian serius bagi pihak keamanan.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Memang untuk masyarakat Sangihe sendiri dalam sosial budayanya sangat erat dengan negara Filipina. Namun, hal itu bukan menjadi alasan untuk melintas baik dari Filipina ke Indonesia atau sebaliknya. Sehingga kita akan awasi dan periksa semuanya barang bawaan bagi masyarakat yang masih nekat melintasi perbatasan,” ujar Susetyo.

Kapolres menjelaskan, bila mana pada saat pengawasan, ada masyarakat yang tidak mau dilakukan pemeriksaan. Maka pihaknya tidak tanggung-tanggung memberikan sanksi sesuai aturan yang ada. “Sebab hal ini sudah hal ini sudah di himbau kepada masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sangihe melalui Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Sangihe Harry Wolff menyatakan, Pulau Sangihe merupakan salah satu wilayah lintas batas antar Negara Indonesia-Filipina, begitu juga sebaliknya. Belajar dari kejadian di Makkasar, ini perlu mendapat perhatian khusus dalam bidang keamanannya.

“Dan itu sendiri terus di lakukan oleh pak Bupati dengan terus melakukan sinergitas dengan pihak keamanan yang ada, di samping itu dalam setiap pertemuan Forkopimda pak Bupati juga selalu menyampaikan agar dapat menjaga stabilitas daerah, sehingga jika ini dapat di jaga maka secara otomatis stabilitas nasional juga dapat di jaga,” kata Wolff.

Terkait kondisi teror saat ini. Dirinya mengimbau, agar masyarakat. Khususnya di Sangihe dapat memberikan informasi terkait kegiatan yang mencurigakan. “Diharapkan masyarakat dapat lebih melihat aktifitas-aktifitas kedatangan dari orang tertentu, dan bisa melaporkan jika ada sesuatu yang mencurigakan, baik kepada pemerintah setempat maupun pihak keamanan,” tandasnya. (wan/ewa)

MANADOPOST.ID—Kepolisian Resor (Polres) Sangihe memperketat daerah Sangihe yang merupakan perbatasan Indonesia dengan Filipina, terkait teror bom bunuh diri yang diduga dilakukan oleh pasangan suami istri (pasutri), Minggu (28/3) di halaman Gereja Katedral Makkasar Sulawesi Selatan.

Kapolres Sangihe AKBP Tony Budhi Susetyo ketika dihubungi, Selasa (30/3) menegaskan, pihaknya telah memperketat daerah perbatasan Indonesia-Filipina, yakni Kabupaten Kepulauan Sangihe yang merupakan daerah lintas batas antar Negara ini.

“Kita sudah perketat jalur perbatasan, dan telah melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat dan aparat keamanan yang ada di sini. Ini diharapkan ada dukungan dari masyarakat setempat, kalau tidak ada kerja sama dengan masyarakat itu akan susah,” jelas Susetyo.

Menurut dia, untuk jalur perlintasan yang biasanya dilakukan, ada melalui jalur tradisional. Baik masyarakat Sangihe-Filipina (Sapi) maupun Filipina-Sangihe (Pisang). Inipun menjadi perhatian serius bagi pihak keamanan.

“Memang untuk masyarakat Sangihe sendiri dalam sosial budayanya sangat erat dengan negara Filipina. Namun, hal itu bukan menjadi alasan untuk melintas baik dari Filipina ke Indonesia atau sebaliknya. Sehingga kita akan awasi dan periksa semuanya barang bawaan bagi masyarakat yang masih nekat melintasi perbatasan,” ujar Susetyo.

Kapolres menjelaskan, bila mana pada saat pengawasan, ada masyarakat yang tidak mau dilakukan pemeriksaan. Maka pihaknya tidak tanggung-tanggung memberikan sanksi sesuai aturan yang ada. “Sebab hal ini sudah hal ini sudah di himbau kepada masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sangihe melalui Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Sangihe Harry Wolff menyatakan, Pulau Sangihe merupakan salah satu wilayah lintas batas antar Negara Indonesia-Filipina, begitu juga sebaliknya. Belajar dari kejadian di Makkasar, ini perlu mendapat perhatian khusus dalam bidang keamanannya.

“Dan itu sendiri terus di lakukan oleh pak Bupati dengan terus melakukan sinergitas dengan pihak keamanan yang ada, di samping itu dalam setiap pertemuan Forkopimda pak Bupati juga selalu menyampaikan agar dapat menjaga stabilitas daerah, sehingga jika ini dapat di jaga maka secara otomatis stabilitas nasional juga dapat di jaga,” kata Wolff.

Terkait kondisi teror saat ini. Dirinya mengimbau, agar masyarakat. Khususnya di Sangihe dapat memberikan informasi terkait kegiatan yang mencurigakan. “Diharapkan masyarakat dapat lebih melihat aktifitas-aktifitas kedatangan dari orang tertentu, dan bisa melaporkan jika ada sesuatu yang mencurigakan, baik kepada pemerintah setempat maupun pihak keamanan,” tandasnya. (wan/ewa)

Most Read

Artikel Terbaru

/