31.4 C
Manado
Kamis, 30 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Selain Laga Kaltim-Aceh, Ini Kejanggalan Lain di Sepakbola PON Papua

- Advertisement -

MANADOPOST.ID— Kejanggalan di cabang olahraga sepakbola putra PON XX Papua, diduga tak hanya terjadi di laga Kalimantan Timur (Kaltim) vs Aceh.

Dilansir Jawa Pos, Jawa Timur juga selalu ‘diuntungkan’. Skuad Jatim sudah menjalani tiga laga. Uniknya, dari tiga laga itu, tim lawan selalu bermain dengan 10 orang. Artinya, selalu ada pemain lawan yang terkena kartu merah. Apakah itu kebetulan? 

Pelatih Jatim Ruddy William Keltjes menilai tim lawan memang layak mendapat kartu merah. “Malah saat melawan Sumatera Utara (4/10) harusnya ada dua pemain mereka yang terkena kartu merah. Pemain kami ini dilanggar keras,” katanya. Dikonfirmasi terpisah, pelatih Sumatera Utara Colly Misrun tidak menganggap kartu merah yang diterima anak asuhnya sebagai sebuah kejanggalan. 

“Saya memang melihat pemain kami layak di kartu merah. Mereka dapat dua kartu kuning, satu diantaranya karena protes kepada wasit. Itu (protes ke wasi) jelas salah,” katanya. Apalagi dalam laga Jatim kontra Sumut, wasit yang memimpin adalah Fariq Hitaba. Dia adalah salah satu wasit Liga 1. Selain itu, laga Jatim kontra Sulawesi Selatan (27/9) juga dipimpin wasit berkualitas. Yakni wasit terbaik Liga 1 2018, Toriq Alkatiri.

- Advertisement -

Seperti diketahui, tengah jadi sorotan laga babak penyisihan grup C antara Aceh kontra Kalimantan Timur. Laga yang berjalan di Stadion Barnabas Youwe, Kabupaten Jayapura itu, dinilai janggal. Pada awal babak kedua, skor masih imbang 2-2. Jika skor itu bertahan sampai tuntas, Aceh dipastikan tersingkir. Sebab mereka cuma mengantongi satu poin dari dua laga.

Praktis, Sulawesi Utara (Sulut) yang punya tiga poin dari dua laga berhak melaju ke enam besar. Tapi, semua berubah pada menit ke 70. Bek Kaltim M. Rizky Romadhon mencetak gol bunuh diri. Bola muntah yang mengarah padanya langsung disambar ke arah gawang timnya sendiri. 

Alhasil, Aceh berhasil menutup laga dengan kemenangan 3-2 dan  lolos ke babak enam besar. Mereka unggul produktivitas gol atas Sulut. Nah, gol bunuh diri itulah membuat kubu Sulut emosi. Mereka menilai ada main mata antara Kaltim dan Aceh. “Permainan kurang sportif yang ditunjukan (Kaltim dan Aceh) membuat Sulut harus tersingkir,” kecam  ofisial tim Sulut Jeffry Talumepa. 

Pihak PB PON langsung memberi tanggapan. Ketua Bidang II PB PON Roy Letlora sudah tahu akan dugaan tersebut. Pihaknya belum bisa memastikan apakah akan ada sanksi. Sebab, belum ada bukti kalau kedua tim benar-benar main mata. “Kami harus berpikir positif dulu. PB PON akan berkoordinasi dengan panitia pertandingan. Kami tidak bisa diam,” kata Roy dalam rilisnya. 

Masalahnya, waktu untuk melakukan penyelidikan sangat mepet. Laga babak enam besar sudah akan dimulai hari ini. Bahkan, sore nanti Aceh sudah akan bermain melawan Papua di Stadion Barnabas Youwe, Kabupaten Jayapura. Kemungkinan besar laga tetap akan digelar. Pasalnya, persiapan untuk menggelar babak enam besar sudah 100 persen. 

Meski begitu, belum ada kepastian apa sanksi yang akan diberikan jika Aceh dan Kaltim terbukti main mata. Jawa Pos sudah mencoba melakukan konfirmasi kepada kedua tim. Tapi, belum ada jawaban dari pihak Aceh dan Kaltim. Pelatih Aceh Fakhri Husaini hanya menyampaikan pesan melalui aku instagram-nya. “Terima kasih kepada seluruh masyarakat Aceh atas perhatian, dukungan dan doa untuk kami semua di cabang olahraga sepak bola,” begitu tulisnya di akun instagram.(jawapos)

MANADOPOST.ID— Kejanggalan di cabang olahraga sepakbola putra PON XX Papua, diduga tak hanya terjadi di laga Kalimantan Timur (Kaltim) vs Aceh.

Dilansir Jawa Pos, Jawa Timur juga selalu ‘diuntungkan’. Skuad Jatim sudah menjalani tiga laga. Uniknya, dari tiga laga itu, tim lawan selalu bermain dengan 10 orang. Artinya, selalu ada pemain lawan yang terkena kartu merah. Apakah itu kebetulan? 

Pelatih Jatim Ruddy William Keltjes menilai tim lawan memang layak mendapat kartu merah. “Malah saat melawan Sumatera Utara (4/10) harusnya ada dua pemain mereka yang terkena kartu merah. Pemain kami ini dilanggar keras,” katanya. Dikonfirmasi terpisah, pelatih Sumatera Utara Colly Misrun tidak menganggap kartu merah yang diterima anak asuhnya sebagai sebuah kejanggalan. 

“Saya memang melihat pemain kami layak di kartu merah. Mereka dapat dua kartu kuning, satu diantaranya karena protes kepada wasit. Itu (protes ke wasi) jelas salah,” katanya. Apalagi dalam laga Jatim kontra Sumut, wasit yang memimpin adalah Fariq Hitaba. Dia adalah salah satu wasit Liga 1. Selain itu, laga Jatim kontra Sulawesi Selatan (27/9) juga dipimpin wasit berkualitas. Yakni wasit terbaik Liga 1 2018, Toriq Alkatiri.

Seperti diketahui, tengah jadi sorotan laga babak penyisihan grup C antara Aceh kontra Kalimantan Timur. Laga yang berjalan di Stadion Barnabas Youwe, Kabupaten Jayapura itu, dinilai janggal. Pada awal babak kedua, skor masih imbang 2-2. Jika skor itu bertahan sampai tuntas, Aceh dipastikan tersingkir. Sebab mereka cuma mengantongi satu poin dari dua laga.

Praktis, Sulawesi Utara (Sulut) yang punya tiga poin dari dua laga berhak melaju ke enam besar. Tapi, semua berubah pada menit ke 70. Bek Kaltim M. Rizky Romadhon mencetak gol bunuh diri. Bola muntah yang mengarah padanya langsung disambar ke arah gawang timnya sendiri. 

Alhasil, Aceh berhasil menutup laga dengan kemenangan 3-2 dan  lolos ke babak enam besar. Mereka unggul produktivitas gol atas Sulut. Nah, gol bunuh diri itulah membuat kubu Sulut emosi. Mereka menilai ada main mata antara Kaltim dan Aceh. “Permainan kurang sportif yang ditunjukan (Kaltim dan Aceh) membuat Sulut harus tersingkir,” kecam  ofisial tim Sulut Jeffry Talumepa. 

Pihak PB PON langsung memberi tanggapan. Ketua Bidang II PB PON Roy Letlora sudah tahu akan dugaan tersebut. Pihaknya belum bisa memastikan apakah akan ada sanksi. Sebab, belum ada bukti kalau kedua tim benar-benar main mata. “Kami harus berpikir positif dulu. PB PON akan berkoordinasi dengan panitia pertandingan. Kami tidak bisa diam,” kata Roy dalam rilisnya. 

Masalahnya, waktu untuk melakukan penyelidikan sangat mepet. Laga babak enam besar sudah akan dimulai hari ini. Bahkan, sore nanti Aceh sudah akan bermain melawan Papua di Stadion Barnabas Youwe, Kabupaten Jayapura. Kemungkinan besar laga tetap akan digelar. Pasalnya, persiapan untuk menggelar babak enam besar sudah 100 persen. 

Meski begitu, belum ada kepastian apa sanksi yang akan diberikan jika Aceh dan Kaltim terbukti main mata. Jawa Pos sudah mencoba melakukan konfirmasi kepada kedua tim. Tapi, belum ada jawaban dari pihak Aceh dan Kaltim. Pelatih Aceh Fakhri Husaini hanya menyampaikan pesan melalui aku instagram-nya. “Terima kasih kepada seluruh masyarakat Aceh atas perhatian, dukungan dan doa untuk kami semua di cabang olahraga sepak bola,” begitu tulisnya di akun instagram.(jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/