32.4 C
Manado
Senin, 4 Juli 2022

Captikus Eceran Tak Bisa Dihentikan

MANADOPOST.ID – Perdagangan Captikus (minuman keras, red) eceran di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) tak bisa dihentikan.

Menurut Pelaku Usaha Klontong Bebali Alearen Roy Londo (54), bahwa Captikus ini paling marak beredar di Negeri 47 Pulau ini dan sebagian besar tak memiliki izin atau distibutor. Dan penjelasan dari pemerintah, ketika ingin diperjualbelikan harus memiliki izin atau surat rekomendasi dari distributor.

“Sedangkan distibutor sah tidak ada. Memang ada Captikus yang sudah ada izinnya itu seperti Captikus Minsel yang sudah legal dan merupakan ole-ole khas Sulawesi Utara (Sulut), nah kalau disini hanya Captikus eceran seperti di botol Aqua yang tak ada izin maka artinya kami tak bisa menjualnya? Kalau pribadi saya tidak mungkin peredaran Captikus di tutup di daerah ini. Karena sebagian besar masyarakat banyak yang mengkonsumsi khususnya saya pribadi,” ucapnya di depan pemerintah kabupaten (Pemkab) dan Kasat Reskrim Iptu Revianto Anriz, S.T.rk, Rabu (25/8).

Ia menjelaskan, pihaknya pun bisa membeli Captikus yang sudah legal namun hal itu mahal harganya, sedangkan eceran harganya relatif murah. “Ya, kalau pun aturannya harus yang legal kami masyarakat yang juga sebagai pelaku usaha akan menurutinya. Dari pada akan berurusan dengan pihak kepolisian,” ucap Londo yang sudah bergelut selama 15 tahun sebagai pelaku usaha di Kepulauan Sitaro.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Sementara itu Kasat Reskrim Iptu Revianto Anriz, S.T.rk menyampaikan kepada pelaku usaha, ketika ingin memperjualbelikan minuman beralkohol (Captikus, red) solusinya adalah yang telah memiliki izin/legal. “Kalau ingin maka ambil Captikus Minsel, kalau ingin jual Captikus di Sitaro. Luar biasanya ada Captikus rasa Kopi, patut bangga Sulut memiliki ole-ole Captikus rasa Kopi,” pungkasnya. (dew/ewa)

MANADOPOST.ID – Perdagangan Captikus (minuman keras, red) eceran di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) tak bisa dihentikan.

Menurut Pelaku Usaha Klontong Bebali Alearen Roy Londo (54), bahwa Captikus ini paling marak beredar di Negeri 47 Pulau ini dan sebagian besar tak memiliki izin atau distibutor. Dan penjelasan dari pemerintah, ketika ingin diperjualbelikan harus memiliki izin atau surat rekomendasi dari distributor.

“Sedangkan distibutor sah tidak ada. Memang ada Captikus yang sudah ada izinnya itu seperti Captikus Minsel yang sudah legal dan merupakan ole-ole khas Sulawesi Utara (Sulut), nah kalau disini hanya Captikus eceran seperti di botol Aqua yang tak ada izin maka artinya kami tak bisa menjualnya? Kalau pribadi saya tidak mungkin peredaran Captikus di tutup di daerah ini. Karena sebagian besar masyarakat banyak yang mengkonsumsi khususnya saya pribadi,” ucapnya di depan pemerintah kabupaten (Pemkab) dan Kasat Reskrim Iptu Revianto Anriz, S.T.rk, Rabu (25/8).

Ia menjelaskan, pihaknya pun bisa membeli Captikus yang sudah legal namun hal itu mahal harganya, sedangkan eceran harganya relatif murah. “Ya, kalau pun aturannya harus yang legal kami masyarakat yang juga sebagai pelaku usaha akan menurutinya. Dari pada akan berurusan dengan pihak kepolisian,” ucap Londo yang sudah bergelut selama 15 tahun sebagai pelaku usaha di Kepulauan Sitaro.

Sementara itu Kasat Reskrim Iptu Revianto Anriz, S.T.rk menyampaikan kepada pelaku usaha, ketika ingin memperjualbelikan minuman beralkohol (Captikus, red) solusinya adalah yang telah memiliki izin/legal. “Kalau ingin maka ambil Captikus Minsel, kalau ingin jual Captikus di Sitaro. Luar biasanya ada Captikus rasa Kopi, patut bangga Sulut memiliki ole-ole Captikus rasa Kopi,” pungkasnya. (dew/ewa)

Most Read

Artikel Terbaru

/