25.4 C
Manado
Sabtu, 31 Juli 2021

Tak Instan, Inilah Kunci Sukses Swiss ke Perempat Final EURO

MANADOPOST.ID–Tiket Swiss ke perempat final Euro 2020 itu datang dari masa yang jauh: periode 1990-an. Melalui jalur pembenahan sistem latihan, melintasi pembenahan liga yang memprioritaskan para pemain muda.

Swiss Raiffeisen Super League memang tidak lantas menghasilkan juara Liga Champions atau Liga Europa.

Tapi, klub-klubnya dihuni para pemain yang rata-rata usianya 25,5 tahun, lebih muda setengah tahun dibandingkan rata-rata usia pemain di liga-liga se-Eropa. Dan, 28 persen para pemainnya merupakan hasil didikan klub sendiri, 4 persen lebih tinggi ketimbang rata-rata semua kompetisi di Benua Biru.

Liga Swiss juga tergolong minim intervensi pemain asing. Uang klub pun lebih banyak diprioritaskan untuk mendidik homegrown player. Jadilah Swiss menduduki posisi keenam negara dengan jumlah ekspatriat terbanyak yang bisa membela timnas.

Seperti ditulis Julien Gremaud dalam The Swiss Football Brand, faktor penting lainnya adalah harmoni kebinekaan etnis. Swiss secara umum terbagi ke dalam tiga kelompok besar: mereka yang berbahasa Jerman, Prancis, dan Italia. Masih ditambah imigran, umumnya dari Eropa Timur dan Afrika.

Di klub atau timnas, tak pernah ada problem terkait perbedaan tersebut. ’’Perubahan mental itu berperan penting dalam peningkatan performa tim,” tulis Gremaud.

Dampaknya pun mulai terasa di ajang level usia muda. La Nati –julukan timnas Swiss– U-17 menjuarai Piala Dunia U-17 2009, tujuh tahun setelah menjadi juara Eropa. Pada 2011, giliran La Nati U-21 yang masuk ke final Euro U-21 sebelum akhirnya kalah oleh Spanyol.

Kiprah anak-anak muda dari Pegunungan Alpen itu juga yang membuat mereka banyak dilirik. Per 2012–2013, Swiss berada di posisi kedua pengekspor pemain terbanyak per kapita ke lima liga utama Eropa. Hanya kalah oleh Uruguay, sang juara dunia dua kali.

Sejak 2006, La Nati juga selalu lolos ke turnamen mayor kecuali Euro 2012. Di tiga ajang terakhir, mereka selalu bisa melenggang ke 16 besar.
Memang selalu kandas di babak tersebut, tapi Argentina baru bisa menjebol gawang Swiss pada menit ke-118 di Piala Dunia 2014. Dua tahun kemudian, mereka tersingkir lewat adu penalti oleh Polandia. Dan, cuma kalah 0-1 oleh Swedia di Piala Dunia 2018.
Dengan rekam jejak seperti itu, dengan sebagian pilar yang telah bersama-sama sejak Piala Dunia U-17 2009 dan Euro U-21 2011, dan dengan pelatih yang telah membawa mereka lolos ke fase gugur di dua ajang sebelumnya, Swiss lebih dari sekadar kuda hitam. Mereka kekuatan yang harus diperhitungkan.
Entah Prancis termasuk yang memperhitungkan (dengan serius) atau tidak kekuatan itu. Mereka unggul 3-1 dalam duel 16 besar kemarin dini hari WIB (29/6) dan seperti menganggap pertandingan telah berakhir. Swiss menyamakan kedudukan di 10 menit akhir dan menang lewat adu penalti.
’’Saya kehabisan kata-kata,” kata Vladimir Petkovic, pelatih Swiss, dalam jumpa pers setelah pertandingan seperti dilansir situs resmi Euro 2020.
Saking dramatisnya. Tapi, tidak, Petkovic tak menganggap ini laga terbesar yang pernah dilewatinya bersama Granit Xhaka dkk. Mungkin karena dia tahu, anak buahnya masih mampu memetik buah yang lebih besar dari apa yang mereka tanam sejak jauh-jauh hari.(jawapos)
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru