25C
Manado
Jumat, 26 Februari 2021

Hanya 54 Sekolah Dapat Izin Belajar Tatap Muka

MANADOPOST.ID—Untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona di lingkungan pendidikan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), maka sejak awal tahun 2021 hingga saat ini pemerintah hanya mengizinkan 54 sekolah yang melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT).

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Sitaro Budiarto Mukau membeberkan, bahwa Bupati Evangelian Sasingen telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor : 02 / SE / 1-2021 tentang Penundaan Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka Semester Genap Tahun Ajaran 2020/2021 Pada Satuan Pendidikan PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs.

Dalam Surat Edaran tersebut telah dituliskan sekolah-sekolah yang tidak diizinkan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran tatap muka.

Hal ini untuk memperhatikan perkembangan kasus terkonfirmasi Covid-19 di Sitaro yang cenderung meningkat sejak akhir tahun 2020, maka perlu meningkatkan kewaspadaan dan upaya perlindungan warga satuan pendidikan terutama tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik dari risiko penularan Covid-19, dengan menunda pelaksanaan pembelajaran tatap muka semester genap Tahun Ajaran 2020/2021 pada satuan pendidikan PAUD, SD, dan SMP di wilayah kecamatan, kelurahan, dan kampung yang terdampak Covid-19 berdasarkan peta zonasi risiko daerah.

Pembelajaran tatap muka yang ditunda pelaksanaannya meliputi pertama, pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan di kelas atau di dalam lingkungan sekolah. Kedua, pendampingan kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) luring yang menggunakan metode kunjungan guru/wali kelas di rumah peserta didik (home visit). “Hal ini dilakukan untuk mencegah jangan sampai tenaga pendidik dan siswa terpapar virus corona,” ungkapnya.

Tapi lanjutnya, ada SD dan SMP yang diizinkan atau dimungkinkan bisa melaksanakan sekolah tatap muka dengan ketentuan memiliki jumlah siswa di bawah 50 orang, terletak di wilayah yang dari hasil pemetaan peta resiko Covid-19 berada di zona hijau atau zero, dan tidak terletak di pusat kota, pusat keramaian, pusat aktifitas masyarakat, dan tidak memiliki jaringan internet atau belum terjangkau dengan jaringan internet. Sehingga mereka tidak dimungkinkan melaksanakan pembelajaran secara daring.

“Jadi ada 50 SD yang melaksanakan tatap muka di sekolah sedangkan 53 SD lainnya belum bisa melaksanakan tatap muka di sekolah. Dan untuk SMP ada 4 yang bisa tatap muka di sekolah, sisanya 21 SMP tidak. Namun berbeda dengan PAUD semuanya tidak diizinkan untuk melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), karena mereka sangat kecil,” ucapnya.

Namun katanya, bagi sekolah yang diizinkan untuk melaksanakan tatap muka terbatas tersebut itu pun tidak mutlak mereka bisa melaksanakan. Karena di frasa SE tersebut dikatakan dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Artinya bukan wajib melaksanakan. Sehingga, meski telah ada SE tersebut namun pihak sekolah tetap harus berkoordinasi dengan penanggung jawab di lapangan, yakni kapitalau dan camat setempat. Dan juga harus memiliki surat persetujuan dari orang tua siswa.

“Jadi kalau misalkan ada orang tua tidak setuju untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas di sekolah, maka sekalipun sekolah-sekolah tersebut tidak tercantum dalam surat edaran sebagai sekolah yang dilarang atau di tunda PTMT tetap mereka juga tidak bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka,” tuturnya.

Bahkan ditambahkan Kepala Bidang Pembinaan dan Pendidikan Dasar Okswald Makagiansa, bahwa saat ini pihaknya sementara turun ke sekolah-sekolah yang melaksanakan PTMT.

“Jadi kami sementara melakukan pemantauan di lapangan, untuk melihat secara langsung bagaimana proses kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah. Dan kami pun berharap agar semuanya tetap aman,” harapnya. (cw-04/ewa)

Artikel Terbaru