alexametrics
31.4 C
Manado
Minggu, 29 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Hanya Lima Klub Berani Pakai Pelatih Lokal Untuk Liga 1 Musim Depan

MANADOPOST.ID–Aji Santoso pelatih terbaik Liga 1 musim lalu, sedangkan dua dari tiga tim terdegradasi ditangani juru taktik asing. Para pemain juga diminta tak membeda-bedakan, jangan cuma disiplin kalau dilatih pelatih impor.

Indonesia sudah memiliki 20 pelatih lokal berlisensi AFC Pro. Namun, pada Liga 1 musim depan, hanya lima klub yang berani memakai tenaga pelatih lokal dan sebelas lainnya menggunakan juru taktik impor.

Jumlah pelatih asing itu bisa jadi akan bertambah jika Persikabo 1973 dan PSIS Semarang pada akhirnya juga memilih menengok ke luar negeri.

Ketua Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) Yeyen Tumena menjelaskan, mempekerjakan pelatih asing tentu tidak dilarang.

”Namun, ini bukan berarti pelatih lokal tidak berkualitas. Buktinya, pelatih terbaik pada Liga 1 edisi musim lalu adalah (pelatih Persebaya Surabaya) Aji Santoso,” tutur Yeyen saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Mantan direktur teknik Bhayangkara FC itu menerangkan, berdasar perjalanan musim lalu, pelatih lokal justru memiliki kontribusi besar untuk tim nasional Indonesia. Aji menjadikan Persebaya sebagai tim yang paling banyak menyumbangkan pemain ke skuad Garuda senior.

Sudirman bersama Persija Jakarta juga turut menyumbangkan pemain timnas. Ada juga Widodo Cahyono Putro bersama Persita Tangerang dan Rahmad Darmawan bersama Barito Putera.

”Imran Nahumarury juga turut berperan membuat fondasi di PSIS Semarang. Sehingga Pratama Arhan dan Alfeandra Dewangga menjadi pilar penting timnas,” ungkap Yeyen.

Dalam sejarah Liga Indonesia yang dimulai musim 2004–2005, perbandingan raihan gelar pelatih asing dengan lokal sebenarnya tipis saja. Hanya berselisih satu, 11 dibandingkan 10 titel.

Di sisi lain, jebolan PSSI Primavera itu menambahkan, musim lalu, tidak banyak pelatih asing yang mencetak pemain timnas. Dalam skuad timnas U-23 yang disiapkan untuk SEA Games 2021 Vietnam, misalnya, tidak ada satu pun pemain muda Bali United yang dipanggil Shin Tae-yong. Padahal, Stefano ”Teco” Cugurra sukses membawa Serdadu Tridatu –julukan Bali United– juara Liga 1.

Untuk urusan prestasi, Yeyen meminta para pelatih lokal untuk bersabar sekaligus membuktikan diri. Sebab, masih banyak pemilik klub yang belum percaya dengan kemampuan pelatih lokal. Pembuktian itu bisa dimulai dari Liga 2.

”Di Liga 2, kami sudah berhasil meminta PSSI agar kompetisi kasta kedua berjalan tanpa pelatih asing. Liga 2 menjadi wadah bagi pelatih lokal untuk memperbaiki kualitas sebelum tampil di kompetisi level tertinggi,” ungkap Yeyen.

Instruktur pelatih sepak bola AFC dan nasional Emral Abus menambahkan, pelatih asing bukan menjadi satu-satunya faktor yang membuat sebuah tim bisa menjadi juara. Bali United, misalnya.

Teco bisa membawa Serdadu Tridatu meraih back-to-back juara Liga 1 karena mendapat dukungan penuh dari manajemen. ”Teco diberi kebebasan oleh Bali United. Kerjanya tidak dicampuri pihak lain. Materi pemainnya pun mendukung, begitu pula fasilitas klub,” ungkap Emral.

Lalu, bagaimana cara agar pelatih lokal mendapat banyak tempat di Liga 1? Emral meminta para pelatih lokal untuk terus belajar. Jika menjadi asisten dari seorang pelatih asing, ilmunya harus diserap dengan baik.

”Lalu, untuk pemain lokal, jangan pernah membedakan pelatih. Kalau dilatih pelatih asing, pemain lokal disiplinnya luar biasa. Tapi, begitu ditangani pelatih lokal, kadang tidak dianggap,” ucap mantan direktur teknik PSPS Pekanbaru itu.

Hal senada dikatakan instruktur kepelatihan lainnya, Iwan Setiawan. Dia menambahkan, sulitnya pelatih lokal menguasai Liga 1 tidak terlepas dari masih kurangnya kepercayaan pemilik klub.

Pemilik klub menganggap pelatih asing lebih punya kualitas dibandingkan pelatih lokal. ’’Pelatih lokal dianggap tidak mumpuni,’’ tuturnya. Pemilik klub seharusnya punya komitmen. Tiap klub juga harus punya filosofi sendiri.(Jawapos)

MANADOPOST.ID–Aji Santoso pelatih terbaik Liga 1 musim lalu, sedangkan dua dari tiga tim terdegradasi ditangani juru taktik asing. Para pemain juga diminta tak membeda-bedakan, jangan cuma disiplin kalau dilatih pelatih impor.

Indonesia sudah memiliki 20 pelatih lokal berlisensi AFC Pro. Namun, pada Liga 1 musim depan, hanya lima klub yang berani memakai tenaga pelatih lokal dan sebelas lainnya menggunakan juru taktik impor.

Jumlah pelatih asing itu bisa jadi akan bertambah jika Persikabo 1973 dan PSIS Semarang pada akhirnya juga memilih menengok ke luar negeri.

Ketua Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) Yeyen Tumena menjelaskan, mempekerjakan pelatih asing tentu tidak dilarang.

”Namun, ini bukan berarti pelatih lokal tidak berkualitas. Buktinya, pelatih terbaik pada Liga 1 edisi musim lalu adalah (pelatih Persebaya Surabaya) Aji Santoso,” tutur Yeyen saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Mantan direktur teknik Bhayangkara FC itu menerangkan, berdasar perjalanan musim lalu, pelatih lokal justru memiliki kontribusi besar untuk tim nasional Indonesia. Aji menjadikan Persebaya sebagai tim yang paling banyak menyumbangkan pemain ke skuad Garuda senior.

Sudirman bersama Persija Jakarta juga turut menyumbangkan pemain timnas. Ada juga Widodo Cahyono Putro bersama Persita Tangerang dan Rahmad Darmawan bersama Barito Putera.

”Imran Nahumarury juga turut berperan membuat fondasi di PSIS Semarang. Sehingga Pratama Arhan dan Alfeandra Dewangga menjadi pilar penting timnas,” ungkap Yeyen.

Dalam sejarah Liga Indonesia yang dimulai musim 2004–2005, perbandingan raihan gelar pelatih asing dengan lokal sebenarnya tipis saja. Hanya berselisih satu, 11 dibandingkan 10 titel.

Di sisi lain, jebolan PSSI Primavera itu menambahkan, musim lalu, tidak banyak pelatih asing yang mencetak pemain timnas. Dalam skuad timnas U-23 yang disiapkan untuk SEA Games 2021 Vietnam, misalnya, tidak ada satu pun pemain muda Bali United yang dipanggil Shin Tae-yong. Padahal, Stefano ”Teco” Cugurra sukses membawa Serdadu Tridatu –julukan Bali United– juara Liga 1.

Untuk urusan prestasi, Yeyen meminta para pelatih lokal untuk bersabar sekaligus membuktikan diri. Sebab, masih banyak pemilik klub yang belum percaya dengan kemampuan pelatih lokal. Pembuktian itu bisa dimulai dari Liga 2.

”Di Liga 2, kami sudah berhasil meminta PSSI agar kompetisi kasta kedua berjalan tanpa pelatih asing. Liga 2 menjadi wadah bagi pelatih lokal untuk memperbaiki kualitas sebelum tampil di kompetisi level tertinggi,” ungkap Yeyen.

Instruktur pelatih sepak bola AFC dan nasional Emral Abus menambahkan, pelatih asing bukan menjadi satu-satunya faktor yang membuat sebuah tim bisa menjadi juara. Bali United, misalnya.

Teco bisa membawa Serdadu Tridatu meraih back-to-back juara Liga 1 karena mendapat dukungan penuh dari manajemen. ”Teco diberi kebebasan oleh Bali United. Kerjanya tidak dicampuri pihak lain. Materi pemainnya pun mendukung, begitu pula fasilitas klub,” ungkap Emral.

Lalu, bagaimana cara agar pelatih lokal mendapat banyak tempat di Liga 1? Emral meminta para pelatih lokal untuk terus belajar. Jika menjadi asisten dari seorang pelatih asing, ilmunya harus diserap dengan baik.

”Lalu, untuk pemain lokal, jangan pernah membedakan pelatih. Kalau dilatih pelatih asing, pemain lokal disiplinnya luar biasa. Tapi, begitu ditangani pelatih lokal, kadang tidak dianggap,” ucap mantan direktur teknik PSPS Pekanbaru itu.

Hal senada dikatakan instruktur kepelatihan lainnya, Iwan Setiawan. Dia menambahkan, sulitnya pelatih lokal menguasai Liga 1 tidak terlepas dari masih kurangnya kepercayaan pemilik klub.

Pemilik klub menganggap pelatih asing lebih punya kualitas dibandingkan pelatih lokal. ’’Pelatih lokal dianggap tidak mumpuni,’’ tuturnya. Pemilik klub seharusnya punya komitmen. Tiap klub juga harus punya filosofi sendiri.(Jawapos)

Most Read

Artikel Terbaru

/