32C
Manado
Kamis, 15 April 2021

Kota Ideal

MANADOPOST.ID–Tulisan ini menghiliri ketertarikan pada artikel Yudi Latif, “Jiwa Kota” (Kompas, 25 Februari 2021). Latif menggemakan erangan kepedihannya akan aktualisasi perkembangan kota-kota di Indonesia. Ia menegaskan bahwa mereka berevolusi namun geraknya “anti-teori”. Ia terinspirasi dari teori politik Platon (428/427 atau 424/423-348/347 SM), seorang filsuf besar Yunani Kuno, yakni the Republic.

Harus diakui sejak awal, tujuan Latif sama sekali tidak melayani aspek filsafat teori Platon. Apalagi judul yang ia pilih seakan lupa pada konflik teoretis yang terkandung dalam analogi kota dan jiwa. Awalnya, Platon fokus pada pertanyaan tentang keadilan. Ia mengasumsikan kota yang adil mengandaikan warganya adil. Ternyata, asosiasi ini tak sesederhana tampaknya. Entah menyadari kerumitan ini atau tidak, Latif lebih mengarahkan tulisannya pada pencarian jiwa atau karakter kota yang ideal.

Struktur kota

Latif berangkat dari inspirasi struktur kota ideal menurut Platon. Bagi Platon, kota yang ideal tunduk pada haluan rasional. Unsur nalar ini menjalari nadi setiap pemimpinnya sehingga kepemimpinannya berdasarkan pengetahuan mumpuni dalam menghadirkan keadilan dalam kota. Elemen kedua merujuk pada semangat keberanian yang membakar penegak hukum dan militernya. Selain kedua unsur ini, kelompok warga tunduk pada hukum dan kepemimpinan budi. Idealisme kota mengejawantah ketika keadilan menjelma dan dialami oleh setiap warganya. Syaratnya, setiap unsur taat fungsi dan tunduk pada kepemimpinan sang bijak.

Latif sendiri secara sangat bebas dan kreatif menginterpretasi ajaran ini. Namun, ia selaras dengan lini argumentatif ajaran ini ketika mengasumsikan bahwa ketiga unsur ini menjadi sturuktur dasar kota ideal. Strateginya setia mengabdi pada relevansi setiap unsur dalam jejak publik dan praktik tata kelola kota.

“Kepemimpinan nalar harus mengandung kekuatan penalaran yang dapat merangsang kesehatan berpikir dan kreativitas warga.” Di sini, Latif menyasar perencanaan kota berbasis nalar dan pengetahuan avant-garde. Kepemimpinan seperti ini merayakan riuhnya inovasi dan kreativitas warganya. Ia bak tanah subur bagi geliat nalar warganya demi aktualisasi diri berkualitas. Sebaliknya, ia menangisi kecenderungan silap nalar yang berujung pada “manajemen tambal sulam, mengandalkan impresi pencitraan dan politik adu domba, yang segala kelemahan dan keburukan kepemimpinan ditutupi dengan irasionalitas demogogi dan pembelaan buzzer.”

Elemen semangat sebagai unsur kedua dalam struktur kota mewujud dalam praktik kompetisi tinggi. “Bukan sekedar berani bersaing di arena pemilihan, melainkan juga kesanggupan mengerahkan segala daya guna mengatasi masalah dan mengejar ketertinggalan, meraih prestasi tinggi, serta ketabahan mempertahankan prinsip, kebijakan, dan integritas.” Interpretasi kreatif Latif kurang mengedepankan penegakan hukum dan perlindungan semesta yang membawa rasa keadilan dan ketentraman.

Unsur ketiga kota sebenarnya merujuk pada warganya yang tunduk pada kepemimpinan nalar dan ketertiban sosial-yuridis. Latif lebih mengungkap lapisan terendah dari jiwa manusia, yakni nafsu badaniah. Kedua unsur di atas menurut Latif “harus mengadung kekuatan pengungkit kenikmatan hidup warga lewat produktivitas ekonomi, kesejahteraan, dan wahana rekreasi.” Platon sendiri dalam hubungannya dengan elemen ketiga ini menegaskan supremasi moderasi dan keteraturan di tengah warganya. Segala kebutuhan menuntut pemenuhan namun kaidah moderasi tetap menaungi dan menentukan arah pemenuhannya.

Kota ideal

Menurutnya, ketercapaian keseimbangan dalam struktur internal kota ini bukan hanya menjamin hadirnya kota ideal, tapi juga membentuk karakter dan jiwa kota. Kota demikian menyerap inspirasinya dari nalar yang beradab, menata perencanaan dan pengembangannya dalam ketertiban dan rasa hormat yang pantas terhadap hukum, dan menghadirkan pemenuhan kebutuhan dasar yang pantas dan layak bagi warganya.

Dalam bukunya, Platon mengkreasi sebuah kota ideal yang dinamai Kallipolis. Ia menggambarkan kekuatan struktur internal, keseimbangan elemen, dan pengejawantahan keadilan bagi seluruh warganya. Bagi Latif, Kallipolis mewujud dalam kota “ortogenetik” berbasis “tatanan moral, keindahan dan kesejahteraan yang luhur, seperti Islam Cordova, Buddha Kyoto, Katolik Roma, dan Hindu Banaras.”

Kota riil

Bayangan kota ideal sungguh bertahta dalam khayal utopis. Latif memotret kota-kota Indonesia yang “salah urus, irasionalitas, ketidakteraturan, ketidakdisipilinan, miskin perencanaan, standar rendah, keterbelakangan, budaya jorok, disorganisasi sosial, kesenjangan sosial, dan ‘budaya’ korup, yang akhirnya bermuara pada pemberontakan alam: bajir di musim hujan, kering dan berasap saat kemarau”.

Kelemahan utamanya terungkap dalam hilangnya jiwa kota. Kota-kota berdiri bak zombie yang tak bernyawa. Label kota dan penampakannya mengalami defisit substansi sehingga tampak bangunnya tak disokong karakter kota ideal. “Kota-kota tumbuh secara ambigu tanpa karakter kuat. Ciri khas kota tradisional dunia Timur memudar, sementara rasionalitas dari kota-kota modern tak kunjung menjelma. Pembangunan infrastruktur fisik perkotaan meniru arsitektur Eropa tanpa ada aspek ideasionalnya. Di bawah gedung pencakar langit dan apartemen mewah, mentalitas “udik” bertahan, kota bak hutan beton tanpa jiwa.”

Kota nirjiwa ini menjelma dalam dua wujud warga. Kelompok pertama dihuni oleh “orang-orang kaya baru di perkotaan terbius hasrat komodifikasi dan pamer harta.” Kelompok ini cenderung digerogoti kemiskinan sipil. Mereka sering tak mampu berbagi sedikit ruang bagi pembentukan ruang publik yang layak. Kekayaan mereka justru melumpuhkan jiwa publik mereka untuk menyerahkan sepenggal tanah bagi ruang terbuka hijau. Mereka akhirnya jatuh pada “pemujaan diri” yang membelah ekosistem sosial dan menyempitkan ranah sosial.

Kota tanpa karakter ini juga melahirkan orang-orang yang kalah. Mereka “menguasai” pinggiran perkotaan. Selain tak punya banyak harapan, mereka tak punya hasrat partisipatif dalam kehidupan bersama dan pengembangan keindahan kota. Keterpinggiran membuat mereka apatis dan jauh dari tuntutan keutamaan sipil.

Epilog

Platon tidak merancang Kallipolis sebagai negara ideal untuk terwujud serta-merta dalam kehidupan nyata. Ia lebih sebagai figur pembanding, haluan ideal, dan suluh penerang bagi proses pengembangan kota. Untuk kota-kota kita yang nirjiwa, ia membangkitkan semangat perbaikan, menentukan arah gentrifikasi yang pantas, dan koreksi demi pengembangan.(*)

Artikel Terbaru